Minggu, 05 Januari 2014

Mengenal Kekayaan Sejarah Di Pandeglang


“Mengenal lebih dekat Kekayaan Tempat Sejarah di  PANDEGLANG”


Bagi yang belum mengenal tentang  beraneka ragamnya kekayaan tempat bersejarah di Pandeglang berikut ini kami tampilkan beberapa profil tempat bersejarah Bagian III di Pandeglang :
1. Wisata Ziarah di Cikadueun.


click untuk memperbesar
2. Prasasti Muruy


3. Prasasti Munjul



4. Situs Gunung Cupu


Di persimpangan Kaduhejo, tepatnya di Mengger (daerah yang agak miring, antara bukit dan lembah) terdapat dua jurusan yang berlainan arah menuju ke Kecamatan Cimanuk (Ci = air = sungai, manuk = burung) salah satu peninggalan masa silam yang dapat ditemukan di sini terdapat di salah satu bukit yang oleh masyarakat setempat disebut Gunung Cupu.
Halwany Michrob dalam Lebak Sibedug dan Arca Domas (1993), menduga Gunung Cupu sebagai punden berundak seperti halnya punden berundak di Lebak Sibedug yang terkenal di Kabupaten Lebak. Ketika dilaksanakan survey pada tahun 2007, “makam” yang terdapat pada bagian atas sudah diberi pagar oleh pengunjung.
5. Situs Batu Go’ong


Formasi Batu Goong yang mengelilingi menhir ini lazim disebut formasi “temu gelang”.

5. Situs Batu Lingga
click untuk memperbesar

6. Situs Batu Bergores Cidaresi


7. Situs Sanghyang Dengdek


Arca semacam ini dikategorikan ke dalam tipe arca megalitik yang belum menggambarkan sebuah karya seni yang tinggi. Arca megalitik ini diduga berkaitan dengan pemujaan nenek moyang, dengan anggapan bahwa arca tersebut merupakan personifikasi dari orang yang telah meninggal dan sekaligus sebagai sarana pemujaan arwah.

8. Situs Sanghyang Heuleut


9. Situs Batu Sorban


10. Situs Batu Ranjang

Dolmen Batu Ranjang ini amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang telah dikerjakan secara halus dan permukaannya rata. Dolmen ini berukuran ± 110 cm x 250 cm, disangga oleh empat buah batu setinggi 35 cm dengan pahatan pelipit melingkar. Di bawahnya terdapat pondasi yang terbuat dari batu kali untuk menahan agar batu penyangga tidak terbenam ke dalam tanah.
11. Situs Batu Trongtrong


Batu Trong Tong atau masyarakat menyebutnya sebagai batu kentongan, sekilas nampak seperti bentuk sebuah “kentongan”. Fungsi sebenarnya dari batu ini tidak diketahui secara pasti karena sudah tidak berada lagi dalam kontek budaya masyarakat pendukungnya. Namun ada banyak kemungkinan mengenai fungsi batu ini, bisa sebagai peti kubur batu atau sebagai lambang kesuburan karena bentuknya menyerupai alat kemaluan wanita.  Batu ini terbuat dari batuan beku andesit dengan tinggi ± 42 cm dan lebar ± 2 cm.
Peti Kubur batu merupakan bagian dari tradisi megalitik pada masa bercocok tanam. Pada masa ini dikenal adanya penguburan sekunder, yakni ketika jasad si mati telah tinggal tulang belulang, kemudian dipindahkan ke dalam wadah berupa peti kubur batu untuk disimpan. Sedangkan bila batu ini diasumsikan sebagai lambang kesuburan karena bentuknya seperti kemaluan wanita yang disamarkan.
Batu Trong Tong ini terdapat di Kampung Batu Ranjang, Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, kurang lebih 57 km dari Ibu Kota Provinsi Banten atau sekitar 22 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
12. Makam Syekh Mansyur


Makam Syekh Mansyur terletak di Kampung Cikadueun, Desa Cikadueun, Kecamatan Cimanuk.  Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, Syekh Mansyur berkaitan dengan riwayat Sultan Haji atau Sultan Abu al Nasri Abdul al Qahar, Sultan Banten ke tujuh yang merupakan putera Sultan Ageng Tirtayasa. Masa Pemerintahan Sultan Haji yang kooperatif dengan Belanda ini dipenuhi dengan pemberontakan dan kekacauan di segala bidang, bahkan sebagian masyarakat tidak mengakuinya sebagai sultan.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji, Sultan Haji yang asli kembali ke Banten dan mendapati kenyataan Banten sedang dalam keadaan penuh huru-hara. Untuk menghindari keadaan yang lebih buruk lagi, Sultan Haji pergi ke Cimanuk, tepatnya ke daerah Cikadueun, Pandeglang. Di Cikadueun ia menyebarkan agama Islam hingga wafat disana. Ia dikenal dengan nama Haji Mansyur atau Syekh Mansyur Cikadueun. Namun cerita seperti ini dari sisi sejarah sangat lemah, dan hanya dianggap cerita rakyat atau legenda yang mengandung nilai dan makna filosofis.
Sumber lain mengatakan, Syekh Mansyur Cikadueun adalah ulama besar yang berasal dari Jawa Timur yang hidup semasa dengan Syekh Nawawi al Bantani. Kedua tokoh tersebut terlibat langsung dalam perang Diponegoro pada tahun 1825 – 1830. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, Syekh Mansyur dikejar oleh belanda dan akhirnya menetap di Kampung Cikadueun, Syekh Nawawi kembali lagi ke Mekkah.
Kepurbakalaan yang terdapat di komplek makam Syekh Mansyur Cikadueun ini hanyalah batu nisan pada makam Syekh Mansyur yang tipologinya menyerupai batu nisan tipe Aceh. Nisan ini memiliki bentuk dasar pipih, bagian kepala memiliki dua undakan, makin ke atas makin mengecil. Pada bagian atas badan nisan terdapat tonjolan berbentuk tanduk. Hiasan berupa sulur daun dan tanaman terdapat hampir di seluruh badan nisan tanpa ragam hias kaligrafi.

Tidak ada komentar: