Selasa, 23 Maret 2010

Bantenziing


‘“Tuhan Itu Nur“’

Tuhan adalah Nur,” cahaya dilangit dan dibumi.
Atas nama Nur, “ ini dan dengan hidayahNya, dengan keridoanNya, mari kita terbang diangkasa raja ketasaufan. Dari keimanan mereka ahli ibadah orang2 suci, mari kita ambil pelita2 tasauf untuk kita pancarkan cahayanya dilangit kehidupan kita,

Nur, cahaya, dalam arti kiasan, bukan dalam arti sebenarnya. Kata2 Nur semacam ini banyak dipakai, ump. Agama itu nur. Kitab suci nur, Rasul Nur dan Tuhanpun Nur dilangit dan dibumi. Dikatakan dalam ayat Qur’an “ ( …………………. Mereka berusaha hendak memadamkan nur Allah, dengan jalan lisandan tindakan ) nur disini berarti hidayah kitab suci dan wahyu. Demikianlahartinya nur dalam do’a Nabi, ia minta supaya diberi nur dalam daging, tulang, urat ; rambut, kulit, kuping, mata beliau, Nur disini bukan arti Nur betul sehingga mata, telinga dan semua anggota badan menyorotkan sinar memancar, tapi nur dalam arti kiasan.
Agar mendapat keyakinan dan hidayahnya.

Mari kita buka jendela2 dunia kita ini, yang sedang diselubungi oleh kegelapan macam2 dosa dan kemungkaran, dunia yang sedang tenggelam dalam lautan kebendaan, supaya ditembusi oleh itu cahaya, supaya diliputi perdamaian dan supaya dipimpin dengan keimana.

Mari, mari kita tinggalkan manusia yang telah diperbudak oleh Hawa Nafsunya, untuk kita bicara tentang itu manusia sempurna, raja semua makhluk, pahlawan sejarah, kekasih Tuhan dan Chalifahnya diatas bumi ini dengan semboyan : Bahwa semua untuk Allah, dari Allah, kepada Allah, bahwa hidup ini adalah rahmat dan restu dengan Ibadah sebagai titik tujuanya, dan kecintaan sebagai undang2 dasarnya.

Cunta kepada Allah, cinta kepada semua Nabi, cinta kepada semua Manusia, cinta untuk berbuat baik dan mengenyahkan penderitaan dari semua yang bernyawa.

TASHAUF SEBAGAI NALURI MANUSIA.

Jiwa manusia itu, suatu benda yang hidup, Setiap yang hidup memerlukan makanan, makanan yang tumbuh dibumi, karena itulah wataknya. Jika tubuh kasar ini memerlukan makanan untuk hidupnya, demikian juga jiwa. Makananya ialah Iman, karena itulah nalurinya. Dan sebagaimana raga jika kurang makanannya menjadi kurus keringa dan lemah, demikian juga Jiwa, bisa redup dan kabur atau cemerlang bercahaya menurut ukuran kekuatan keimananya.

Jadi keimana dan keabadian jiwa dan kelanggengan kehidupan akherat, adalah naluri asli manusia, yang diciptakan Tuhan bersama diciptakannya manusia itu. Jiwanya itulah yang dapat mengangkatnya ketingkat yang lebih tinggi. Kepada jiwanya itulah, Tuhan memberikan kekuasaan yang dapat menguasai bumi dan alam sekitarnya.

TASHAUF SUATU ALIRAN INTERNATIONAL

dengan panduan jiwa dan raga, timbulah falsafah peribadatan ( Ketashaufan ) yang menjadi aliran Internationa, yang berbeda-beda pada tiap2 bangsa menurut kepercayaan dan pemikirannya.

Apakah hidup itu apa titik tujuannya ? Manusia berpikir dan terus berpikir. Mencari dan meniolainya, dan semakin tinggi ia berpikir, sampai kepada apa yang langgeng dan kekal. Ia mencari siapa pencipta hidup dan siapa Tuhannya.

Manusia berpikir dan terus berpikir, tentang kenyataan hidup ini. Ia melihat bahwa semua yang kokoh kuat akan lemah jua, semua yang hidup bakal mati, semua yang tumbuh akan patah. Demikianlah patah tumbuh hilang berganti. Baru dia mengertibahwa dibalik hidup yang fana ini, ada lagi hidup yang kekal dan abadi.
Tuhan itulah hakikat wujud dalam hidup. Jika manusia tidak mendekati Tuhannya, maka sia-sialah selaluruh hidupnya. Sebab titik tujuan hidup itu adalah mencapai keridhoan Tuhan, pencipta yang maha Besar.

Demikianlah garis besarnya tashauf pada Umumnya.

Hanya Tashauf menurut pandangan Islam ada berbeda-beda dasarnya Tauhid yang lurus Ukhlas yang diambil dari tuntunan Al-Qur’an dan Nur Muhammad.

TASHAUF MENURUT TUNTUNAN AL-QUR’AN

Para ahli tashauf telah mencipta tariqatnya berdasarkan tuntunan ayat2 Qur’an, dalam menyederhanakan cara hidup mereka, untuk menuju kepada Tuhan, karena harapan dan cinta kepada Tuhan semata-mata.

Dalam banyak ayat2 Qur’an diterangkan; bahwa dunia sebagai barang pulasan belaka, hanya main2 dan suka-suka, bermegah-megah kekayaan dan anak istri, yang semua itu akan musnah.

Qur’an dalam garis besarnya, semua ayatnya membawa jiwa manusia kearah kerohanian, dengan titik terakhir alam akhirat, alam yang kekal dimana ada kebahagiaan abadi. Didalam Al-Qur’an diterangkan dengan jelas arti hidup yang sebenarnya dan mudah, diterangkan bahwa : ,, Aku tidak menjadikan jin dan manusia, hanya supaya mereka beribadah kepadaKu “ . jadi hidup itu adalah ibadah.

Diterangkan bahwa semua yang ada dialam wujud ini ; langit, bumi dan seisinya, manusia, malaikat, jin semua menyembah dan memuja kepada Yuhan.

Ahli tashauf yang pertama-tama dalam Islam, adalah mereka disebut“ ( AHLUSSUFAH ) , yaitu orang2 Muhajirin dan Anshar yang miskin, yang tidak punya apa2, hanya Iman, kepada Tuhanya dan Rasulnya. Tempat tinggal mereka di ( Shuffah ), diserambi belakang mesjid. Ditempat inilah mereka beribadah, berpuasa, mengaji Qur’an dan bersemedi.

Azas2 dan dasar Ilmu Tashauf, diambil dari Qur’an ; Tuhan adalah Nur, Cahya dilangit dan diBumi . ( Dimana kamu berada, di situ Tuhan ada ). ( Sebutlah nama Tuhanmu. Sampai engkau mendapat keyakinan ).

HIDUP RASULULLAH CARA TASHAUF

sebelum Muhammad menjadi Rasul, Beliau suka sekali bersemedi di Gua Hira, hidup memencil, hanya …..

uzlah ; Tapa, memncilkan diri dari masyarakat, untuk bersemedi dan bertaqarub kepada Tuhan. Nabi Muhammad SAW. Sebelum menjadi Rasul. Pernah beruzlah di Gua Hira untuk beribadah dan memikirkan sosial masyarakat, bagaimana cara memperbaikinya, dengan meminta pimpinan dan tujuan tuntunan dari Allah. ‘Uzlah tidak baik untuk seumur hidup, harus membuat amal, sebagaimana sabda Rasulullah ; manusia yang baik, ialah yang banyak jasanya terhadap masyarakat.

Dengan hati dan jiwanya saja, sambil membaca kitabulwujud, buku yang terbentang luas, padang sahara yang hening sepi membisu, langit yang gemerlapan bintangnya, beliau melepes pandangan dibalik alam wujud ini, bahwa ada penciptanya. Inilah kebenaran hakiki yang kekal dan abadi. Maka lenyaplah semua perasaan pancaindranya, lebur dalam keagugan dan kecintaan kepada Tuhan Rabbul Izzati.

Inilah pancaran pertama dalam dunia ketashaufan dalam Islam.

Satu kehidupan rohani yang suci dan bersih dari pengaruh keduniawian. Sehingga jiwanya menjadi suci dan hatinya menjadi cemerlang bercahaya. Dengan demikian cukuplah persediaan beliau sebagai Rasul untuk menerima Wahyu Ilahi.

Tashauf itu, adalah ibadah, kesucian dan penyederhanaan hidup, kemudian tersingkap Kasjaf / kasfah dan berpancaranlah Nur cahaya, lalu berpadu hubungan langsung dengan Zat Pencipta alam jagat raya ini.

Muhammad Rasulullah, adalah Iman pertama, iman besar dari para ahli Tashauf . semalam malaman suntuk beliau terus beribadah tahajud, Istighfar, Dzikir, sembahyang sampai bengkak2 kakinya, sehingga tuhan kasihan kepadanya, sebagaimana firmanNya ; ( Thoh ( Muhammad )! Bukan maksud kami menurunkan Qur’an ini, supaya kamu menderita ).

Jajirah arabia ada dibawah kekuasaan Rasulullah, tetapi beliau tetap hidup sederhana. Suatu hari ‘Umar datang kerumah Rasulullah, dilihatnya Rasulullah sedang baring diatas tikar itu nampak pada punggungnya. Iba hati ‘Umar melihatnya dan menitiklah air matanya.
kenapa kau menangis ? “ tanya Rasulullah.

.. saya lihat raja Rumawi dan Persia diatas kasur sutra yang empuk. Tapi tuan tidur diatas sehelai tikar saja “ .

“ Apa ? kau mau supaya aku turut dan titu caracara kaisar hai ‘Umar ? “

dari ajaran dan tuntunan Rasulullah tersebut diatas, kita dapat mengerti apa maksudnya do’a beliau ; “ ya Tuhan semoga aku diberi karunia hidup sebagai seorang miskin dan kelak semoga aku dibangkitkan bersama-sama golongan orang miskin pula “ .

PARA SAHABAT RASUL DENGAN TASHAUF

Abubakar Sidiq Chalifah I adalah seorang yang sangat rajin beribadah, dan sangat takut kepada Allah. Beliau suka sekali membaca Qur’an sampai jauh malam.

Dalam suatu pertempuran besar, Rasulullah menganjurkan supaya umat islam memberikan pengorbanan ; harta bendanya. Maka datanglah Abubakar membawa semua harta kekayaannya. Rasulullah bertanya :

“ Apa yang kau tinggalkan buat anak istrimu dirumah ? “

“ Aku tinggalkan Allah dan RasulNya buat mereka “ .

Amirulmu’minin ‘Umar bin Ckathab itu Kepala Negara yang telah menggoncangkan sendi2 kerajaan Cosru dan Kaisar, yang dibanjiri oleh kekayaan dunia dari segenap penjuru, tetapi bagaimana kehidupannya, dan waktu beliau terlambat datang kemesjid, orang bertanya ; Kenapa beliau lambat datang

“ Maaf aku baru selesai mencuci bajuku ini “ . Baju yang hanya satu-satunya itu .

beliau biasa makan roti tampa yang lain lainnya, hanya ditaburi garam sedikit, dan biasa duduk atau baring diatas pasir.

“ Ali bin Abi Thalib, pahlawan yang gagah berani, pernah satu bulan hanya makan 3 butir kurma saja setiap harinya. Dalam rumah tangganya tidak punya perabotan apa-apa, kecuali sebilah pedang, yang jika dipakai, didak ada buat amparannya, jika diamparkan tidak ada buat selimutnya.

Mereka itu semua, kepala2 Negara. Dimana kemaharajaan Romawi dan Parsi bertekuk lutut dibawah kekuasaan mereka.

Tashauf adalah hidup sederhana hidup bakti dan taat, hidup cinta dan pengorbanan, hidup berjuang dijalan Allah demi untuk keunggulan Agama.

“ ARTI TASHAUF “

Bermacam-macam orang memberikan ( divinisi ) tentang Tashauf :
a.berasal dari nama seorang ahli ibadah dizaman jahiliyah, bernama Shufah.
b.Berasal dari kata Shuf, baju dari bulu , yang menjadi syi’ar ( tanda ) mereka.
c.Berasal dari kata Shafa, suci.
d.Berasal dari kata Ahlussuffah.
e.Pengertian yang lebih tepat, adalah sebagaimana keterangan Qusyairy, sederhana dan tidak begitu dicari2 , adalah sebagai berikut :
Kaum Muslimin dimasa Rasulullah disebut Para Sahabat .
Angkatan sesudah mereka , disebut Para Tabi’in.
Arkian, maka pertentangan2 diantara Umat Islam semakin memuncak, maka ada diantara para Ulama Ahlussunnah yang memisahkan diri, meninggakan masyarakat, bersemedi dan bertaqarub kepada Tuhan, yang kemudian dimasa Imam Ahmad bin Hambal, disebut Ahli Tashauf. Jadi timbulnya istilah Tashauf itu dimasa Imam Ahmad.

“ HUZAIFAH BIN JAMAN “

Beliau yang mula-mula memfalsafahkan tentang Ibadah Untuk itu disusunnya tatacara tertentu.

Huzaifah mengajarkan tarikatnya dalam sebuah madrasah kecil sederhana. Diantara para muridnya, ada beberapa sahabat yang terkenal, seperti ; ( Washibah dan Hasan Al-Bashry ).

“ HASAN AL-BASHRY “

Seorang Muridnya Huzaifah, seorang Mahaguru yang banyak menghasilkan imam2 yang terkenal, sep : Malik bin Dinar Dll.

Beliau membangun madrasahnya yang besar di Bashrah, dimasa Ckalifah ‘Ali. Kemudian disusul oleh madrasah yang ke II di Irak , dibawah asuhan Sa’id bin Musajjah. Lalu menyusul pula Madrasah yang ke III di Churasan, dibawah asuhan Ibrahim bin Adam.

“ PELAJARAN TASHAUF “

Pelajaran tashauf dalam Islam terbagi dalam ;

1. pendidikan kerohanian dan pendidikan budi pekerti, yang menurut istilah Tashauf disebut Ilmulmu’amalah “ ( tatacara hidup bermasyarakat ).
2. Latihan kerohanian dengan jalan beribadah dan mencintai Tuhan yang memancarkan Nur dan untuk memperoleh Ilham. Bagian ini dinamakan .. Tarikat

Tarikat terbagi dalam 4 Fase :

1.Fase I .: Praktek lahir, masa beribadah dengan berpaling dari keduniawian dan kemewahan, memencilkan diri dengan jalan I”tikaf , Dzikir , Istighfar, Sembahyang, disamping menjalankan kewajiban-kewajiban fardu, sunnat dan tatawwu.
2.Fase II . : Masa praktek batin, dengan jalan keluhuran budi kesucian hati, kemurnian jiwa,melawan nafsu dan memperindah acklaq.
3.Fase III. : Masa latihan dan perjuangan, dengan perjuangan mana jiwa menjadi kuat, terlepas dari kotoran keduniawian, membubung tinggi menjadi suci murni Rabbani, sehingga terlukis pada jiwa itu arti yang menjadi hakekatnya alam ujud ini. Sedikit demi sedikit tersingkap kasfah, Tabir yang menyelubungi jiwa, sehingga sampai pada keridhoan dan nurani yang tinggi.
4.Fase IV. : Masa peleburan secara keseluruhan, dimana waktu bermunajat seluruh perasaan pancaindra menjadi lenyap sama sekali, dengan sampainya jiwa pada tingkat ini, dapatlah mengenal ( Hakekatulwujud ) dengan mendapat kasfah, mengetahui rahasia2 alam dari ketuhanan, yang akhirnya dapat merasakan Ni’mat dan bahagia dalam menghadap kehadirat Tuhan.
Pada masa terahir fase IV. Banyak menghadapi kesulitan2 yang berbahaya, kalau kurang2 kuat Imannya, banyak para Shufi yang kehilangan kesadarannya, menjadi sinting atau abnormal.
“ KERAMAT “

keramat adalah hal2 luar biasa, yang diberikan kepada para Wali, orang-orang shalihin yang suci. Keramat menurut para Shufi, sebagai suatu pemberian dan anugrah dari Tuhan, buat mereka , adalah hal yang lumrah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Untuk jelasnya kejadian keramat itu berdalih sbb :
1.Tersebut dalam kisah Ashhabul Kahfi ( para penghuni gua ) dimana mereka tinggal / tidur dalam gua itu selama ( 300 ) tahun lebih.
2.Kisah Asif bin Berchia yang telah mendatangkan mahligai Bilkis kehadapan raja Sulaiman dalam sekejap mata.
3.Satu hadits yang menceritakan orang2 yang tertutup dalam suatu gua dengan batu besar, lantas mereka berdo’a kepada Allah, maka tersingkaplah batu besar itu.
4.Hadits Juraij, yang bisa berbicara waktu masih bayi.
Semua
itu adalah hal2 yang telah tersebut dalam kitab dan sunnah.

“ ALAM MISTAL “

Menurut kepercayaan ahli Tashauf, bahwa antara alam Jasmani dan alam Rohani itu, ada suatu alam, yang mereka sebut alam Mistal, atau alam Achal, alam titisan atau alam penjelmaan dengan dalih. :

1. Maka Jibrilpun menjelmalah kepada Maryam dengan rupa seorang manusia yang bagus “ . ( Qur’an )
2. menjelmanya Jibril as, waktu turun membawa wahyu Ilahy kepada Nabi , dalam bermacam-macam rupa dan bentuk . sekali merupakan seorang Badui, dsb.
3. Bangsa Jin, dapat menjelma dalam berbagai bentuk dan rupa.

Dengan dalih diatas, para shufi berpendapat ; Jika para Malaikat dan Jin dapat menjelma demikian rupa, maka jiwa Manusia yang taat dan sucipun, bila sudah sampai kepada derajat tertentu dalam keimana, peribadatan dan pelepasan jiwanya pada khadirat Tuhan , maka tidak Mustahil untuk dapat Menjelma sedemikian rupa.

“ SYARI’AT DAN HAKIKAT “

perhatikan kisah Chidir beserta Musa :

Waktu mereka keduanya naik perahu. Perahunya, oleh Chidir dirusakan, bertemu dengan seorang anak, anak itu dibunuhnya oleh Chidir, dilihatnya ada tembok yang hampir runtuh, tembok itu oleh Chidir diperbaikinya dengan tidak mengharapkan sesuatu upah.

Musa marah dan menuduh Chidir berbuat kejam, karena menurut pandapatnya / pada lahirnya, Chidir salah, itulah ( Syare’at.)

Chidir berani bertindak tegas, karena tahu, apa akibat dibalik tindakannya itu, sekalipun akibat itu belum menjadi kenyataan, itulah ( Hakikat.)

Mengetahui hakikat yang belum menjadi kenyataan, itu namanya ( Kasfah ) atau disebut juga ( Ma’rifat ).

Ada pencuri tertangkap. Pencuri itu dibawa kepada Rasulullah . Rasulullah menyruh Bunuh. Tetapi para sahabat mencegah.

Kata Rasulullah ; ,, Bunuh saja “ ! “ ya Rasulullah, kata para sahabat, dia kan hanya sekedar mencuri saja, mengapa mesti dibunuh ? “

,, Baiklah, jika demikian pendapatmu, potong saja tangannya” !

kemudian orang itu mencuri lagi, lalu dipotong pula kakinya,

dizaman Chalifah Abubakar, kedapatan orang itu mencuri lagi, lalu dipotong lagi anggotanya yang lainnya.

Tetapi orang itu masih juga dapat mencuri lagi.

Benar kata Abubakar, memang Rasulullah lebih tahu perihal orang tersebut, makanya beliau menyuruh dibunuh saja.

Achirnya orang itu dibunuh juga, hukum potong tangan menurut pendapat para sahabat, itulah hukun ( Syari’at ) namanya

Hukum bunuh , menurut pendapat Rasulullah, itulah hukum ( Hakikat ) namanya.

Tinjauan Rasulullah, bahwa pencuri itu mau tidak mau, harus dibunuh juga, itulah ( Kasfah ) namanya, atau dengan perkataan lain disebut ( Ma’rifat )

Jadi Syari’at , adalah keadaan menurut wajarnya / kenyataannya.

Hakikat : keadaan yang sebenarnya.

Kasfah : peninjauan lebih jauh, menurut istilahnya, tersingkapnya tabir lahir, untuk dapat ditinjau dari sudut batin , yang disebut juga (Ma’rifat ).
Ma’rifat : Pengetahuan dalam arti kata yang luas.

Atau dengan kata lain ; Syari’at itu pohon dan Hakikat buahnya.

“ DARI HAL CINTA “

Tashauf itu ibarat satu lagu, nada-nadanya adalah cinta, musiknya adalah kerinduan, inspirasinya adalah rayuan, penerawangannya tenggelam dalam meni’mati keindahan dunia Ketuhanan yang tinggi , titik tujuannya pelepasan jiwa, peleburan secara keseluruhan dalam haribaab Tuhan.

Dan kata2 ahli Tashauf itu semuanya adalah keindahan nyanyian dan rayuan sukma, semuanya adalah lagu, nada2 dan musik, Menurut mereka, hidup ini adalah nyanyian dan rayuan, ‘Asyik dan Ma’syuk. Oleh karena mereka selamanya senang berada diharibaab Tuhan.

Begitulah kecintaan mereka itu memancar dalam setiap baris dan hurup yang mereka tuliskan untuk diabadikan. Jadi Allah itu cinta. Agama itu cinta, hidup itu cinta.

Dengan cinta itulah para Shufi dapat meningkat ketingkat yang lebih tinggi. Bagi mereka hidup ini, bukanlah gelanggang pertempuran, satu sama lain saling bunuh-membunuh, bukan pula sebagai tempat pesta, berfoya-foya dan bikan pula kumpulan derita dan sengsara. Tapi bagi mereka, hidup ini adalah kesucian, keindahan, nada2 merdu dan Nur yang memancar, hubungan langsung dengan Tuhan dan cinta yang kudus dan abadi.

ARTI CINTA MENURUT QUR’AN

Dasar-dasar cinta dalam Tashauf itu, dinukil dari Nurulqur’an dan nada-nada Nubuwah, seperti ayat2 berikut ini ; katakanlah, jika kamu masih lebih mencintai orang tuamu, anak2mu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta benda yang kamu kumpulkn, perdaganganmu yang kamu takutkan rugi, lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan lebih kamu sukai daripada berjuang dijalan Allah, maka tunggulah, nanti Allah akan bertindak tegas terhadapmu.

Diantara do’a Rasulullah dalam bermunajat kepada Allah, sebagai berikut ; ,, ya Tuhan, aku mohon kecintaanMu dan kecintaan orang yang mencintaiMu, aku mohon dapat mengerjakan perbuatan yang dapat menyampaikan kepada kecintaanMu ya Allah, aku mohon supaya aku dapat lebih mencintaiMu daripada mencintai diriku sendiri dan mencintai anak istriku dan dari air tawar ‘’
Diterangkan oleh Rasulullah, cinta yang lebih tinggi lagi, katanya :

,, Ada manusia2 diantara hamba2 Allah yang mereka itu bukan para Nabi dan bukan pula para Syahid, tetapi para Nabi dan para Syahid bangga terhadap mereka “ . orang bertanya ;

,, Siapa mereka itu gerangan, ya Rasulullah, dan apa yang mereka kerjakan ? semoga kamipun dapat mencintai mereka “ .

,, Mereka, adalah satu kaum yang mencintai Tuhan, sedang mereka tidak mempunyai sanak saudara, tidak mempunyai harta apa2 . demi Allah wajah mereka memancarkan Nur , mereka itu ada ditempat2 cahaya. Mereka tidak pernah takut tidak pernah merasa susah “.

Siapa gerangan manusia2 yang berada ditempat2 yang begitu tinggi, sebagaimana diterangkan dalam ( Hadits Qudsi ; …..) Begitulah, hambaKu itu selalu bertaqarub kepadaKu dengan jalan membanyakan ibadah2 sunat, sehingga Aku cinta kepadanya. Dan dimana Aku adalah menjadi telinganya, sebagai alat pendengarannya, Aku menjadi matanya, sebagai alat penglihatannya dan aku menjadi tangannya, sebagai alat untuk menyerang lawannya. ………”

“ UWES AL-QARNY “
,, Hai ‘Umar, hai ‘Ali, Jika kamu bertemu dengan Uwea Al-Qarny kelak, mintalah kepadanya, supaya memintakan ampunan buat kamu, sebab do’anya sangat mustajab “. Bagitulah pesan Rasulullah.

Nun. Di-tengah padang sahara, hidup seorang pengembala kambing, bajunya compang camping, itulah Uwes Al-Qarny. Kepadanya ‘Umar dan ‘Ali mengharap supaya memintakan ampunan kepada Tuhan. Tetapi Uwes menolak, katanya ;

,, Selamanya aku tidak pernah memintakan ampunan buat seseorang, aku hanya memintakan buat kaum Muslimin seluruhnya “.

‘Umar minta nasihat

,, Dalam berbakti kepada Allah, mintalah RahmatNya, hati-hatilah akan kemurkanNya sewaktu kau berbuat ma’siat kepadaNya. Dalam pada itu janganlah engkau berputus asa “.

Setelah bercakap-cakap beberapa lamanya, Uwes pamitan, tetapi oleh ‘Ali ditahan, katanya ia masih seneng bercakap-cakap dengannya.

,, Sungguh aneh, kata Uwes, tidak kusangka bahwa orang yang telah mengenal Tuhannya, masih suka bercakap-cakap dengan orang lain .” Sambil pergi meninggalkan mereka.

Disamping ahli ibadah, Uwes juga adalah sebagai pahlawan yang gagah berani. Ia turut menumpas pemberontakan pemerintahan di Shifin yang hendak menggulingkan pemerintahan ‘Ali bin Abi thalib. Juga ia turut bertempur dalam melawan kerajaan Rumawi yang kemudian ia gugur sebagai syahid . Uwes tidak dikenal dalam masyarakat dibumi, tapi ia dikenal oleh semua penghuni dilangit.

“ IBRAHIM BIN ADAM “

Ibrahim bin Adam, seorang keturunan Raja2 Parsi yang biasa hidup mewah dengan segala kebesarannya.

Suwaktu beliau pergi berburu rusa. Ketika hendak melepas panahnya, mendesing pada telinganya, satu suara gemuruh, diangkasa raya ;

“ bukan untuk ini engkau dijadikan, bukan untuk ini engkau diperintahkan “.
Suara apakah itu, suara siapa, dan dari mana datangnya ?


Satu suara yang dasyat, satu suara dari langit.

Ibrahimbermenung, pandangnya menerawang keangkasa raya, kearah dari mana datangnya suara itu.

Ibrahim bermenung …………………………..
Bertanya-tanya dalam hatinya …………………………
Jadi ……………………………. Buat apa manusia hidup ? Apa artinya hidup ? Untuk apa manusia hidup ? Dimanakah kebenaran sejati itu ? dan kemana titik terakhirnya ?

Semua berpusat kepada satu kata, itulah hakikat yang abadi Satu kata, itulah rahasia alam ujud ini dan itulah lambang hidup , satu kata, itulah satu nama Kebesaran, yaitu ,, ALLAH ,,

Inilah jawaban, tersimpul dalam satu kata, yang merupakan sebagai jawaban, sebagai akidah, dan sebagai hakikat hidup.

Pengertian Tashauf menurut pendapat Ibrahim, adalah suatu keindahan, suatu kesempurnaan, suatu keagungan. Bukan tekanan, bukan penderitaan, bukan pula kesengsaraan. Tetapi Tashauf , adalah suatu keni’matan tinggi, satu pancaran suci dan satu kebahagiaan yang indah.
Dan kebahagiaan, adalah ketentaraman dan keridhoan, tetapi ketentraman tidak bisa dicapai kecuali dengan ibadah.

Demikian para Shufi, telah berhasil memetik kebahagiaan dunia dan akhirat.

“ ABU YAZID ALBUSTHAMY “

sejak waktu mudanya ia sudah mulai hidup memencil. Dua puluh tahun lamanya ia bersemedi. Disangkanya bahwa ia sudah sampai kepada apa yang dimaksud. Ia kembali kepada masyarakat, bertemu dengan seorang kakek2 , kilau kemilau sinar mukanya. Orang tua itu memperingatkannya ; Nak, sebenarnya engkau baru bertunas, belum sampai kepada buah. Abu Yazidpun kembali bersemedi lagi, 20 tahun lagi lamanya. Ia beribadah dengan penuh cinta, pengagungan dan peleburan pribadi dalam Zat Hakikat yang abadi.

