Senin, 09 Mei 2016

Biografi KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten

KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten3Biografi KH Muhammad Dimyati © KH Muhammad Dimyati atau dikenal dengan Abuya Dimyati adalah sosok yang kharismatis. Beliau dikenal sebagai pengamal tarekat Syadziliyah dan melahirkan banyak santri berkelas. Mbah Dim begitu orang memangilnya.

Nama lengkapnya
Muhammad Dimyati bin Syaikh Muhammad Amin. Dikenal sebagai ulama yang sangat kharismatik. Muridnya ribuan dan tersebar hingga mancanegara. Abuya dimyati orang Jakarta biasa menyapa, dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak kenal menyerah. Hampir seluruh kehidupannya didedikasikan untuk ilmu dan dakwah.
Menelusuri kehidupan ulama Banten ini seperti melihat warna-warni dunia sufistik. Perjalanan spiritualnya dengan beberapa guru sufi seperti Kiai Dalhar Watucongol. Perjuangannya yang patut diteladani. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim sosok sesepuh yang sulit tergantikan. Lahir sekitar tahun 1919 dikenal pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang disegani.
Abuya Dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah. Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.
Tidak salah kalau sampai sekarang telah mempunyai ribuan murid. Mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup , pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Bahkan Mbah Dim mempunyai majelis khusus yang namanya Majelis Seng. Hal ini diambil Dijuluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat pengajian sebagian besar terbuat dari seng. Di tempat ini pula Abuya Dimyati menerima tamu-tamu penting seperti pejabat pemerintah maupun para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari semenjak kebakaran hingga sampai wafatnya.
Lahir dari pasangan H.Amin dan Hj. Ruqayah sejak kecil memang sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya. Beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren seperti Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang. Kemudian ke pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna disamping sebagai pakunya negara Indonesia. Setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’. Karena, kewira’iannya di setiap pesantren yang disinggahinya selalu ada peningkatan santri mengaji.
Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten.
Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali!
Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir adalah, dimana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga karena banyak kyai di Indonesia paling jauh mereka ziarah adalah maqam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga maqam bertanya padanya, “darimana kamu (Bahasa Arab)”.
si Kyai menjawab, “dari Indonesia”.
maka penjaganya langsung bilang, “oh di sini ada setiap malam Jum’at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, beliau membaca al-Qur’an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka.”
Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam Jum’at agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati. Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya).
Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.
Abuya Dimyathi menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keulamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadits nabi al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi.
Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. Ahmad Munir berpendapat bahwa ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Alam Spritual
Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyati ini menempuh jalan spiritual yang unik. Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar. Hal inipun diterapkan kepada para santri. Dikenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi, tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca al Quran.
Bagi Abuya hidup adalah ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul 6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul: 24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail hingga subuh.
Di sisi lain ada sebuah kisah menarik. Ketika bermaksud mengaji di KH Baidlowi, Lasem. Ketika bertemu dengannya, Abuya malah disuruh pulang. Namun Abuya justru semakin menggebu-gebu untuk menuntut ilmu. Sampai akhirnya kiai Khasrtimatik itu menjawab, “Saya tidak punya ilmu apa-apa.”
Sampai pada satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH Baidlowio pun menjawab,”Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitu pula dengan selawat, silahkan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri dari dzikir dan selawat.” Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH Baidlowi. Pada akhirnya Kiai Baidlowi menyuruh Abuya untuk sholat istikharah. Setelah melaksanakan sholat tersebut sebanyak tiga kali, akhirnya Abuya mendatangi KH Baidlowi yang kemudian diijazahi Thariqat Asy Syadziliyah.

Abuya Dimyati Dipenjara
Mah Dim dikenal seagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya. Sampai-sampai karena keteguhannya ini pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Hal ini disebabkan Abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah ketika terjadi pemilu tahun tersebut. Abuya dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya pun dijatuhi vonis selama enam bulan. Namun empat bulan kemudian Abuya keluar dari penjara.
Ada beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang hizib Nashr dan hizib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/1959 M. Kemudian kitab Ashlul Qodr yang didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr. Tercatat pula kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hizib Nashr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hizib Nashr. Selanjutnya kitab Bahjatul Qolaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul Al Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah.

Abuya Dimyati Dan Mbah Latifah El Dalhar
Ada cerita-cerita menarik seputar Abuya dan pertemuannya dengan para kiai besar. Disebutkan ketika bertemu dengen Kiai Dalhar Watucongol Abuya sempat kaget. Hal ini disebabkan selama 40 hari Abuya tidak pernah ditanya bahkan dipanggil oleh Kiai Dalhar. Tepat pada hari ke 40 Abuya dipanggil Mbah Dalhar. “Sampeyan mau apa jauh-jauh datang ke sini?” tanya kiai Dalhar.
Ditanya begitu Abuya pun menjawab, “Saya mau mondok mbah.”
Kemudian Kiai Dalhar pun berkata, ”Perlu sampeyan ketahui, bahwa disini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Dari pada sampeyan mondok di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam.”
Mendengar jawaban tersebut Abuya Dimyati menjawab, ”Tujuan saya ke sini adalah untuk mengaji, kok saya malah disuruh pulang lagi? Kalau saya disuruh mengarang kitab, kitab apa yang mampu saya karang?”
Kemudian Kiai Dalhar memberi saran,”Baiklah, kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkanlah ilmu sampeyan kepada santri-santri yang ada di sini dan sampeyan jangan punya teman.” Kemudian Kiai Dalhar memberi ijazah tareqat Syadziliyah kepada Abuya.

Karomah Abuya Dimyati
Salah satu cerita karomah yang diceritakan Gus Munir adalah, dimana ada seorang kyai dari Jawa yang pergi ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani di Irak. Ketika itu, kyai tersebut merasa sangat bangga karena tak banyak kyai di Indonesia yang mengunjungi Irak, paling jauh mereka ziarah adalah makam Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi dia dapat menziarahi sampai ke Maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. ketika sampai di maqam tersebut, maka penjaga makam bertanya padanya, “darimana kamu (Bahasa Arab)”.
Si Kyai menjawab, “dari Indonesia”.
Maka penjaganya langsung bilang, “oh di sini ada setiap malam Jum’at seorang ulama Indonesia yang kalau datang ziarah dan duduk saja depan maqam, maka segenap penziarah akan diam dan menghormati beliau, beliau membaca al-Qur’an, maka penziarah lain akan meneruskan bacaan mereka.”
Maka Kyai tadi kaget, dan berniat untuk menunggu sampai malam Jum’at agar tahu siapa sebenarnya ulama tersebut. Ternyata pada hari yang ditunggu-tunggu, ulama tersebut adalah Abuya Dimyati.
Maka kyai tersebut terus kagum, dan ketika pulang ke Jawa, dia menceritakan bagaimana beliau bertemu Abuya Dimyati di maqam Syeikh Abdul Qadir al-Jailani (ketika itu Abuya masih di pondok dan mengaji dengan santri-santrinya).
Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Kalau melihat wajah beliau terasa ada perasaan ‘adem’ dan tenteram di hati orang yang melihatnya.

Abuya Dimyati Wafat
Abuya Dimyati meninggalkan kita semua pada Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun. Semoga amal ibadah beliau di terima oleh Allah SWT dan semoga kesalahan-kesalahan beliau juga di ampuni oleh Allah SWT. Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…. Semoga blog kumpulan biografi ulama ini bisa bermanfaat umumnya untuk Anda dan khususnya untuk saya pribadi.

KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten4KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten5KH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang BantenKH Muhammad Dimyati (Mbah Dim) Pandeglang Banten2

Minggu, 01 Mei 2016

Perjalanan Maulana Hasanuddin Menuju Banten

Pada Suatu hari Syarif Hidayatullah yang terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati berucap kepada putranya “Hai Anakku Hasanuddin, sekarang pergilah engkau dari Cirebon dan carilah negeri yang penduduknya belum memeluk Islam”. Lalu setelah mendengar titah orang tua beliau, maka berangkatlah beliau seorang diri ke arah barat.
Setelah setengah perjalanan, beliau mendaki gunung Munara Rumpin yang terletak diantara Bogor dan Jasinga. Dan beliau bermunajat selama 14 hari meminta kepada Allah SWT supaya mendapat petunjuk. Dalam munajatnya datanglah sang ayah Sunan Gunung Jati lalu berucap “Hai anakku Hasanuddin, turunlah engkau dari Gunung Munara dan berjalanlah engkau ke arah barat ke Gunung Pulosari, yaitu negeri Azar”. Negeri Azar adalah negerinya Pucuk Umun yang dinamai Ratu Azar Domas. Lalu pergilah ke Gunung Karang yaitu negerinya Azar. Setelah berbicara ayahanda beliau kembali ke Cirebon.
Setelah mendapat petunjuk, akhirnya beliau-pun turun gunung dan akhirnya berhenti di negeri Banten Girang yakni di sungai Dalung. Disana adalah tempat bersemedinya Ki Ajar Jong dan Ki Ajar Ju, beliau berdua adalah saudara Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran. Ratu Pakuan dinamai Dewa Ratu dan Ratu Pajajaran dinamai Prabu Siliwangi. Sebelumnya Ki Ajar Ju dan Ki Ajar Jong telah diberi mimpi bertemu dengan Maulana Hasanuddin dan kemudian memeluk Islam dalam mimpi mereka berdua. Maka, sesampainya Maulana Hasanuddin di Banten Girang dan duduk disisi sungai Dalung, keluarlah Ki Ajar Jong dan Ki Ajar Ju dari dalam Gua tempat pertapaan beliau berdua, lalu bersalaman dan mencium tangan Maulana Hasanuddin setelah bercerita akhirnya beliau berdua diajari membaca syahadat oleh Maulana Hasanuddin dan keduanya bertekad bulat memeluk Islam.
Akhirnya oleh Maulana Hasanuddin kedua santrinya ini diganti namanya dari Ajar Jong menjadi Mas Jong dan Ajar Ju diganti menjadi Agus Ju dan Maulana Hasanuddin-pun memberikan arahan kapada keduanya apabila memiliki keturunan maka diharapkan keduanya memberikan ciri dalam nama keturunan keduanya. Kepada Mas Jong, Maulana Hasanuddin berkata “Apabila suatu saat kamu mempunyai anak, maka berilah nama anak laki-lakimu yang tertua dengan tambahan Mas dan yang termuda Entul dan apabila memiliki anak perempuan berilah nama Nyi Mas”. Dan kepada Agus Ju, Maulana Hasanuddin berkata “Apabila kelak satu saat kamu mempunyai anak, maka berilah tambahan pada nama anak laki-lakimu yang tertua Ki Agus dan yang termuda Ki Entul dan apabila memiliki anak perempuan berilah nama Nyi Ayu”. Demikianlah sejarah keturunan nyi mas, nyi ayu, entul, ki agus dan mas yang berasal dari keturunan santri Maulana Hasanuddin ini.
Selanjutnya Mas Jong dan Agus Ju diperintah oleh Maulana Hasanuddin untuk menaklukkan Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran, maka berangkatlah Mas Jong dan Agus Ju sesuai titah Maulana Hasanuddin.
Penaklukan Pucuk Umun
Ditempat berbeda Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran telah mengetahui akan kedatangan saudara-saudara mereka yang akan menaklukkan mereka, maka sebelum Mas Jong dan Agus Ju datang, Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran kabur dari tempat semedi dan berkumpul ke Gunung Pulosari tempat Pucuk Umun berada. Setibanya ditempat semedinya Ratu Pakuan dan Ratu Pajajaran, Mas Jong dan Agus Ju-pun tidak mendapati Ratu Pakuan atau Ratu Pajajaran berada di tempat semedi keduanya, maka Mas Jong dan Agus Ju-pun kembali ke Banten Girang untuk menemui Maulana Hasanuddin dan melaporkan bahwa Ratu Pakuan atau Ratu Pajajaran tidak ada dan telah menghilang dari tempat semedi keduanya. Mendengar laporan dari keduanya tentang keberadaan Ratu Pakuan atau Ratu Pajajaran yang tidak di ketahui. Maulana Hasanuddin pun berkata kepada santri beliau ini “Mari kita datangi saja ke Gunung Pulosari, kalian ikuti langkahku”. Maka keduanya-pun mengikuti seperti apa yang disarankan Maulana Hasanuddin kepada mereka bedua.
Maka berangkatlah mereka bertiga menuju Gunung Pulosari, Di Gunung Pulosari ditempat Pucuk Umun berada,  Pucuk Umun telah mengetahui bahwa Maulana Hasanuddin dan santrinya berencana mengislamkan Pucuk Umun dan teman-teman. Maka bermusyawarahlah Pucuk Umun bersama rekan-rekannya, setelah bermusyawarah Pucuk Umun pun duduk di atas batu putih tempat bersemedinya di Kandang Kurung yang ditemani oleh Ajar Domas Kurung Dua. Maka tibalah Maulana Hasanuddin ke Kandang Kurung dan menemui Pucuk Umun yang sedang duduk, berkatalah Maulana Hasanuddin “Hai Pucuk Umun, Saya datang kemari mau menaklukkan kamu, sekarang kamu semua Islam-lah, masuklah kamu ke agama  Nabi (Muhammad SAW), berucaplah kalian semua Dua Kalimat (Syahadat)”. Lalu berkata-lah Pucuk Umun “Tuan, Saya belum tunduk ke agama Nabi (Muhammad SAW) dan saya belum takluk kepada tuan apabila belum kalah dalam tarung kesaktian, sehingga apabila saya kalah kesaktian maka saya baru takluk kepada tuan”. Mendengar  tantangan Pucuk Umun tersebut, Mualana Hasanuddin-pun berkata “Silahkan engkau pilih tarung kesaktian apa yang engkau inginkan?”. “baiklah, saya ingin tarung kesaktian dengan tarung ayam” ujar Pucuk Umun. Akhirnya disetujuilah permintaan Pucuk Umun tersebut oleh Maulana Hasanuddin, akhirnya mereka-pun mencari arena yang luas untuk tarung kesaktian, dan didapatilah suatu lahan yang berada di wilayah Waringinkurung yaitu disuatu kebon yang rata yang disebut Tegal Papak.
Selanjutnya Pucuk Umun dan para Ajar istidroj dan membuat ayam jago yang terbuat dari besi, baja, dan pamor yang terbuat dari sari baja dan rosa. Akhirnya jadilah barang-barang tersebut seekor ayam jago yang memiliki raut mirip jalak rawa. Dilain tempat Maulana Hasanuddin bermunajat kepada Allah SWT. Memohon pertolongan untuk mengalahkan dan menaklukkan Pucuk Umun, agar Pucuk Umun dan para Ajarnya memeluk agama Nabi Muhammad SAW. Dengan kekuasaan Allah SWT. Maka datanglah jin dan atas keinginan Maulana Hasanuddin berubahlah jin tersebut menjadi seekor ayam jago dan memiliki raut mirip jalak putih.
Setelah siap maka Maulana Hasanuddin yang diikuti kedua muridnya Mas Jong dan Agus Ju serta para jin yang membawa palu yang terbuat dari besi magnet berangkat menuju tempat pertandingan. akhirnya rombongan Maulana Hasanuddin-pun sampai di Tegal Papak pada hari Selasa, disana rombongan dan pengikut Pucuk Umun telah berada ditempat menunggu kedatangan Maulana Hasanuddin. Setelah berjumpa keduanya, maka Pucuk Umun berkata kepada Maulana Hasanuddin “Tuan, inilah ayam jago saya, apabila kalah kami sanggup takluk kepada tuan”. “Saya pun demikian, apabila kalah dengan ayam jago mu, saya akan menghamba kepadamu” balas Maulana Hasanuddin.
Lalu bertarunglah ayam jago Pucuk Umun dan ayam jago Maulana Hasanuddin, gemuruh senangpun datang dari Pucuk Umun dan Ajarnya. Serangan ayam jago Pucuk Umun seperti suara guntur, tepuk tangan dan rasa riang menyelimuti rombongan Pucuk Umun yang meyakini bahwa ayam jago mereka bakal memenangkan pertarungan. namun meski serangan bertubi-tubi dilancarkan oleh ayam jago Pucuk Umun kepada ayam jago Maulana Hasanuddin,  ayam jago Maulana Hasanuddin tidak surut dan terus berusaha mengalahkan ayam jago Pucuk Umun. Disatu waktu akhirnya ayam jago Maulana Hasanuddin mampu menghancurkan ayam jago Pucuk Umun menjadi debu. Melihat kekalahan ayam jago Pucuk Umun, gemuruh senang dan tepuk tanganpun berhenti menjadi sepi senyap. Selanjutnya kembali pulanglah Ajar dan juga ayam jago yang hancur tadi mewujud seperti asalnya menjadi besi pamor dan baja. Sementara para Ajar Domas masuk Islam dihadapan Maulana Hasanuddin dan membaca dua kalimat syahadat disaksikan Maulana Hasanuddin.
sementara itu, Pucuk Umun yang telah dikalahkan berkata kepada Maulana Hasanuddin “Tuan, saya belum takluk kepada tuan karena masih banyak kesaktian saya, apabila telah habis barulah saya takluk”. mendengar tantangan Pucuk Umun, Maulana Hasanuddinpun membalas “keluarkan semua kesaktianmu saat ini, saya ingin tahu kemampuanmu”. akhirnya Pucuk Umun pun terbang dan hilang dari penglihatan Maulana Hasanuddin. selanjutnya dari balik mega Pucuk Umun memanggil nama Maulana Hasanuddin. mendengar panggilan Pucuk Umun, Maulana Hasanuddin berkata kepada kedua santrinya “Hai Mas Jong dan Agus Ju, datangilah Pucuk Umun yang berada di balik mega dan pukullah sekalian” lalu berangkatlah Mas Jong dan Agus Ju ke atas awan, saat akan dipukul oleh Mas Jong dan Agus Ju, Pucuk Umun pun menjerit dan menghilang lagi. Melihat hal demikian, Maulana Hasanuddin berkata kepada kedua santrinya  “Dengan ridho Allah SWT. Pucuk Umun jadilah kafir iblis laknaktullah, tidak ingin masuk Islam, kamu berdua pulanglah”. maka turunlah kedua santri tersebut dari langit, setelah berkumpul berangkatlah rombongan Maulana Hasanuddin, Mas Jong dan Agus Ju yang diikuti juga oleh para Ajar Domas dari Tegal Papak menuju Gunung Pulosari.
Penaklukan Ratu Darah Putih
Sesampainya rombongan Maulana Hasanuddin di Gunung Pulosari, Sunan Gunung Jati datang menghampiri Maulana Hasanuddin dan berucap “Hai anakku Hasanuddin, mari kita pergi haji ke Makkah, karena sekarang adalah hari haji”. Selanjutnya Maulana Hasanuddin dibungkus selendang Sunan Gunung Jati. berangkatlah Sunan Gunung Jati dan Maulana Hasanuddin menuju Makkah Al-Mukarromah meninggalkan Mas Jong dan Agus Ju beserta para Ajar Domas di Gunung Pulosari.
Di Makkah Maulana Hasanuddin melaksanakan towaf dan diajarkan thoriqat Syathariyah, lalu berangkat ke Madinah. setelah selesai melaksanakan haji, Maulana Hasanuddin kembali ke Gunung Pulosari beserta ayahanda beliau.
Setelah Maulana Hasanuddin menjalankan ibadah haji, terdengar kabar kematian beberapa penjaga Banten yaitu Pucuk Umun di Jung Kulon, Dewa Ratu di Panahitan, Prabu Langkarang di Tanjung Tua, Prabu Langka Wastu di Gunung Raja Basa, Prabu Langgawana di Gunung Lor, Prabu Mundaeng Kalangon di Puncak Gunung Karang, Brama Kendala di Gunung Pulosari, Sida Sakti di Gunung Tanjung Pujut, Prabu Mundaiti di Gunung Kendeng, Prabu Lengkang Klincang Kangkaring di Gunung Karawang. dari sekian Ajar yang meninggal yang masuk Islam dan kekal dalam Islamnya yaitu berjumlah 486 orang Ajar.
Setelah pulang dari Makkah bersama ayahanda Sunan Gunung Jati, Sunan Gunung Jati memberikan titah kepada Maulana Hasanuddin “Hai anakku, carilah negara setengahnya adalah lautan”. Maka, Maulana Hasanuddin pun mengikuti titah ayah beliau, Maulana Hasanuddin kembali ke Banten Girang diikuti oleh Mas Jong dan Agus Ju beserta para Ajar. Sesampainya di Banten Girang Maulana Hasanuddin mengumpulkan seluruh pengikutnya, lalu Maulana Hasanuddin berkata “Sekarang tunggulah kalian semua disini (Banten Girang), karena saya hendak berkeliling bersama santri dua ini yaitu Mas Jong dan Agus Ju” setelah berkata demikian, Maulana Hasanuddin beserta Mas Jong dan Agus Ju meninggalkan para Ajar di Banten Girang.
Selanjutnya Maulana Hasanuddin berjalan dari Banten Girang ke arah Selatan, lalu mengikuti pesisir selatan ke arah UJung Kulon, lalu ke Penahitan tanpa menggunakan perahu lagi. sesampainya ditengah-tengah dari Jung Kulon, Maulana Hasanuddin berkata kepada kedua santrinya “Menyelamlah kamu ke dalam lautan, ambilah Gong Kaleng” maka menyelamlah kedua dan berhasil mendapatkan Gong Kaleng. setelah mengangkat Gong Kaleng, Maulana Hasanuddin turun dari Panahitan dan melanjutkan ke Pulau Semangka terus ke Sidebu dan melanjutkan ke Bangka Hulu (Bengkulu) dan dilanjutkan ke Pulau Sulaibar lalu ke Malangkabu. di Malangkabu Maulana Hasanuddin berjumpa dengan Raja Malangkabu, dari sana beliau melanjutkan perjalanan ke arah Utara mengikuti pesisir hingga sampailah di Sirem negerinya Ratu Darah Putih Tanah Liat. disana Ratu Darah Putih sudah mendapat isyarat dari Allah SWT. agar masuk Islam dan akan datang kepadanya Seorang Waliyullah. Ratu Darah Putih akhirnya dapat bertemu dengan Maulana Hasanuddin di tengah laut, Ratu Darah Putih-pun Masuk Islam dan diajarkan dua kalimat syahadat oleh Maulana Hasanuddin. setelahnya masuk Islam Ratu Darah Putih diserahi oleh Maulana Hasanuddin untuk mengislamkan seluruh penduduk Lampung dan kepadanya diperintah menanam Merica di tanah Lampung. akhirnya keduanyapun berpisah Ratu Darah Putih pulang dan mengislamkan penduduk Lampung, sementara Maulana Hasanuddin kembali ke Timur menuju Karawang, dari Karawang Maulana Hasanuddin melanjutkan perjalanannya ke arah Selatan melewati hutan hingga sampai  di Bogor Utara, lalu kembali kearah Barat melewati hutan dan sampai di Ujung Kulon dari Ujung Kulon kembali pulang ke Banten Girang hingga menetaplah Maulana Hasanuddin di Banten Girang.
Pengangkatan Maulana Hasanuddin menjadi Sultan Banten Pertama
Setelah menetap di Banten Girang, Maulana Hasanuddin berucap kepada Mas Jong dan Agus Ju agar menempatkan masyarakatnya dan mendirikan perkampungan Banten. Maka keduanya pun segera melaksanakan titah Maulana Hasanuddin membuka dan membersihkan hutan dan pegunungan untuk didirikan perkampungan-perkampungan dan keduanya mengajak masyarakat untuk menempati hutan dan pegunungan yang sudah dibersihkan tersebut. Setelah selesai dengan tugasnya Mas Jong dan Agus Ju pun akhirnya kembali ke Banten Girang melaporkan tugas yang telah dilaksanakannya kepada Maulana Hasanuddin.
Suatu hari Maulana Hasanuddin berangkat dari Banten Girang menuju ke arah Utara mengikuti jalan pesisir Banten Serang, dan terus berjalan di atas laut diiringi oleh kedua santrinya Mas Jong dan Agus Ju. Ketika sampai di tengah lautan mereka sholat dua rakaat, setelah selesai dari sholatnya maka lautpun kering dan menjadi daratan, maka duduklah Maulana Hasanuddin di atas batu gilang (batu yang berwarna hitam pekat) yang ada di pancaniti (aula), yaitu disifati negri di jajaloka (Jayaloka) negri Surosoan. Disitulah Maulana Hasanuddin mendirikan keraton yang dinamai Kipanggang rupanya seperti tempat panggangan ikan pari.
Setelah keraton selesai didirikan. Maka sang ayah Syarif Hidayatullah datang dan memberikan kabar kepada Maulana Hasanuddin bahwa Pangeran Ratu (Ratu Ayu Kirana) ibunda dari Ratu Pembayun, Pangeran Yusuf, Pangeran Arya, Pangeran Sunyararas, Pangeran Pajajaran, Pangeran Pringgalaya, Ratu Agung atau Ratu Kumadaragi, Pangeran Maulana Magrib dan Ratu Ayu Arsanengah ini telah ditetapkan sebagai Sultan di Demak oleh Maulana Syarif Hidayatullah. Maka menjadi ketetapan Maulana Syarif Hidayatullah juga kalau Maulana Hasanuddin menjadi Sultan di Banten. Setelah Maulana Syarif Hidayatullah selesai mengutarakan tujuannya tanpa menunggu lama Maulana Syarif Hidayatullah berangkat kembali menuju Cirebon.
Maka jadilah Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama, dan tugas pertama yang dilaksanakan oleh Maulana Hasanuddin adalah mendirikan Masjid Agung Banten, dan dalam titahnya sebagai Sultan Maulana Hasanuddin menugaskan Indra Kumala penjaga Gunung Karang yang bertempat tugas di Sumur Tujuh, Manik Kumala ditugaskan menjaga pemandian sungai Banten, Mas Jong ditugaskan menjaga Pintu Merah (Lawang Abang) di dalam istana sebelah kanan, dan Agus Ju ditugaskan menjaga pintu Utara. 
Demikian kisah perjalanan Maulana Hasanuddin di negeri Banten semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya oleh kita. Amin

Sejarah Kiai Haji Abdul Lathif Cibeber


Kiai Haji Abdul Latif adalah sosok ulama Cilegon yang harismatik dan sangat disegani oleh beberapa  kalangan, mulai dari kalangan pesantren, ulama, dan pejabat, sampai lapisan masyarakat terbawah sangat menghargai beliau. Kepribadian beliau yang rendah hati penuh dengan sifat tawaddu dan tidak banyak bicara menambah tinggi simpati masyarakat terhadap beliau.

Kiai Haji Abdul Latif yang lahir pada tahun 1878 M atau bertepatan tahun 1299 H ini. berasal dari keturunan ulama besar, ayahanda beliau Kiai Haji Muhammad Ali adalah ulama yang juga pejuang, kakek beliau Kiai Haji Said juga adalah ulama terpandang dan terkenal karena karomahnya, dan juga beliau keturunan ke-10 dari Nakhoda Bergos yang makamnya terletak di kampung Panakodan, Kelurahan Bulakan, kecamatan Cibeber. Juga keturunan ke-11 dari Syeh Mansyur Cikaduen, Pandeglang.

Sewaktu kecil beliau tinggal di rumah orang tua beliau di kampung Pakisaji Kelurahan Bulakan, Kecamatan Cibeber. Dalam usia kanak-kanak tersebut dalam diri beliau telah tertanam jiwa Kiai Haji Muhammad Ali, jiwa seorang pejuang kemerdekaan. Dikisahkan bahwa Kiai Haji Muhammad Ali adalah salah seorang pejuang kemerdekaan pada perang Geger Cilegon. dalam peperangan melawan kompeni Belanda tersebut  Kiai Haji Muhammad Ali  tertangkap oleh kompeni Balanda dan diasingkan ke Dagul dan selanjutnya dibuang ke Ambon tepatnya di Bontaen dan wafat di sana pada tahun 1898 dan dimakamkan di Ambon di Puncak Ali.

Setelah menginjak usia remaja Kiai Haji Abdul Latif pindah mengikuti ibunda beliau ke kampung Cibeber. Pada waktu itu ibunda beliau, Hajjah Usmah telah diperistri oleh Kiai Haji Hasanudin.

Awalnya Hajjah Usmah yang telah mengetahui suaminya Kiai Haji Muhammad Ali tertangkap oleh pihak kompeni Belanda menunggu kepastian tentang keberadaan Kiai Haji Muhammad Ali. Namun sepanjang waktu berjalan tak jua kunjung datang kabar berita sedikitpun tentang keberadaan Kiai Haji Muhammad Ali. Dalam penantian yang tak pasti ini, Hajjah Usmah dipinang oleh Kiai Haji Hasanudin. Karena Hajjah Usmah tak juga menerima kabar berita tentang keberadaan Kiai Haji Muhammad Ali, dan perlunya Kiai Haji Abdul Latif kecil mendapatkan bimbingan dan pengetahuan untuk melanjutkan cita-cita Kiai Haji Muhammad Ali. Maka, barulah Hajjah Usmah menerima pinangan dari Kiai Haji Hasanudin dan akhirnya Hajjah Usmah dan Kiai Haji Abdul Latif pun dibawa pindah oleh Kiai Haji Hasanuddin ke Cibeber.

Di Cibeber, Kiai Haji Abdul Latif lebih banyak menuntut ilmu ke ulama-ulama besar di lingkungan Cibeber. Sebelumnya beliau telah mendapat didikan dan bimbingan dari ayahanda beliau Kiai Haji Muhammad Ali dan juga dari ayah tiri beliau Kiai Haji Hasanudin. Beliau banyak menuntut ilmu ke ulama-ulama Cibeber diantaranya Kiai Haji As’ad (atau disebut Ki Buntung seorang ulama besar yang telah membangun menara Masjid Agung Cibeber), Kiai Haji Asnawi, Kiai Haji Suhari Taif, dan juga beliau mendapat didikan dari Kiai Haji Abdul Halim.

Kiai Haji Abdul Halim adalah rekan seperjuangan kiai Haji Muhammad Ali sewaktu berjuang melawan kompeni Belanda dalam Geger Cilegon. diantara rekan-rekan seperjuangan Haji Muhammad Ali dan Haji Abdul Halim yang juga ikut serta dalam Geger Cilegon adalah ; Haji Qosid (yang terkenal dengan julukan Ki Wasid) bin Haji Wahiya, Haji Buraq, Haji Tubagus Ismail bin Haji Muhiyi bin Haji Abdul Latif bin Eyang Urip (Gulacir), Haji Said (Jaha), Haji Sapiudin (Leuwibeureum), Haji Madani (Ciora), Haji Akhia  (Jombang Wetan), Haji Mahmud (Terate Udik), Haji Iskak (Saneja), Haji Muhammad Arsad (Penghulu Kepala di Serang) dan Haji Tubagus Kusen (Penghulu Cilegon). Ulama-ulama tersebut ikut serta melawan kompeni Belanda yang sudah membuat gerah kalangan ulama, santri, dan masyarakat. Permasalahan yang pertama timbul dari kejadian Geger Cilegon yang berakhir dengan terpisahnya Haji Abdul Latif kecil dengan ayahandanya Haji Muhammad Ali adalah dikarenakan tindak-laku kompeni Belanda yang sudah semena-mena dan menghina Islam. Diantara keseme-menaan pihak kompeni Belanda yang membuat emosi ulama dan santri memuncak yaitu tindakan yang dilakukan oleh Goebel, seorang Asisten Residen kompeni Belanda yang menghancurkan menara langgar Jombang Wetan. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara adzan yang dikumandangkan dari menara. Selain itu Goebel juga melarang Shalawat, Tarhim, dan Adzan dilakukan dengan suara keras.

Kelakuan kompeni inilah yang pada akhirnya terjadi pemberontakan dan tragedi berdarah yang terkenal dengan sebutan Geger Cilegon. Geger Cilegon terjadi pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum dengan memekikkan Takbir oleh para ulama dan santri-santrinya dan menyerbu ke beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas juru tulis Kantor Asisten Residen dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka terbunuh dalam serangan ulama dan santri. Setelah kematian beberapa petinggi kompeni Belanda yang berada di wilayah Cilegon, akhirnya Cilegon dapat dikuasai oleh para pejuang “Geger Cilegon”.

Mendengar pemberontakan yang terjadi di Cilegon yang dilakukan oleh ulama, santri. Maka, 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy dikirim ke Cilegon dan menyerbu pos-pos ulama dan santri. Terjadilah pertempuran hebat antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan oleh kompeni Belanda. Haji Muhammad Ali ditangkap dan dibuang ke Ambon, sementara pimpinan perang Geger Cilegon Kiai Haji Wasid dihukum gantung. Dan rekan-rekan seperjuangan Kiai Haji Muhammad Ali diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad Thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, dan lain-lain. (Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang).

Kiai Haji Abdul Latif pada waktu terjadi peperangan tersebut masih kanak-kanak berusia sekitar 10 tahun. Namun sudah mengerti apa yang terjadi dan yang dilakukan oleh ayahanda beliau yakni membela agama dan hak asasi manusia atas kemerdekaan dari penjajahan dan kesewenang-wenangan bangsa Eropa. 

Kiai Haji Abdul Latif semasa dalam pertumbuhannya menjadi seorang remaja beliau tidak hanya menuntut ilmu di ulama-ulama Cibeber, namun beliaupun banyak menuntut ilmu ke beberapa ulama di wilayah Banten dan Madura; diantaranya Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin - Banten atau yang terkenal dengan sebutan Ki Asnawi Caringin murid Syeikh Nawawi Al-Bantani, Kiai Abdul Karim Tanara, Kiai Abdul Kholil Bangkalan Madura, dan banyak lagi ulama-ulama yang telah memberikan pengetahuan keilmuan agama kepada Kiai Haji Abdul Latif.

Semasa muda beliau sempat bermukim di Makkah, Saudi Arabia. untuk beberapa tahun dan mempelajari ilmu-ilmu agama ke ulama-ulama di kawasan Timur Tengah. Setelah sekian lama bermukim dan menuntut ilmu di negeri tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kiai Haji Abdul Latif-pun akhirnya kembali ke Tanah Air. Ini dilakukan karena saran dari guru-guru beliau dan perhatian beliau terhadap pendidikan agama di Tanah Air, khususnya Cilegon. karena melihat masyarakat Cilegon yang membutuhkan pemahaman agama Islam. Maka, menjadi dorongan dan niatan paling kuat untuk Kiai Haji Abdul Latif pulang ke Tanah Air.

Pada saat beliau sudah mapan beliaupun menikah dengan Hajjah Solhah binti Haji Sapta. Hajjah Solhah ini terkenal dengan kesabaran dan ketabahannya. Dari pernikahan pertama ini beliau dikaruniai dua orang putra dua orang putri, yakni ; Kiai Haji Abdul Muhaimin, Hajjah Aisyah, Hajjah Marhumah, dan Kiai Haji Ahmad Sofiyulloh. Dan selanjutnya Kiai Haji Abdul Latif memperistri Hajjah Rohmah sewaktu berada di Makkah. Hajjah Rohmah adalah putri sulung Haji Anhar Cibeber. Dari pernikahan Kiai Haji Abdul Latif dengan Hajjah Rohmah ini di karuniai pula dua orang putra dua orang putri, yaitu;  Hajjah Maajah, Hajjah Madihah, Kiai Haji Ahmad Najiullah dan terkahir Haji Ridwan. Yang terakhir ini bermukim dan wafat di Makkah. Saudi Arabia.

Kiai Haji Abdul Latif dikaruniai keturunan yang baik dan memiliki derajat yang tinggi dikalangan masyarakat sekitar, seperti Kiai Haji Abdul Muhaimin beliau ini kenal dengan ilmu-ilmu fiqihnya dan ilmu falaknya yang beliau peroleh dari Makkah, Saudi Arabia. sewaktu beliau bermukim menuntut ilmu di Makkah. Murid-murid Kiai Haji Muhaimin sangat banyak dan tersebar dibeberapa daerah. Diantaranya adalah Kiai Haji Suhaimi Palas, Cilegon.

Putra Kiai Haji Abdul Latif yang lain yaitu Kiai Haji Ahmad Sofiyulloh. yang terkenal dengan kegigihannya melawan maksiat. Kiai Haji Ahmad Sofiyulloh yang terkenal dengan sebutan “Ki Ahmad” dikalangan jawara, ulama, dan santri. Selalu melawan kemaksiatan dengan keras dan tanpa ampun, hingga orang-orang yang berbuat maksiat kembali ke jalan yang diridhoi Allah Subhanahu Wata’ala. Perjudian, panggung hiburan adalah hal yang paling dibenci beliau. Apabila beliau mendapatkan pengaduan dari masyarakat atau santrinya mengenai adanya kemaksiatan disekitar lingkungan mereka. Maka, beliau langsung turun sendiri menghadapi kemaksiatan tersebut. Beliau inilah satu-satunya putra Kiai Haji Abdul Latif yang mendapatkan ijazah tarekat dari Kiai Haji Abdul Latif. Guru-guru beliau selain ayahanda beliau sendiri juga Kiai Haji Ali Ahmad Tiga Maya, Kramat Watu. dan untuk Al-Qur’annya beliau mengaji Al-Qur’an ke Ki Undul Ciwedus, Cilegon. Dan masih banyak  guru-guru putra Kiai Haji Abdul Latif ini yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Putra Kiai Haji Abdul Latif yang lain, yakni Kiai Haji Ahmad Najiullah. beliau dikenal dengan ketegasannya dan salah satu  putra Kiai Haji Abdul Latif yang dipercaya memimpin Madrasah Al-Jauharotunnaqiyyah Cibeber yang sekarang berubah nama menjadi Yayasan Perguruan Islam Al-Jauharotunnaqiyyah Cibeber.

Diantara putra-putra Kiai Haji Abdul Latif yang memiliki kewibawaan dan harismatik di masyarakat, terdapat pula turunan Kiai Haji Abdul Latif yang lain yaitu cucu-cucu beliau diantaranya ; Kiai Haji Syafiq bin Kiai Haji Abdul Muhaimin, Kiai Haji Fuad bin Hajjah Maajah, dan Kiai Haji Abdul Wahid bin Kiai Haji Ahmad Sofiyulloh yang masing-masing memiliki ciri khas dan keistimewaan, namun tetap memegang teguh pelajaran dari kakek beliau yang berhaluan Ahlussunah Waljama’ah.

Dalam syiar Islamnya, kiprah ulama karismatik ini tidak terbatas hanya pada kaum Adam. Namun juga, beliau mengajarkan pendidikan agama kepada kaum Hawa. Dalam syiarnya ini beliaulah yang mengawali pengajian-pengajian kaum hawa di majlis taklim dan mushola-mushola.

Awalnya banyak ulama-ulama menentang sikap Kiai Haji Abdul Latif yang mengadakan pengajian kepada kaum hawa. Pengajian untuk kaum hawa menjadi suatu hal yang tabu dan sangat tidak pantas dalam sikap dan pandangan ulama pada masa itu, terlebih dalam pandangan umum. Kaum hawa hanya layak di rumah dan melayani suami dan anak mereka. Namun setelah mendapat penjelasan yang mengedepankan pemikiran Kiai Haji Abdul Latif yang beranggapan apabila kaum hawa tidak mendapatkan pendidikan agama dan keagamaan yang sepatutnya. Maka kaum hawa akan tertindas dan terbelenggu. Dan  para ulama-ulama yang akan menanggung dosanya apabila suatu hal yang tidak diharapkan terjadi kepada kaum hawa. Dengan pandangan demikian, akhirnya ulama-ulama dan masyarakatpun menerima apa yang dicetuskan oleh Kiai Haji Abdul Latif tersebut.

Beliau memberikan pengajian di beberapa majlis taklim diantaranya di Kaujon, Sumur Pecung sekarang dilanjutkan oleh cucu beliau Ust. Mumu Abdul Muiz bin Kiai Haji Ahmad Sofiyulloh, Kalitimbang dan Bulakan dilanjutkan juga oleh cucu beliau Haji Abdul Rosyid bin Kiai Haji Ahmad Najiullah, dan beberapa majlis taklim lainnya yakni di Parung, Kalodran, Wanasaba, Toyomerto, Kasuban, Jombang Wetan, Karang Asem, Bendungan, Gedong Dalem, dan Pulo Merak (grogol).

Pada usia Kiai Haji Abdul Latif menginjak 46 tahun atau sekitar tahun 1924 sebagaimana telah dikisahkan di awal tadi, beliau mendirikan madrasah dan menamainya Tarbiyatul Athfal. Mulanya hanya untuk kalangan terbatas yakni untuk para santri warga masyarakat Cibeber. Setelah sekian waktu lamanya berjalan para santri pun makin bertambah, yang datang bukan hanya dari wilayah Banten, namun dari berbagai daerah di Nusantara pun datang dan melanjutkan pendidikan di madrasah ini.  Karena dorongan beberapa kalangan masyarakat Cibeber khususnya yang melihat perkembangan madrasah yang semakin pesat. Maka, secara  solidaritas masyarakat mengumpulkan dana untuk membangun beberapa ruang kelas madrasah. Awalnya hanya 6 ruang selanjutnya ditambah 4 ruang kelas pada tahun 1931 dan dewasa-dewasa ini ditambah lagi sebanyak 6 ruang pada tahun 1977 dan 2  ruang  kelas   pada  tahun  1999  dan  nama  madrasahpun  diubah  menjadi  Al-Jauharotunnaqiyyah. Hingga saat ini masih eksis dan telah memiliki cabang seratus lebih yang terdapat dibeberapa daerah di Nusantara.

Di samping mendirikan madrasah, beliaupun mendirikan pesantren yang beliau namai Bany Lathif. Pesantren ini dipimpin oleh beliau dan dibantu oleh putra-putri beliau dan santri-santri senior yang bermukim di pesantren, Salah satu santri kepercayaan beliau  yang telah dianggap anak dan dijadikan menantu beliau adalah Ustadz Badril Munir. Santri beliau ini sangat disegani dan dihargai oleh beberapa kalangan karena sikapnya yang tawaddu dan lemah lembut. namun memiliki kemampuan pendidikan agama yang cukup luas.

Pada sekitar tahun 1953 sampai tahun 1960 banyak santri-santri beliau yang datang dari luar daerah, seperti dari Lampung, Cirebon, Jakarta, dan beberapa daerah lainnya. Sehingga mengharuskan Kiai Haji Abdul Latif menambah lokal pesantren. Lokal pesantrenpun akhirnya mulai ditambah dan diperluas mulai Blok A, B, C, D, dan Blok F yang berada tepat di belakang rumah Kiai Haji Abdul Muhaimin.

Pesantren Bany Lathif ini pernah mencapai puncaknya hingga mencapai 1000an santri. Hal ini terjadi karena ridho Allah Subhanahu Wata’ala dan karena keihlasan Kiai Haji Abdul Latif yang menerima santrinya tanpa biaya sepeserpun semata untuk mensiarkan agama Islam ke peloksok negeri yang dilakukan dengan pendidikan pesantren di bawah asuhan beliau.

Kiai Haji Abdul Latif adalah Kiai modern di zamannya, beliau sempat berkecimpung dalam organisasi Nahdlotul Ulama dan beliau sendiri diangkat menjadi Rois Syuriah NU cabang Serang. Dan selama menjabat Rois Syuriah NU beliau sempat empat kali mengikuti kongres NU yang diadakan di beberapa daerah yakni di Jakarta tahun 1929 M, di Menes Pandeglang tahun 1931 dan di Surabaya dan Bandung.

Di samping itu, sebagai salah satu contoh bahwa beliau termasuk ulama modern. Dalam bimbingannya, beliau telah memiliki mesin cetak yang pada waktu itu sangat langka, sulit dipergunakan, dan jarang ulama memiliki mesin cetak yang terbilang mahal dan sangat modern.

Dalam tradisi modern Kiai Haji Abdul Latif sebagaimana pendapat dari beberapa kalangan. dilanjutkan oleh putra beliau Kiai Haji Abdul Muhaimin. Kiai Haji Abdul Muhaimin dalam tradisi yang dilakukan di pesantren, seluruh santri diajarkan lari pagi mengelilingi masjid sebelum sholat shubuh. Hal ini bertujuan agar para santri selalu sehat jasmaninya selama mendapat pendidikan di pesantren. Masih banyak hal dan metodelogi pendidikan pesantren Bany Lathif yang diusahakan oleh Kiai Haji Abdul Latif yang dewasa ini mulai diperkenalkan di dunia pendidikan.

Terdapat karisma yang selalu terngiang sampai saat ini, karisma yang terucap dari mulut ke mulut tentang karomah Kiai Haji Abdul Latif,  yakni apabila malam pergi mengaji ke Madura dan pagi harinyanya sudah ada di Caringin Anyer (Wallahu A’lam).

Demikianlah sekelumit kisah Kiai Haji Abdul Latif yang hidupnya dipergunakan untuk mensyiarkan agama Islam dan mencerdaskan bangsa.Kiai Haji Abdul Latif tidak meninggalkan sesuatu apapun untuk keluarga dan santri beliau,  Kiai   Haji  Abdul   Latif  hanya   meninggalkan    sejarah    yang   sangat berharga, bukan untuk dikenang, namun untuk menjadi contoh tauladan bagi kita. Amin

Beliau wafat dalam usia 82 tahun. Tepatnya hari Rabu tanggal 24 Syawal 1379  bertepatan tanggal 22 April 1960. Pada pukul 00.05 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dan dimakamkan hari Rabu tanggal 22 April 1960 pukul 13.00 WIB di Cibeber tepatnya di Cipucang berdampingan dengan istri dan putra-putri beliau.


DAFTAR PUSTAKA

 1.        KH. Abdul Lathif,

Risalah Bany Lathif, Perjalanan Kanjeng Maulana Hasanuddin Waktu Mulai Masuk Negeri Banten, 1357 H.

2.        Prof. Dr. KH. Tb. M. Junus Ghozali,      

Dalam Lintas Sejarah KH. Abdul Latif bin KH. Ali, YPI Al-Jauharotunnaqiyyah Cibeber, 2008

Jumat, 01 Januari 2016

Mosaik Banten Bersejarah


Photobucket - Video and Image HostingBanten yang bersejarah dari peninggalan sejarah dan nukilan kisah komunitas Suku Baduy (Kanekes), Salakanagara-Pandeglang (130-168 Masehi-Pustaka Wangsakerta), serta Hindu Pajajaran di Banten Girang, juga Kesultanan Banten(abad 16-18 m), merupakan kekayaan sejarah yang paling tua, dan kaya di Indonesia. Sekaligus merupakan bukti otentik jejak sejarah awal menelusuri siapa orang Banten dan orang Sunda-Pasundan.
Membedah siapa orang Sunda Pasundan dan orang Banten, sangat dibutuhkan sekali kearifan dan berjiwa besar bagi keduabelah pihak. Salah satu tentu harus ada yang mengalah. Jika melihat dari factor kesamaan bahasa local saja, maka latar belakang diambil dari Banten Selatan diakui sangat dekat dengan Sunda – Pasundan. Jika diambil dari Banten Utara (kecuali Betawi-Tangerang), maka lebih dekat dengan Cirebon dan Indramayu.
Dengan demikian, Banten sesungguhnya wilayah yang terbelah dalam menentukan identitas lokalnya. Tetapi Banten menjadi sesuatu yang lain, berbeda dengan Pasundan, jika pada masa Kesultanan Banten, identitas baru muncul dari sini, lahirnya penyebaran agama, ikatan emosional yang sama dari nasib dan penderitaan yang sama, juga adat tradisi baru.
Dipertegas kemudian pada masa kolonialisme Belanda. Banten telah terputus sama sekali dengan Jawa-Barat, meskipun para priyayi priangan ditempatkan menjadi bupati dan atau residen wilayah (baca; Saijah Adinda karya Multatuli-Max Havelar, Pemberontakan Petani Banten 1888). Selain itu, budaya dari watak dan prinsip yang keras hati, egaliter (terbuka), dan gemar berpetualang, juga merupakan bagian cirikhas orang Banten.
Berbeda dengan Mataram, Kesultanan Banten tidak pernah melakukan penetrasi budaya melalui kekuasaan untuk memaksakan bahasa yang sama. Tepat jika Koencaraningrat, mendefinisikan suku bangsa adalah identitas dari nasib dan lokasi yang sama, serta belum tentu dipengaruhi bahasa.
Tetapi keanekaragaman bahasa (polyglot-latin) di Banten tersebut adalah kekayaan budaya yang mestinya dipelihara. 3 (tiga) hal syarat bahasa tersebut adalah, adanya perbendaharaan kosa kata, tata bahasa, dan dialek (logat). Sudah saatnya Banten memiliki kamus bahasa daerah, baik didaerah Selatan maupun Utara.
Banten sebagai mosaic yang terdiri dari berbagai keanekaragaman, dimulai dari sejarah awal masyarakat Baduy sebagai masyarakat tertua, dengan argumentasi yang semoga diharapkan dapat dipahami.

Baduy atau Kanekes yang Damai dan Tenang
Komunitas Suku Baduy atau Kanekes, dianggap paling tua dalam masa sejarah orang Banten dan Sunda-Jawa Barat, hal ini dilatarbelakangi oleh adanya peninggalan kepercayaan megalitik Arca Domas dan Lebak Sibedug 3 km lebih, diluar area mereka. Komunitas ini terbukti paling tua di Banten dengan adanya peninggalan tersebut. Peninggalan punden berundak itu berusia 2500 SM masa neolitik memiliki kesamaan simetris berbentuk segitiga dengan kebudayaan Mesir Kuno Piramida dan Manchu Picu di lembah Pegunungan Andes-Peru Amerika Latin.
Pengakuan sebagai Sunda Wiwitan (Sunda yang paling tua) juga merupakan bukti, bahwa merekalah yang tertua menurut cerita rakyat (foklore). Indonesia masa purba sesungguhnya, sebelum kedatangan orang India adalah penganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
Kepercayaan terhadap roh leluhur nenek moyang ini diketahui adanya kepatuhan yang sangat kuat dikalangan mereka, terutama terhadap petuah dan larangan leluhur, serta adat tradisi lama. Tetapi apakah kebudayaan tersebut berlaku selamanya ?. jawabannya adalah tidak! Baduy luar misalnya, adalah sebuah contoh, bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat relatif, dapat berubah sesuai jamannya,  serta sudah merembes kedalam.Apalagi mereka gemar mengembara (rawayan) berjalan kaki keseputar Pulau Jawa.
Dengan asumsi tersebut, mereka bukanlah orang yang buta informasi, tetapi masyarakat yang justru  sangat informasional, tahu banyak informasi. Artis saja tahu, dan mereka kunjungi. Pendidikan dan pengetahuan umum juga diajarkan secara otodidak dan non formal diserahkan pada keluarga dan lingkungan masyarakat.
Penyebutan Suku Baduy sendiri juga kurang tepat, meskipun ada gunung sejenis bukit yang bernama Baduy, hal ini lebih disebabkan, karena penyebutan dimasa Islam yang memberikan nama suku pedalaman mereka. Kata Baduy tersebut, mirip dengan Bedui yang dikenal didaerah Arab sebagai suku terasing dan pengembara. Suku Kanekes mungkin lebih tepat, karena sebagai batas wilayah administrasi dan social budaya mereka yang paling tua.
Produk budaya mereka hingga saat ini dikenal hingga manca negara adalah kerajinan tas koja yang terbuat dari kayu yang dipilin sangat kuat. Padi dan hasil bumi lainnya disimpan dalam lumbung yang cukup unik, konon mampu bertahan sangat lama dan alami hingga 100 tahun. Selain hasil bumi dari hasil berhuma (ladang berpindah), mereka juga dikenal memanfaatkan hasil hutan dengan mengambil madu alami dan tumbuhan lainnya, untuk dijadikan ramuan dan lain sebagainya.
Uniknya dalam menjaga hutan ini, mereka tidak mengenal strata kelas, semua turut serta memberikan urun rembug dan suara. Hingga saat ini didaerah Baduy Dalam (Cibeo, Cikertawana, Cikesik), lingkungan alam termasuk sungai masih asri terawat alami dan terjaga baik.
Organisasi social orang Baduy lebih menyukai cara bermusyawarah, memiliki strata kelas yang ditentukan oleh adat tradisi lama, diketuai oleh Puun dan Jaro. Tetapi uniknya memiliki sistem social yang sangat tua sama seperti teorinya Karl Marx, komunisme purba – dalam tahap ke satu perkembangan masyarakat, kolektifitas, kepemilikan bersama, sama rata dan sama rasa.Tidak ada kesenjangan yang tajam antara yang kaya dan miskin.
Angklung buhun adalah angklung kolot atau tua ini juga, merupakan bukti produk budaya orang Baduy yang sangat dikenal ditatar Sunda dan Banten. Bahkan merupakan komoditas kerajinan khas Jawa-Barat, sejak ditemukannya irama tangga nada music hingga ke manca negara. Ironisnya telah diklaim oleh Malaysia, sama halnya dengan reog panorogo, lagu sayange, dll.
Dan masih banyak lagi yang belum dibahas dalam tulisan ini menjadi rangkaian ethnografi yang lengkap.

Turisme Global atau Menjaga Budaya
Saat itu, saya dan kawan-kawan dari Banten Heritage ketika bertemu tahun lalu, cukup prihatin dengan arus wisatawan budaya dari mana-mana, juga pedagang asongan yang terlalu melanggar batas wilayah mereka. Perilaku yang tidak terpuji, merusak, dan tidak menjaga, serta menghormati adat istiadat, membuat mereka lebih merupakan bagian dari tontonan dan arena wisata saja.
Kebakaran tahun lalu juga membuat kami prihatin. Untunglah balabantuan dari dinas social, instansi terkait, dan LSM seperti Puwanten (Paguyuban Warga Banten) ikut turun terjun ke lapangan.
Demikian paparan ini, meski hanya sekilas mengenai mosaik Banten yang bersejarah dan salah satunya adalah Baduy. Semoga bermanfaat.

Sabtu, 07 November 2015

Sejarah Islam di Rusia



RUSIA
Di Rusia dan di tanah Siberia, sebuah wilayah yang mempertemukan dua senja, tidak mengenal siang juga tidak dilewati malam, Allah mengetuk hati-hati penduduknya untuk menerima risalah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam

Daratan Siberia Rusia ini, adalah sebuah daratan dingin yang suhu tertingginya di musim panas saja hanya minus 50C.
Walaupun cahaya matahari tidak menembus wilayah ini, namun cahaya Islam mampu menembus negeri beruang merah tersebut. Risalah ini melewati stepa, hutan, dan pegunungan Rusia sejak 1400 tahun yang lalu. Abdul Karim as-Samak menceritakan, pada tahun 2010 kunjungannya ke Moscow, ia melihat Masjid Besar Moscow penuh sesak dengan jamaah yang shalat Jumat di sana. Masjid yang memiliki enam lantai  tersebut tidak mampu menampung jamaah yang shalat, akhirnya banyak sekali jamaah yang harus shalat di luar masjid berhadapan dengan tamparan cuaca dingin.

Kabar ini jarang sekali kita dengar, kita lebih tahu Rusia adalah bekas negara Uni Soviet yang mayoritas masyarakatnya menganut paham komunis. Banyaknya jumlah masyarakat Islam di Rusia tentu saja menggembirakan kita, terlebih dengan terbangunnya hubungan diplomatik Rusia dan Kerajaan Arab Saudi tentu saja berdampak positif terhadap umat Islam di sana.

Dalam keadaan yang masih minoritas umat Islam tetap berani menunjukkan eksistensi mereka di Rusia, pada tahun 1996, Mufti Rusia, Syaikh Rawi Ainuddin, meminta kepada Presiden Boris Yeltsin agar mengizinkan umat Islam mengadakan perayaan peringatan lebih dari 1000 tahun masuknya agama tauhid ini ke negeri tersebut. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Yeltsin, barulah pada masa Vladimir Puthin umat Islam diizinkan mengadakan perayaan tersebut dan eksistensi Islam pun kian kentara.

Sejarah Masuknya Islam ke Rusia

- Masa Umar bin Khattab

Masuknya cahaya Islam di Rusia dimulai pada masa Umar bin Khattab dengan perantara sahabat yang mulia Hudzaifah bin al-Yaman. Hudzaifah yang ditugaskan berdakwah di Azerbaijan dan Armenia, terus berjuang menyebarkan Islam hingga mencapai wilayah Dailam, Tibristan, dan Afganistan.

Penyebaran ini terus melebar hingga terjadi kontak dengan orang-orang Kaspia. Pada tahun 115 H, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Rabi’ bin Maslamah radhiallahu ‘anhu berhasil membangun masjid di daerah tersebut. Tentu saja pembangunan masjid adalah strategi yang jitu untuk mempertahankan Islam di wilayah baru ini.

- Masa Daulah Umayyah

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, sahabat al-Hakam bin Amr al-Ghifari radhiallahu ‘anhu melintasi Sungai Jaihun dan masuk menguasai Uzbekistan pada tahun 50 H/67 M. Kemudian di masa berikutnya ada Said bin Utsman yang menginjakkan kakinya di Samarkan, lalu Musa bin Abdullah bin Khozim menaklukkan negeri Imam Tirmidzi, negeri Tirmidz pada tahun 70 H/689 M, kemudian Qutaibah bin Muslim menembus negeri-negeri Timur hingga sampai di Cina, Turkistan, Turkmenistan, Tajikistan, dan Kyrgistan. Dengan kedatangan umat Islam ini, orang-orang pun berbondong-bondong memeluk Islam tanpa paksaan dan tekanan sedikit pun.

Dari tanah Arab, Islam pun diterima oleh semua pihak, diterima semua suku dan entik, dan diterima oleh mereka yang miskin maupun kaya.

- Masa Daulah Abasiyah

Era baru masuknya Islam di Rusia dipelopori oleh seseorang yang bernama Ahmad bin Fadhlan, salah seorang utusan Daulah Abasiyah. Faktor terbesar yang membuat Islam rata menyebar dari wilayah Cina hingga Laut Kaspia di masa ini adalah faktor penduduk lokal yang telah memeluk Islam. Anak-anak pribumi (wilayah Asia Teengah) mendakwahi saudara-saudara mereka yang masih menyembah patung dengan perantara perdagangan. Dari sinilah muncul kisah tentang Ahmad bin Fadhlan.

Negara-negara di sekitar Laut Kaspia
Negara-negara di sekitar Laut Kaspia
Saat Islam mulai tersebar di kalangan penduduk Asia Timur dan wilayah Balkan, orang-orang Balkan pun mengirim utusan kepada Khalifah Abasiyah, Muqtadir Billah. Mereka mengajukan permintaan pengiriman seorang dai karena keterbatasan sumber daya penduduk lokal yang mengetahui tentang syariat Islam. Abasiyah pun mengirim Ahmad bin Fadhlan.

Ahmad bin Fadhlan terus giat mendakwahkan dan mengajarkan Islam di wilayah tersebut. Ia mendatangi para penguasa Balkan, dan mengenalkan Islam kepada mereka. Di antara buah dakwahnya yang paling signifikan adalah masuknya Islam ke wilayah Kazan. Ahmad bin Fadhlan juga tidak lupa mencatat perjalan dakwahnya ke negeri-negeri Rusia ini, dan tulisannya dijadikan rujukan utama para sejarawan untuk mempelajari masa-masa tersebut.

Penduduk Rusia Beralih Memilih Nasrani

Farid Syah Asadullah mengisahkan sebuah kontroversi yang cukup unik mengapa sebagian masyarakat Rusia yang telah menerima Islam beralih memilih Nasrani. Tersebutlah nama pemimpin Rusia kala itu, Vladimir, ia menolak Islam lantaran Islam mengharamkan khamr, padahal khamr merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Rusia. Kata mereka, Rusia sudah terbiasa dengan khamr, tidak ada kehidupan tanpa khamr. Agama Kristen atau Nasrani yang membolehkan khamr dipandang lebih realistis oleh Vladimir dan diikuti oleh rakyatnya.

Kejadian serupa juga pernah dialami oleh orang-orang Arab yang sangat mencintai khamr. Kalau manusia biasa hidup dengan meminum air putih (air mineral), maka di Arab ada ungkapan “Kami tumbuh besar karena khamr (bukan air mineral pen.)” Adagium ini menunjukkan betapa tidak bisa dipisahkannya masyarakat Arab kala itu dengan khamr dan pada akhirnya mereka menerima bahwa khamr adalah sesuatu yang banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.

Rusia di Bawah Kekuasaan Tatar Mongol

Mongol adalah salah satu bangsa yang memiliki rekam jejak yang kelam dalam sejarah Islam. Namun pada fase pasca Jenghis Khan, keadaan tersebut berubah terutama pada era Barkah bin Jochi bin Jenghis Khan. Ia adalah salah seorang Khan penguasa Mongol. Berbeda dengan leluhurnya Jenghis Khan yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam, Barkah malah memeluk dan mendakwahkan Islam yang dimusuhi oleh sang kakek.

Di antara jasa besar Barkah Khan adalah mengalahkan sepupunya, Hulagu Khan, yang telah menghancurkan Daulah Abasiyah dan membunuh khalifah terakhirnya. Termasuk jasanya juga adalah mengembalikan cahaya Islam di negeri Rusia. Kekuasaan Mongol yang begitu luas –sampai ada yang menyatakan menyentuh wilayah Jerman-, yang mencakup wilayah Rusia menjadi angin segar dalam perkembangan penyebaran agama Islam. Kewibawaan Islam kembali muncul, sampai-sampai wilayah Moskow dan Kiev yang Kristen tunduk dan membayar pajak kepada umat Islam.

Namun pada tahun 885 H/1480 M, Moscow di bawah kekuasaan Ivan III melepaskan diri dari kekuasaan umat Islam bahkan membantai umat Islam. Moscow bergabung dengan Pasukan Salib untuk memerangi umat Islam.

Komunis Membantai Umat Islam 

Umat Islam menghadapi permasalah serius tatkala Tsar Romanov berkuasa. Sebagian dari mereka terusir dan yang lainnya tewas di tangan kebengisan anak buah Tsar Romanov. Keadaan demikian terus berlanjut di masa Vladimir Lenin. Pada tahun 1917, pemimpin revolusi komunis, Vladimir Lenin, menghianati umat Islam. Lenin yang semula menjanjikan perubahan apabila ia berkuasa, menjadikan perubahan tersebut fatamorgana bagi muslim Rusia. Penyiksaan, penindasan, dan kezaliman terus dirasakan umat Islam di masa-masa pemerintahan komunis ini.

Setidaknya ada empat periodesasi Islam di Rusia:
  1. Usaha umat Islam untuk merevolusi pemerintah mereka.
  2. Masa-masa represi dan pembantaian umat Islam antara tahun 1925 – 1945.
  3. Pernga Duni II membawa era baru bagi umat Islam Rusia, Stalin mengirimkan 17 orang muslim untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah.
  4. Penyiksaan terhadap umat Islam terjadi lagi pada tahun 1950 sampai pemerintahan Gorbacev berakhir dan hancurnya Uni Soviet. Pada saat negara ini berganti nama menjadi Rusia barulah umat Islam mendapatkan hak keagamaan dan kewarganeraan.
Umat Islam di Rusia Hari Ini

Komunitas umat Islam di Rusia, cukup besar. Jumlah mereka tidak kurang dari 20 juta jiwa. Umat Islam juga memiliki 7 buah masjid di Moscow, hal ini jauh lebih baik dibanding di Teheran, Iran, umat Islam tidak memiliki satu pun masjid di sana. Masjid terbesar di Moscow adalah masjidnya komunitas suku Tatar yang dibandung pada tahun 1801. Awalnya daya tamping masjid hanya sekitara 250 orang, lalu pada tahun 1904 seorang Tsar Tatar yaitu Tsar Shadiq Yazrin, memperbaiki masjid tersebut.

Setelah Rusia menjalin hubungan diplomatik dengaan Arab Saudi, pembangunan masjid ini terus dikembangkan. Saat ini masjid tersebut sudah mampu menampung kurang lebih 20.000 jamaah dan memiliki 6 lantai.


Masjid Jami' Moscow
Masjid Jami’ Moscow
Saat ini, agama Islam merupakan agama terbesar di Rusia setelah agama Kristen. Keadaan umat Islam kian membaik di masa Presiden Vladimir Putin. Hal itu dikarenakan umat Islam memiliki peranan penting dalam membawa perbaikan masyarakat di Rusia. Umat Islam diperbolehkan membangun sekolah-sekolah yang berbasis agama bahkan membangun sebuah universitas Islam yang semuanya menggunakan bahasa Arab.
Demikianlah sekilah sejarah Islam di Rusia. Islam memiliki sejarah yang panjang di Rusia, mengalami pasang surut keadaan, mulai dari memegang kekuasaan hingga menjadi orang-orang marjinal yang terpinggirkan. Saat ini, kebangkitan Islam mulai tampak lagi di negeri beruang merah, sekolah-sekolah, masjid, dan Islamic center dibangun di beberapa tempat di negeri tersebut. Semoga Allah menjaga Islam dan kaum muslimin di negeri ini, amin..

Jumat, 06 November 2015

SANDYAKALA ING MAJAPAHIT KERUNTUHAN KERAJAAN HINDU-BUDDHA NUSANTARA

Prof. Dr. Agus Aris Munandar

Awal Kesuraman
Pada tahun 1389 Masehi (1311 Saka) mangkatlah Rajasanagara (Hayam Wuruk) raja terbesar Majapahit, ketika kerajaan itu berada di puncak kejayaannya. Tafsiran yang dapat diangkat dari berita kitab Pararaton adalah bahwa raja tersebut didharmakan di daerah Tanjung,  nama candi pendharmaannya Paramasukhapura. Di kalangan para ahli arkeologi terdapat interpretasi bahwa Paramasukhapura tersebut terletak di lereng utara Gunung Wilis, mungkin dekat dengan situs Candi Ngetos sekarang di wilayah Kabupaten Nganjuk. Memang sungguh menarik untuk ditelisik lebih lanjut bahwa candi untuk raja terbesar Majapahit tersbut sekarang tiada ditemukan lagi secara pasti, sementara sejumlah candi untuk sanak kerabatnya masih bertahan hingga sekarang di beberapa daerah Jawa Timur bekas tlatah kerajaan itu dahulu.

Sepeninggal Rajasanagara tampil tokoh penguasa Majapahit yang baru, yaitu Wikramawarddhana yang menikah dengan Kusumawarddhani putri Hayam Wuruk. Wikramawarddhana hanya memerintah selama 12 tahun, sekitar tahun 1400 ia mengundurkan diri menjadi seorang pertapa (bhagawan), tahta Majapahit diserahkan kepada putrinya yang bernama Suhita. Sebenarnya yang layak memerintah adalah putra mahkota kakak Suhita yang bernama Bhra Hyang Wekasing Sukha, namun ia mangkat pada tahun 1399 sebelum ditahbiskan menjadi raja.

Naik tahtanya Suhita sebagai ratu Majapahit ternyata tidak disukai oleh salah seorang putra Hayam Wuruk yang berasal dari selir, ialah Bhattara i Wirabhumi (Bhre Wirabhumi) walaupun ia telah menjadi penguasa di daerah Balambangan. Demikianlah masalah ketidakpuasan terhadap penguasa, hak untuk berkuasa, yang berujung kepada perebutan kekuasaan dalam bentuk peperangan yang sangat berdarah adalah faktor-faktor mendasar yang menjadi titik awal keruntuhan Wilwatikta. Dalam pada itu serangan dari kerajaan Islam Bintara (Demak) hanyalah peristiwa pamungkas yang menyebabkan lenyapnya Majapahit dari Tanah Jawa, karena sebelumnya telah terdapat serangkaian pemicu ke arah runtuhnya Majapahit di awal abad ke-16 M.

Parereg meletus pada tahun 1401 M sebagai bentuk ketidakpuasan dan rasa berhaknya Bhre Wirabhumi atas tahta Majapahit. Mulai tahun itu hingga tahun-tahun selanjutnya Majapahit diriuhkan oleh peperangan antara Wikramawarddhana yang berkuasa di kadaton kulon melawan Bhre Wirabhumi yang memimpin penyerangan dari kadaton wetan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya Paregreg yang baru usai tahun 1406, rakyat Majapahitlah yang menderita, pastinya aktivitas pertanian menurun, hubungan niaga dengan wilayah luar Jawa terganggu, apalagi citra Majapahit di mata kerajaan-kerajaan mitra satata di rantauan Asia Tenggara menjadi tidak berwibawa lagi.
Menuju Tenggelamnya Surya Majapahit
Setelah Bhre Wirabhumi dapat dikalahkan oleh pihak Wikramawarddhana berkat bantuan Bhre Tumapel Bhra Hyang Parameswara, maka Suhita melanjutkan pemerintahannya di Majapahit hingga wafatnya pada tahun 1447 M dan didharmakan di Singhajaya. Karena Suhita tidak mempunyai anak, maka singgasana Majapahit kemudian diduduki oleh adiknya, yaitu Bhre Tumapel Kertawijaya (1447—1451 M). Pada masa pemerintahannya ia mengeluarkan prasasti Waringin Pitu yang bertarikh  1369 Saka (22 Nopember 1447 M). Dalam prasasti itu dinyatakan bahwa Majapahit pada dewasa itu mempunyai 14 orang penguasa daerah sebagai berikut: (1) Batari Daha, (2) Batari Jagaraga, (3) Batara Kahuripan, (4) Batari Tanjungpura, (5) Batari Pajang, (6) Batari Kembang Jenar, (7) Batari Wengker, (8) Batari Kabalan, (9) Batara Tumapel, (10) Batara Singapura, (11) Batara Matahun, (12) Batara Wirabumi, (13) batara Keling, dan (14) Batari Kalinggapura. Berita dari prasasti Waringin Pitu tentang para penguasa daerah tersebut menunjukkan bahwa wilayah  sebenarnya terbagi dalam beberapa kerajaan daerah yang mengakui kedudukan raja di kedaton Majapahit sebagai penguasa tunggal atas daerah-daerah tersebut.  Penguasa selanjutnya adalah Bhra Pamotan dengan epitet Sri Rajasawarddhana Dyah Wijayakumara yang berkuasa antara tahun 1451—1453 M.Asal-usul tokoh ini tidak begitu jelas, dugaan sementara bahwa dia sangat mungkin salah seorang putra Wikramawarddhana pula, mungkin dari seorang selirnya. Pararaton menyebutkan bahwa pada waktu Rajasawarddhana berkuasa ia berkedudukan di Keling-Kahuripan. Terdapat asumsi bahwa ia tidak berkedudukan di ibukota Majapahit, melainkan memindahkan pusat pemerintahannya di wilayah Keling-Kahuripan. Keadaan itu mungkin ada hubungannya dengan kekalutan politik berkenaan dengan tahta yang didudukinya. Setelah ia meninggal menurut Pararaton kemudian didharmakan di Sepang.

Pararaton mencatat bahwa dalam masa 3 tahun kemudian tidak ada raja di Majapahit (interregnum). Hal ini sungguh menarik karena selama 3 tahun itu tidak ada tokoh yang dapat mengampu kerajaan yang kejayaannya hampir pudar tersebut. Surya Majapahit yang biasa dijumpai di batu sungkup candi-candi zaman itu dan menjadi menjadi ciri kesenian Majapahit agaknya hampir tenggelam. Dalam keadaan terluka dan lemah akibat konflik  internal, Majapahit masih mampu melanjutkan keberadaannya sepanjang abad ke-15 M sampai keruntuhannya.

Sandyakala ing Majapahit
Pada tahun 1456 tampillah Dyah Suryawikrama Girisawarddhana sebagai penguasa Majapahit yang memerintah selama 10 tahun. Raja tersebut ialah salah seorang anak dari Bhre Tumapel Kertawijaya, dalam Pararaton Dyah Suryawikrama dikenal dengan sebutan Bhra Hyang Purwwawisesa yang setelah meninggal dicandikan di Puri. Menilik masa pemerintahannya yang relatif lama dapat diduga bahwa kedudukannya sebagai raja Majapahit agaknya mendapat sokongan dan kepercayaan dari para penguasa daerah.
Raja selanjutnya yang memerintah di Majapahit adalah Bhre Pandan Salas, ia dikenal pula dengan gelar resminya Dyah Suraprabhawa Singhawikramawarddhana. Hal yang menarik dikemukakan oleh Pararaton bahwa raja Dyah Suraprabhawa hanya memerintah selama 2 tahun, kemudian menyingkir meninggalkan keratonnya. Menyingkirnya Dyah Surabrabhawa dari istana Majapahit sangat mungkin disebabkan oleh adanya serangan dari pihak lain yang juga menginginkan tahta. Dalam tahun 1473 M, ia masih mengeluarkan prasasti Pamintihan yang isinya antara lain bahwa Dyah Suraprabhawa atau Bhre Pandan Salas mengaku diri sebagai raja Majapahit, dan menyebut dirinya sebagai “sri maharajadhiraja yang menjadi pemimpin raja-raja keturunan tuan gunung” (sri giripatiprasutabhupatiketubhuta). Tokoh ini disebut sebagai “penguasa tunggal di Tanah Jawa” (yawabhumyekadhipa) oleh Mpu Tanakung dalam manggala kakawin Siwaratrikalpa gubahannya.

Apabila disesuaikan dengan berita Pararaton yang menyatakan bahwa Bhre Pandan Salas hanya memerintah selama 2 tahun.  Mungkin dapat diartikan bahwa masa 2 tahun itu hanyalah ketika ia masih menduduki tahtanya di kota Majapahit. Kemudian karena adanya serangan ia terpaksa menyingkir ke pedalaman (wilayah Tumapel) untuk meneruskan pemerintahannya, mengeluarkan prasasti, serta menjadi pelindung pujangga yang menggubah kakawin keagamaan. Tokoh yang menyebabkan Bhre Pandan Salas harus meninggalkan Majapahit ialah Bhre Kertabhumi yang ingin pula berkuasa di Majapahit. Bhre Kertabhumi adalah anak bungsu dari raja terdahulu Majapahit, yaitu Rajasawarddhana (1451—1453 M)  sebelum terjadinya masa interregnum.

Bhre Pandan Salas atau Dyah Suraprabawa terus memerintah sebagian besar wilayah Majapahit dengan berkedudukan di Tumapel sampai tahun 1474 M. Sepeninggal Bhre Pandan Salas kedudukannya digantikan oleh anaknya yaitu Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Pada awalnya ia masih berkedudukan di Kling, namun ia kemudian berhasil merebut tahta Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi. Pararaton mencatat bahwa pada tahun Saka “sunya-nora-yuganing-wong” (1400 S/1478 M) Bhre Kertabhumi wafat di keraton, mungkin akibat serangan Dyah Ranawijaya yang berhasil merebut kembali kota Majapahit setelah ayahandanya, Dyah Suraprabhawa berhasil disingkirkan oleh Bhre Kertabhumi. Dalam Serat Kanda dicantumkan candrasangkala “sirna-ilang-kerta ning bhumi” yang menunjuk tahun 1400 Saka sebagai waktu jatuhnya Majapahit akibat serangan tentara Islam Demak ke wilayah Sengguruh untuk menaklukan raja Brawijaya. Angka tahun 1400 S (1478 M) dalam Serat Kanda itu tidak sesuai jika dipakai untuk menandai tahun kejatuhan Majapahit ke tangan tentara Demak, karena Pararaton jelas mencatat bahwa tahun 1478 M itu adalah tewasnya raja Kertabhumi di keraton Majapahit, mungkin sekali karena serangan Dyah Ranawijaya.

Majapahit masih tetap berdiri setelah tahun 1478 M, sebab Dyah Ranawijaya masih mengeluarkan prasasti-prasastinya pada tahun 1486 M. Begitupun kegiatan keagamaan yang bercorak kehinduan di lereng barat Gunung Penanggungan (Pawitra) masih terus bertahan hingga paruh pertama abad ke-16 M. Artinya setelah direbutnya kota Majapahit oleh Dyah Ranawijaya sampai beberapa tahun lamanya kerajaan itu masih bertahan, bahkan para musafir dan pedagang Portugis masih mencatat bahwa Majapahit sebagai kerajaan kafir masih berdiri antara tahun 1512—1518 sesuai dengan berita-berita orang Eropa pertama yang berkunjung ke Nusantara.

Penelitian terakhir yang telah dilakukan ikhwal keruntuhan Majapahit menyatakan bahwa kerajaan itu runtuh antara tahun 1518—1521 M. Memang benar akibat serangan tentara Demak, namun berdasarkan perbandingan data yang terdapat dari berita-berita Eropa yang layak dipercaya,  pemimpin penyerangan ke Majapahit itu ialah Pati Unus bukannya Raden Patah. Tokoh inilah yang berhasil mengalahkan raja Majapahit terakhir Dyah Ranawijaya, berarti ia dapat membalaskan kekalahan kakeknya, yaitu Bhre Kertabhumi yang dahulu berhasil ditewaskan oleh serangan Dyah Ranawijaya di kedaton Majapahit.

Berita-berita tradisi memang menyatakan bahwa Raden Patah adalah putra raja Majapahit Brawijaya. Kitab Purwaka Caruban Nagari secara lebih jelas mengidentifikasikan bahwa raja Brawijaya Kertabhumilah yang menjadi ayahanda Raden Patah, namun para penyusun sumber-sumber tradisi itu seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda telah mengacaukan peristiwa sejarah yang terjadi. Maklum kedua sumber sejarah Jawa itu ditulis dalam masa yang jauh lebih kemudian, sehingga ingatan terhadap peristiwa sejarah di masa lampau telah menjadi samar-samar.

Mengenai klimaks keruntuhan Majapahit diuraikan dengan agak panjang dalam Babad Tanah Jawi:
“Lengkaplah para wali berunding dengan para mukmin. Setelah selesai berunding mereka berpencar menuju Majapahit dengan membawa banyak senjata. Samudera meluap. Ketika mereka sampai di Majapahit, gempar orang senegeri itu. Majapahit telah terkepung, banyak prajurit berbalik. Adipati Bintara dan adiknya masuk lewat pintu Utara. Mereka telah memasuki kota. Para prajurit gemetar ketakutan melihat mereka.

Brawijaya segera berkata, “Syukurlah anakku datang, Adipati Bintara. Ayo Patih, segera kita naik ke tempat yang tinggi, aku ingin melihat anakku. Ya Patih, aku sangat rindu, karena telah lama tidak bertemu”. Sang Raja naik ke halaman yang tinggi dan dapat melihat putranya. Kemudian Sang Raja Brawijaya gaib. Patih pun tidak ketinggalan beserta  orang-orang yang setia berbakti kepada raja. Puri telah kosong, di luar sangat ribut, sangat menakutkan. Deru suara orang-orang yang gaib jatuh ke samudera, bagaikan dibakar…”

Pada bagian lain Babad Tanah Jawi mengungkapkan:
“Adipati Bintara memasuki keraton. Sangat sunyi keadaannya karena telah ditinggalkan orang, semua mengikuti Brawijaya. Sang Adipati lemas tidak dapat berkata-kata, hatinya pedih. Ia merasa sebagai putra raja. Sang Adipati Bintara keluar, mewartakan hal itu kepada semua prajurit. Demikianlah mereka pun kembali ke Bintara”

Sebagai hasil historiografi tradisional uraian Babad Tanah Jawi tetap harus diperhatikan secara cermat, para pembaca di masa kini mestinya harus lebih arif dalam menafsirkan peristiwa keruntuhan Majapahit tersebut. Sangat mungkin memang benar Brawijaya Kertabhumi sangat rindu dengan putranya, Raden Patah yang menjadi Adipati di Bintara dan telah lama tidak datang menghadap. Ketika datang serangan ke Majapahit, Brawijaya menganggapnya sebagai kedatangan Adipati Bintara dengan pasukannya sampai ia dan patihnya bergegas menaiki sitinggil di lingkungan halaman keraton untuk menyambutnya. Ternyata yang datang adalah bala-tentara Dyah Ranawijaya, sehingga ia tidak siap untuk bertempur, maka tewaslah sang raja di kedaton Majapahit. Dalam pada itu Raden Patah mungkin berusaha membantu ayahandanya, tetapi terlambat. Kekalahan Brawijaya Kertabhumi atas Dyah Ranawijaya itu baru kemudian dibalas oleh putra Raden Patah, yaitu Pati Unus yang sekaligus mengakhiri kekuasaan kerajaan Hindu-Buddha Majapahit yang telah lama dikenal di Nusantara.


Agus Aris Munandar
FIB UI

PUSTAKA ACUA

DAMONO, SAPARDI DJOKO & SONYA SONDAKH (Penyunting), 2004, Babad Tanah Jawi: Mitologi, Legenda, Folklor, dan Kisah Raja-raja Jawa. Buku I. Jakarta: Amanah Lontar.

DJAFAR, HASAN, 1978, Girindrawarddana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Penerbitan Buddhis Nalanda.

MULJANA, SLAMET, 2005, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LkiS.

PADMAPUSPITA, KI, 1966, Pararaton: Teks Bahasa Kawi, Terjemahan Bahasa Indonesia. Jogjakarta: Penerbit Taman Siswa.

SUMADIO, BAMBANG (Penyunting Jilid), 1984, Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.

YAMIN, MUHAMMAD, 1962, Tatanegara Madjapahit: Risalah Sapta Parwa, berisi 7 Djilid atau Parwa, Hasil Penelitian Ketatanegaraan Indonesia tentang Dasar dan Bentuk Negara Nusantara Bernama Madjapahit, 1293—1525. Parwa II.  Djakarta: Prapantja.