Tetapi ia belum merasa puas, katanya ; sejak itu saja turut beribadah bersama-sama ahli2 Ibadah, turut berjuang bersama-sama pejuang2, turut sembahyang bersama-sama ahli sembahyang dan berpuasa bersama-sama ahli puasa, tetapi saja masih belum tahu tempat berpijak. Maka saja berdo’a, saja bertanya kepada Tuhan :

•ada manusia yang diajak bicara oleh Tuhannya, seperti Musa pernah diajak bicara waktu dibukit Sinai. Tetapi bicaranya, bukanlah seperti pembicaraan antara kita, tetapi bersifat wahyu, seperti diterangkan dalam ayat lain. Yang berbunyi : ( Tidak ada seorangpun manusia diajak bicara oleh Tuhan, hanya dengan jalan wahyu )
•ya Tuhan bagaimana caranya bisa sampai kepadaMu ?
•tinggalkan dulu dirimu, baru kau boleh datang kepadaKu “

menurut Abu Yazid, huibungan kepada Allah itu, terbagi dalam :

a.Ma’rifat, mengenal penghambaan dan ketuhanan, thaat dan ma’siat.
b.Ma’rifat, mengenal keagungan, kebesaran, kemurahan, dan taufiknya.
c.Ma’rifat, mengenal munajat dan merasa senang di HadiratNya.
d.Ma’rifat, mengenal Hati / jiwa.
e.Ma’rifat, mengenal rahasianya.

Abu Yazid sudah mengenal apa yang dikatakan rahasia itu, maka pribadinya lebur dalam ilham Tuhan, lebur pancaran NyrNya.
Ia hidup cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada semua yang hidup.

Ia hidup dengan semboyan cinta, makannya cinta, minumnya cinta dan hidupnya cinta.

Itulah bakti, itulah cinta kesucian.

Abu Yazid berseru kepada Tuhan, ya Tuhan, Ya Tuhan, Tuhan didunia dan diakhirat.

Ya Tuhan, inilah aku datang kepadaMu, kurniailah aku, meni’mati Nur cahayaMu.

Ya Tuhan semua yang didunia ini tidak ada artinya buat saya, kecuali Engkau satu. Kasihanilah hambaMu ini, yang sangat cinta kepadaMu, yang sangat rindu kepadaMu dan yang sangat mengharap kerinduanMu.

Maha suci Engkau dan Maha Qudus.

Engkau yang awal dan yang akhir, yang Dzahir dan yang Bathin. Semua tidak ada artinya bagiku, kecuali Engkau satu.

“BASYIR ALHAFI“

Chalifah Ma’mun ingin sekali bertemu dengan Basyir, orang yang hidupnya berkaki telanjang, tidak pernah pakai sepatu, atau terompah. Tetapi Basyir selalu menolak setiap diminta datang.

Chalifah minta bantuan Imam Ahmad, supaya suka membujuknya. Tetapi Basyir sudah lari dari kota . payah Imam Ahmad mencarinya. Nun jauh, disebuah pedusunan, ada sebuah gubuk yang menyerupai biara, atau biara menyerupai gubuk. Itulah rumah tempat tinggal Basyir.

Imam Ahmad diterima dengan baik, dan setelah menyatakan maksudnya, Basyir menjawab :
,,Apa sebenarnya yang dikehendaki oleh Chalifah daripadaku orang miskin ini. Apa perlunya kepadaku, kalu beliau selalu menuruti hawa nafsunya saja, sedangkan rakyat sekelilingnya tidak diperhatikan sama sekali nasibnya. Katakan kepadanya : Bahwa setiap Muslim akan ditanya dihadapan Allah tentang amalnya masing2. tetapi beliau nanti akan ditanya dan harus bertanggungjawab tentang nasib rakyatnya. Apa perlunya Chalifah meminta aku datang, bukankah aku ini orang miskin. Kalau pelu untuk menghiburnya, carilah orang lain, jangan aku. Aku adalah hamba Allah, aku tidak mau jadi budaknya”.

Demikianlah Basyir lari dari Ma’mun, lari dari Baghdad, lari dari keramaian kota dan maksiatnya, lari dari segala2, untuk mendekat kepada Allah.

Tashauf menurut Basyir adalah :
1.Hendaknya orang jangan memendamkan Nur kesuciannya sendiri, karena cahaya pengetahuannya.
2.Hendaklah orang jangan sampai bertentangan suara bathinnya dengan perintah2 Qur’an dan Hadits.
3.Hendaklah orang jangan sampai menggunakan kekeramatannya untuk merusak kehormatan orang lain.
Siapa manusia yang seperti Basyir ? Ia lepaskan sepetunya untukm pergi kepada Tuhannya

“ MALIK BIN DINAR “

pada mulanya malik bin Dinar, orang yang bergajul, seorang polisi yang kasar dan bengis, Ia jatuh cinta kepada seorang hamba wanita cantik, yang kemudian dikawininya. Tidak lama wanita itu meninggal, dan meninggalkan seorang anak perempuan. Tidak lama pula anaknyapu meninggal. Maka untuk melipur hatinya yang sedang gundah itu, ia cari hiburan dengan mabuk-mabukan minuman keras.

Sepanjang hari kerjanya hanya keliaran dijalan2 dipasar2 diwarung2. kalau hari sudah petang, baru ia pulang.

Suatu malam ia mimpi. Mimpi hari Qiamat yang dasyat. Seekor naga besar dari langit menyambar2 memuntahkan api dari mulutnya. Malik bin Dinar lari pontang panting. Bertemu dengan seorang tua yang sudah lanjut umurnya. Malik minta tolong Orang tua itu hanya menyuruh supaya lekas lari. Malik terus lari dan lari ……………….. terengah – engah, kembang kempis perutnya, letih lunglai seluruh persendiannya. Akhirnya ia bertemu anaknya itu memberi nasehat supaya Malik lekas kembali kepada Tuhan. Diterangkannya bahwa naga yang hendak mencaploknya itu adalah amalnya yang jahat, dan orang tua yang tidak sanggup memberi pertolongan itu amalnya yang baik yang hanya sedikit.

Setelah bangun dari tidurnya, Malik bin Dinar segera melempar2kan gelas dan botol2 minumannya kerasnya. Terus bertobat nasuha. Sejak itu, ia terus beribadah dan bertaqarub kepada Allah.

Malik bin Dinar jadi seorang penghiba dan santun, kasih sayang dan cinta terhadap sesama manusia dan semua manusia cinta kepadanya.

Saudara2 ! Kata Malik bin Dinar. Tuhan itu kasih sayang. Berbahagialah Sdr2 yang telah mendapat kasih sayangNya. Dan katakanlah kepada orang banyak bahwa Tuhan itu sangat kasih sayang kepada manusia semua. Sekiranya saudara2 tahu tentang kasih sayang itu, niscaya kalian tidak akan berbuat ma’siat kepadaNya, cintakah saudara2 kepada Allah ? jika benar2 kalian cinta kepadaNya itu, ialah banyak berdzikir, banyak ingat kepadaNya ; orang yang tidak suka me-muja2 kepada Tuhannya, itulah orang picik ilmunya, orang buta mata bathinnya, dan sia2lah seluruh hidupnya.

‘“ RABI”AH AL’ADAWIYAH “’

Rabi’ah Al’adawiyah, anak perempuan seorang miskin, bapaknya meninggal sewaktu ia masih kecil. Satu2nya pusaka yang diwarisinya dari bapaknya, ialah sebuah perahu yang biasa dipakai mengangkut orang2 yang hendak menyebrang sungai ( Dajlah ( Irak ), dari tepi ketepi, itulah pekerjaan bapaknya. Setelah meninggal, Rabi’ah meneruskan pekerjaannya itu, dibantu oleh temannya ‘Abdah.

Begitulah Rabi’ah harus bekerja keras setiap hari untuk mencari sesuap nasi. Kalau hari sudah sore, baru ia pulang kegubuknya yang kecil dan sunyi itu, karena telah ditinggalkan oleh kedua Ibu Bapaknya. Bila hari malam Rabi’ah menangis, menangisi nasibnya.
Kasihan anak perawan yang malang itu, Rabi’ah Al’dawiyah seluruh hidupnya harus menanggung derita. Ia harus tahan arusnya cucuran air mata.

Rabi’ah bertanya kepada dirinya : Apakah artinya hidup ini ? Apakah tujuan hidup ? apakah hidup itu hanya makan minum, tidur bersukaria atau berduka cita saja ? Atau apakah hidup itu ? Rabi’ah tidak tahu, tidak mengerti apa jawabannya.

Hanya Rabi’ah ada merasa terhibur sedikit, apabila sukmanya melagu, melagukan lagu rawan, sambil menyibak air. Dirasanya alam semesta yang hening itu, turut menyimakan suara suling, turut menikmati nada2 lagunya yang mengalun menuruti alunan ombak.

Sayup2 terdengar lagunya dalam bentuk syair yang merawan, melagukan tangisan jiwanya. Tetapi dia tidak mengerti hanya satu, yaitu bahwa jiwanya sedang merintih dan membawa hidupnya penuh derita. Derita yang dirasakan, tetapi tidak mengerti kenapa ia menderita ?

Kiranya penderitaan itulah yang mengantarkan Rabi’ah menuju kepada TuhanNya yang dicintaiNya dengan sepenuh hati dan jiwanya.

Rabi’ah jiwanya dilangit, badannya dibumi. Begitulah kehidupan Rabi’ah, sebagaimana dilukiskan dalam Sya’irnya :
Dalam jiwa,
dalam raga,
Aku bina
Singgasana,
Untuk kau bertahta.
Hanya Engkau satu-satunya
tempat aku bercengkrama
Bersemayamlah dala jiwa dan raga.

“ ALJUNAID “

GEMURUH SUARA GENDRANG
XSSSSSDDSDSDSD
Gemuruh suara genderang, manusia berjejal-jejal ingin melihat Chalifah lalu, pergi berburu, bersukaria dengan segala kebesaran dan pengiringnya.

Tiba2 menyeruak diantara orang banyak, seorang tinggi putih dengan menyeret-nyeret langkahnya, kemilau berpancaran sinar mukanya, semua mata memandang kepadanya, lalu datang mengurumuninya.

Dua kebesaran sedang bersaing. Masing2 merupakan lambang kebesaran keduniawian dan yang lain merupakan lambang kebesaran keimanan atau keachiratan.

Orang banyak yang datang mengurumuninya itu, dibawa oleh junaid kemesjid tempat beliau memberi ceramah dan wejangan, dimana banyak para pujangga dan sastrawan mendengarkan kuliahnya, banyak para fuqaha yang mengambil fatwa-fatwanya, banyak para sarjana yang mempelajarinya, banyak ahli Fashauf yang mrengikuti pelajarannya.

Disamping menjadi mahaguru, juga beliau seorang maha alim yang amalnya dalam satu malam ( 300 ) rakaat dan ( 30,000 ) tasbih, yang banyak berpuasa.

Tashauf menurut Al-Junaid, adalah menuruti jejak Rasulullah SAW.

Tashauf adalah kenaikan suci bagi jiwa yang suci untuk berhubungan langsung dengan Tuhan.

Hendaklah kamu beribadah kepada Allah, seperti kau lihat Dia, jika engkau tidak melihatNya, maka Dia melihatmu “.

“ DZUNUN AL-MISHRY “

haus , ia pergi mencari air, Rindu ia pergi mencari kekasih.

Ia pergi meninggalkan kampung halaman, pergi berkelana, dari kota kekota, mencari guru, mencari Syekh, pergi mengembara dari sahara ke sahara, dari lembah kelembah, mencari kekasih mencari hakekat.

Akhirnya bertemu dengan seorang Syekh ( guru ) disebuah gua ;
Dzunun : bagaimana jalannya supaya sampai kepada Tuhan ?
Syekh :Tinggalkan semua perselisihan dan pertentangan ! “
Dzunun : Bukanlah perselisihan antara para Ulama itu, suatu rahmat ? “
Syekh :Betul, kecuali dalam kemurnian kemahaesaan “ ( Tauhid ).
Dzunun : Apa maksudnya kemurnian dalam Kemahaesaan ? “
Syekh :Tidak adanya perhatian terhadap sesuatu, selain kepada Tuhan “
Dzunun : Apakah seorang Ulama akan merasa menyesal, bila kehilangan sesuatu selain dari Allah ? “
Syekh : Tetapi kenapa, Tuhan bisa lenyap dari pandangannya, hanya sewaktu bila merindu saja ? “
Dzunun : Berilah aku wejangan “ ,
Syekh : Ucapkan ,, ALLAH ,, dengan penuh rasa ketakutan “ .
Dzunun : Itu sudah sering aku ucapkan tapi tidak ada menyelinap dalam hati rasa takut sedikitpun “ .
Syekh : itu sebab kau Ucapkan menurut istilahmu, bukan menurut kehendak Tuhan “
Dzunun : Apa saranmu kepadaku dan apa tugasku sekarang ? “
Syekh : Hai Dzunun ! Bersemedi itu gampang, tetapi memberi penerangan dan tuntunan kepada masyarakat itu menjadi tugasmu yang utama “
Memang benar apa yang diwejangkan oleh Syekh tadi.

Penduduk lembah sungai Nyl ; kaum Alim Ulamanya, hanya sibuk memperb incangkan sekitar Zat, Sifat, Qidam, dan baharu, sebab dan musabab, tetapi hati mereka kosong dari ketakutan dan Chusyu ; sedang rakyat umum tenggelam dalam kechurafaan dan kema’siatan.

Dzinun mulai memetik kecapinya, memperdenganrkan kepada chalayak ramai lagu2 keimanan. Antaranya beliau berkata :
Jiwa itu murni,
Seperti cahaya yang lembut,
Sebab jiwa adalah urusan Tuhan.
Jiwa itu diciptakan oleh Allah tampa ada tabir alang-alang antara dia dan Tuhan. Tetapi karena hawa nafsunya, maka jiwa menjadi berselubung. Barang siapa bisa melawan hawa nafsunya, jiwa menjadi tinggi membungbung kealam atas, tersingkap kasfah, maka ia bisa bertemu dengan Tuhan .
Sebenarnya Tuhan tidak dapat dilihat. Dan ayat-ayat menyanggah melihat Tuhan, seperti :( Berkata Musa : … ya Tuhan, biar aku dapat melihat Engkau “ ,, Tidak mungkin engkau dapat melihatku, dijawab oleh Allah “ dan ayat yang berbunyi : ( Dia tidak bisa dicapai oleh penglihatan mata ). Adalah lebih tegas daripada ayat2 yang menetapkan melihat Tuhan, sep :( Waktu itu ada orang2 yang mukanya indah cemerlang, sambil melihat kepada Tuhannya ) yang aslinya berbunyi : ,, ILA RABBIHAA NAADZIRAH “ dan banyak kata2 ( Nadzara ) dalam Qur’an, yang berarti menunggu. Jadi , ,, sambil menunggu keputusandari Allah “. Dalam Hadits Mi’raj. ‘Aisyah menyanggah bahwa Nabi telah melihat Tuhannya, katanya : bohong orang yang mengatakan, bahwa Nabi telah melihat Tuhannya “.

Perkataannya ini ditentang oleh orang banyak dan dituduh Zindiq . dia dipanggil oleh Chalifah di Baghdad dan untuk diperiksa. Akhirnya Dzinnun dijatuhi hukuman mati. Tetapi hukuman mati itu dicabut kembali, setelah Chalifah dibikin berputar-putar diatas kursi singgasananya pada empat penjuru ruangan, oleh keramatnya. Dengan ini Chalifah mengakui kebenarannya.

Sungguhpun Dzinnun memiliki kekuatan bathin ( jiwa ) yang besar, namun jiwanya tetap merindu kepada Tuhan. Karenanya ia lebih senang bersemedi hidup memencil, daripada di kota penuh ma’siat.

•Zindiq orang yang pura2 Islam, tapi bathinnya tetap kafir. Sebagaimana dulu banyak orang-orang Yahudi dan Majusi, yang masuk Islam atau pura2 masuk Islam. Mereka berusaha menanam kekufuran, menyebarkan Bid’ah2 yang membawa kepada kenifakan, atau yang menjerumuskan umat Islam kedalam perpecahan, dengan maksud untu menjatuhkan Islam dan menggulingkan pemerintahan Islam.

“ ABDUL HUSAIN ANNURY “

MANUSIA Tashauf bukan orang mati yang sudah tidak mempunyai kemauan apa2, jika ia sedang bersemedi dan bertaqarrub. Bukan manusia pasip yang tidak mau tahu atau tidak mempunyai rasa tanggungjawab terhadap masyarakat sekelilingnya, jika ia sedang sembahyang dan bertahajud.

Satu jiwa yang tenang dan tentram, satu jiwa yang sedang suka dan ridho, satu waktu bisa memberontak dan menentang yang bersewenang-wenangan.

Satu hari Annury keair, ketepi sungai Dajlah hendak berwudhu, lalulah sebuah perahu tentara bersenjata lengkap. Perahu itu penuh muatan botol minuman keras.

Tiba-tiba annury melompat kedalam perahuitu. Semua, manusia Baghdad tahu siapa

Annury, dia seorang yang keras dalam membela Agama.
,, Ini kepunyaan Chalifah Almu’atadlid “. Seperti perajurit2 dalam perahu mempertahankan botol2 yang mereka bawa.

,, Tidak peduli “ Jawab Annury, sambil menerjang dan memecahkan semua botol2 dengan besi,

Annury ditangkap dan dibawa kemuka Chalifah, untuk diadili.

,, kenapa kau begitu berani berbuat salah ? “

,, Kaulah yang salah, kau dan pengikut-pengikutmu. Saya berani berbuat itu, karena saya kasihan kepadamu, supaya kau jangan terjerumus kedalam neraka, dan karena saya kasihan terhadap rakyat, sebab jika ada yang tidak beranibertindak, maka seluruh masyarakat akan berdosa “ .

,, Tapi, apa kau tidak takut akan hukuman Tuhan seru sekalian alam ? “

,, kalau begitu kau boleh kubebaskan dengan syarat jangan sekali-kali lagi berbuat begitu

,, Saya terima, dengan syarat; kau pun jangan sekali-kali lagi berbuat demikian. Dan jika kau berbuat, aku bertindak pula “.

HUJJATUL ISLAM IMAM ALGHAZALI
dia mencari ………………….
Dia tidak puas ………………….
Dipelajarinya Ilmu Fiqih sedalam-dalamnya, yaitu Ilmu Hukum2 Syara’, Undang2 Pidana dan perdata dalam Islam.

Tetapi ia belum puas, sebab jiwanya tidak bisa menerima cara diskusi2 an, cara soal jawab yang berbelit-belit. Apa yang ditulis oleh para Fuqaha, tidak dapat diresapkan dalam bathinnya, sebab yang dicarinya, ialah yang dapat diterima oleh jiwa dan hati.

Dipelajarinya ilmu Klam, atau Ilmu Tauhid, suatu Ilmu intinya falsafah keagamaan. Ulama2 ini banyak membicarakan hal Ketuhanan dan sifat2 Ketuhanan dan membikin gambar rencana pembangunan dengan Ilmu Pasti dan Al-jabarnya.

Dipelajarinya tentang falsafah, yang menjadi kebanggaan otak manusia, tetapi ia jadi bingbang tentang teori2 rumus2 kefalsafahan. Apa yang dicarinya masih belum ketemu, jiwanya masih kehausan, hatinya masih belum puas, kemajuan yang sudah dicapai oleh otak manusia itu, baru sedikit, jika dibanding dengan ilmunya Tuhan.

Sebab itu, dia pergi kepada Tuhan, memencilkan diri dari masyarakat ramai, bersemedi, bermunajat dan bertaqarrub kepada Tuhan, diserambi-serambi dan di-menara-menara mesjid.

Disinilah Ghazali baru merasa tenang dan tentram jiwanya.

Menurut Ghazali ; Cinta kepada Tuhan dan pelepasan jiwa dalam beribadah kepada Tuhan, itulah hidup, itulah tujuan hidup, itulah kebahagiaan hidup.

Dibawah ini dipersilahkan membaca teori’ Ghazali. Tentang hidup : kebahagiaan itu, adalah keni’matan dan kelezatan. Kelezatan sesuatu, menurut wataknya, dan wataknya sesuatu menurut kejadiannya.

Maka kelezatan mata dalam melihat yang indah2, kelezatan telinga dalam mendengar suara yang merdu. Demikianlah buat semua anggota. Dan kelezatan jiwa ialah Ma’rifat kepada Tuhan. Sebab untuk itulah jiwa dijadikan. Apa yang belum diketahui manusia, gembira. Jika sudah duketahuinya, ia merasa gembira. Demikianlah halnya jika manusia itu sudah mempunyai Ma’rifat kepada Tuhan, ia merasa senang dan dirindu, oleh karena kelezatan jiwa itu ialah Ma’rifat, semakin banyak Ma’rifat, semakin banyak pula kelezatannya. Tidak ada Ma’rifat yang lebih tinggi daripada Ma’rifat kepada Tuhan, dan tidak ada kelezatanyang lebih ni’mat daripada kelezatan Ma’rifat kepada Tuhan.

Semua kelezatan birahi bergantung kepada nafsu, bisa hilang karena mati. Tetapi kelezatan Ma’rifat kepada Tuhan, adalah bergantung kepada jiwa, kelezatan mana tidak bisa hilang karena mati, sebab jiwa tidak bisa mati, tetapi abadi. Bahkan kelezatan jiwa itu akan bertambah besar dan lebih banyak lagi, karena dengan kematian itu jiwa telah meninggalkan kegelapan kearah terang.

Imam Ghazali, telah berjasa besar terhadap masyarakat Islam, dengan membawa angin baru yang meniup kedalam jiwa dengan keimanan yang murni menuju kepada Tuhan, yang dapat dicapai oleh semua lapisan masyarakat, oleh para Ulama, oleh para sarjana dan oleh rakyat pada Umumnya.

“ IBIN ‘ATHA ASSAKANDARY “

Guru besar, ulama besar pada Universitas Azhar. Kuliahnya paling banyak dikunjungi oleh para siswa. Beliau seorang ulama ahli ( Dzahir ), kontra ahli Tashauf dan ahli kebathinan, terutama beliau banyak menyerang ( Abil ‘Abbas Al-Mursi dan Imam Syadzili ).
Suatu waktu, ketika beliau sedang memberikan ceramah dihadapan murid2nya dan orang banyak, beliau menyerang dan memaki-maki kedua tokoh ahli Tashauf tersebut habis-habisan, tiba2 beliau berhenti dan bertekun, terdengarlah olehnya suatu suara membisik ; ,, mereka itu, adalah orang-orang yang telah diridhoi oleh Tuhan dan mereka ridho kepadaNya. Karenanya tidak patut kau menyerang mereka “.
Suara pakah itu ?
Siapakah yang membisik pada telinganya dengan nada yang lembut merayu itu ?
Pikirannya kalut, hatinya gelisah. Akhirnya diputuskannya untuk berkunjung kepada ( Imam Abil Abbas Al-Musri ).seorang tokoh Tashauf yang besar dengan harapan dapatlah kiranya suatu petunjuk daripadanya.
Kebetulan Imam Mursi sedang memberikan ceramah tentang ketashaufan, diantaranya beliau menerangkan :
Bahwa tingkata para Salikin ( Orang2 yang mengamalkan ketashaufan ) itu adalah ;
1.Islam, tingkatan ini berarti penyerahan diri dan ketaatan, dengan menjalankan kewajiban2 Syara.
2.Iman, tingkatan ini, tingkatan Ma’rifat, mengenal hakekatnya Syara’, dengan jalan mempelajari dan mengetahui kewajiban2 peribadatan.
3.Ihsan, tingkatan ini berarti penyaksian atas hakekat Tuhan dan ketuhanan, dalam jiwa.
Atau jika disimpulkan sebagai berikut :
1.Syare’at
2.Hakekat
3.Yaqin
Keesokan harinya Ibin ‘Atha pergi lagi, diantara percakapannya sbb :
Ibin ‘Atha ; sebenarnya, kini aku jadi cinta kepadamu “.
Abul ‘Abbas : ,, Semoga Tuhanpun cinta kepadamu, sebagaimana engkau cinta kepadaku “
Ibin ‘Atha : Aku tidak mengerti apa yang menjadi pangkal dan sebabnya kini aku jadi susah dan gelisah “
Abul ‘Abbas : ,, Sifat manusia hanya empat : senang dan susah, taat dan ma’siat ;
Jika sedang senang, sewajibnya kau bersyukur,
Jika sedang susah, sewajibnya kau sabar,
Jika sedang menjalankan taat sewajibnya kau banyak berterima kasih,
Jika terlanjur Ma’siat, sewajibnya kau lekas minta ampunan “.
Dengan pergaulannya yang samakin rapat dengan Imam Abul ‘Abbas Almursi, maka kini Ibin ‘Atha, disamping sebagai tokoh ( Ahluddzahir ), juga terkenal sebagai tokoh besar Tashauf.

“ ABDUL QODIR JAELANY “
Aneh ………………………..
Hari puasa, bulan Ramadhan. Suatu hari suntuk, bayi itu tidak mau menete, tapi anehnya waktu berbuka, bayi itu menangis minta menete. Benar setelah diberinya susu oleh ibunya, ia terus mengisap.

Itulah Abdul qodir Jaelany, waktu masih bayi, sebulan suntuk dalam bulan Ramadhan, ia tidak mau menete waktu siangnya, ia baru mau menete bersamaan dengan para sha’imin berbuka.

Sejak bayi Abdul qodir jaelany sudah hidup dalam ibadah. Begitulah sampai ia dewasa, ia menyingkiri masyarakat ramai, pergi memncil di gurun sahara, untuk mencari Tuhannya, mencari kehidupan rohani, mencari pancaran2 Nur Illahy.

Dua puluh lima tahun lamanya, ia hidup berkelana dengan beribadat, tidak mengenal masyarakat dan tidak dikenal oleh masyarakat. Dalam pada itu ia bertemu dengan Nabi Chidir dan berkenalan dengan beliau. Lama Abdul Qodir Jaelany berkenalan dengan Nabi Chidir, tetapi ia tidak tahu. Bahwa temannya itu, adalah Nabi Chidir.

Achirnya setelah cukup amalnya dan telah banyak peroleh Ilham, baru abdulqodir Jaelany tahu, bahwa temannya itu adalah Nabi Chidir, setelah beliau mengucapkan selamat

berpisah ; Hari ini kita berpisah, untuk menjadi teman selanjutnya, cukuplah kau punya hati dengan Ilham dari Tuhan, dan kini Tuhan telah memperkenankan engkau untuk kembali kepada Masyarakat.

Demikianlah Abdulqodir Jaelany kembali kebaghdad, untuk memberikan tuntunan dan bingbingan kepada masyarakat.

Waktu siang ia mengajar. Waktu malam ia beribadah, sembahyang dan berdzikir, sampai sepertiga malam. Pada waktu itu, demikian kata Al Hury menceritakan Abdulqodir Jaelany diwaktu malam, ketika saya bertemu kerumahnya, ku lihat badannya menjadi kecil dan semakin kecil, lalu kembali jadi besar dan semakin besar, achirnya naik menghubung keudara, sampai lenyap dari pandanganku.

Seterusnya kata Hury ; pada waktu sepertiga malam yang kedua ( tengah malam ) dia sembahyang, membaca Qur’an, lama ia sujud, lalu duduk dan bertekun, ia berdo’a dan berdzikir. Dalam pada itu kulihat dia sudah diliputi oleh Nur cahaya Rabbany, dan … ia lenyap dalam Nur itu.

Praktek Tashauf, kata Abdulqadir Jaelany, bukan barang yang gampang dan enteng, tapi itu adalah amal para alim dan para Nabi. Tashauf adalah jalan menuju Hakekat, hanya orang2 besar yang mendapat ilhalah yang dapat menempuh jalan itu. Tashauf adalah suatu bidang yang penuh cobaan dan ujian, orang tidak bisa tahan, kecuali mereka orang2 kuat dan ada bakat, mereka para rohaniawan ( Ahli kerohanian ). Tashauf adalah kenaikan jiwa membungbung keatas langit, tidak akan sampai kesana, hanya garuda2 yang besar dan kuat sayapnya.

Tidak ada komentar: