MEMISAHKAN DIRI DARI TARUMANAGARA
-
Ditulis oleh Administrator
-
Dilihat: 1781
Pemisahan Galuh terjadi sejak
jaman Wretikandayun yang berkuasa pada 534 Saka (612 M) sampai dengan
702 M, pada saat itu di Tarumanagara sudah mendekati akhir hayatnya dan
malih rupa menjadi kerajaan Sunda (pura) yang diperintah oleh Terusbawa.
Wretikandayun menggantikan posisi
Sang Kandiawan, ayahnya. Kemudian Wretikandayun memindahkan pusat
pemerintahannya kedaerah baru yang terletak di Karang Kamulyaan Ciamis.
Lokasi tersebut berada ditengah-tengah dua sungai, yakni Citanduy dan
Cilumur, yang ia beri nama Galuh (permata).
Sangat sulit dianalisa tentang
alasan Galuh Kendan memisahkan diri, apakah karena Kendan sudah merasa
besar dan memiliki kekuatan yang seimbang dengan Tarumanagara, atau
karena menganggap tidak ada lagi ikatan emosional antara Tarumanagara
yang berubah menjadi Sundapura dengan Galuh. Namun alasan yang terakhir
banyak disebut-sebut sebagai trigger-nya, sedangkan alasan pertama hanya
dijadikan premis pelengkap.
Kondisi Tarumanagara
ketika itu memang sedang menurun dan sudah kurang berwibawa dimata
raja-raja daerah, disinyalir terjadi pada masa Sudawarman, Pertama,
pemberian otonomi kepada raja-raja bawahan yang diberikan oleh
leluhurnya tidak dijaga hubungan baik. Mungkin juga karena
ia tidak menguasai persoalan Tarumanagara, Karena sejak kecil tinggal
dan dibesarkan di Kanci, kawasan Palawa.
Kalaupun mampu
menyelesaikan tugas pemerintahannya, hal ini disebabkan adanya kesetiaan
dari pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta. Pasukan
ini sangat setiap terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya
berpikir: bagaimana menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan
dapat diselesaikan dengan baik.
Kedua, pada jaman Sudawarman telah
muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang pamornya sedang menaik.
Seperti Galuh, ditenggara Jawa Barat, merupakan daerah bawahan. Selain
Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai ada
didalam masa keemasannya. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan besar,
yakni Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali.
Kemerosotan pamor Tarumanagara
tidak akan berakibat parah jika para penggantinya dapat bertindak arif
dan mampu menikan pamor kerajaan kembali. Hingga pada setelah wafatnya
Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi. Kemudian
digantikan menantunya, yakni Tarusbawa dengan gelar Maharaja Tarusbawa
Darmawaskita Manungmanggalajaya Sunda sembawa.
Tarusbawa memerintah sejak tahun
591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M), sebelum menjadi penguasa
Tarumanagara ia menjadi raja Sundapura, raja daerah dibawah
Tarumanagara.
Tarusbawa sangat menginginkan
untuk mengangkat Tarumanagara kembali kemasa kejayaannya. Ia pun
memimpinkan kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang
bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia merubah nama
Kerajaan Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (Sundapura atau
Sundasembawa).
Namun tentunya sangat berbeda
dengan Purnawarman, selain ia menguasai strategi peperangan dan
pemerintahan, ia pun dikenal sebagai raja Tarumanagara yang full Power.
Penggantian nama kerajaan yang ia
lakukan tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan dengan raja-raja
bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan
Sunda berakibat raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan
kesejarahan, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan
seorang menantu dan bekas raja Sundapura.
Mengenai penggantian
nama Tarumanagara, dimungkinkan sebagai akibat pindahnya ibukota
Tarumanagara ke Sundapura, sehingga iapun mengikuti nama Ibukotanya,
bukan asal kerajaannya. Karena Purnawarman pun dahulu berkedudukan di Sundapura dengan nama kerajaannya Tarumanagara.
Jika diurut sejarah raja-raja Galuh
maupun Sunda keduanya masih keturunan raja Tarumanagara. Dimungkinkan
Tarusbawa masih keturunan Purnawarman, karena ia raja di Sundapura, pada
masa Purnawarman menjadi ibukota Tarumanagara. Namun ada juga spekulasi
yang berpendapat, Tarusbawa dan leluhurnya menjadi raja Sundapura
karena adanya pemberian otonomi kepada raja-raja daerah yang ditaklukan
Tarumanagara pasca Purnawarman. Sedangkan Wretikandayun, raja Galuh
adalah cucu dari Tirtakancana, putri raja Tarumanagara.
Tentang letak Sundapura jika
dikaitkan dengan prasasti di Kampung Muara Cibungbulang dan Prasasti
Kebantenan menimbulkan pertanyaan. Karena bisa ditafsirkan, bahwa
perpindahan ibukota Tarumanagara dari Sundapura telah terjadi sejak masa
Suryawarman. Selain itu, posisi letak prasasti Muara dahulu termasuk
berada diwilayah kerajaan Pasir Muara. Bisa saja Sundapura diduga berada
di wilayah Bogor, mengingat kerajaan Pajajaran, kerajaan yang terkait
dduga keras terletak di Bogor, sedangkan Tarumanagara diduga keras
terletak di Bekasi.
Didalam Pustaka Jawadwipa diterangkan mengenai lokasi Sundapura, :
“Telas
karuhun wis hana ngaran deca Sunda tathapi ri sawaka ning tajyua
Taruma. Tekwan ring usana kangken ngaran kitha Sundapura. Iti ngaran
purwaprastawa saking Bratanagari”
[dahulu telah
ada nama daerah Sunda tetapi menjadi bawahan kerajaan Taruma. Pada masa
lalu diberi nama Sundapura. Nama ini berasal dari negeri Bharata].
Keinginan
melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, penguasa
Galuh bukan seuatu yang muskil untuk dilaksanakan, mengingat Galuh telah
merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena memiliki hubungan
sangat baik dengan Kalingga, dari cara menikahkan Mandiminyak, putranya
dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat.
Isi surat dimaksud
intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada
di sebelah Timur Citarum tidak lagi tunduk kepada Tarumanagara dan tidak
lagi mengakui raja Tarumanagara sebagai ratu. Tetapi hubungan
persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab.
Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Tarumanagara janganlah
menyerang Galuh Pakuan, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari
angakatan perang Tarumanagara, dan memilki senjata yang lengkap. Selain
itu Galuh juga memiliki bersahabat baik dengan kerajaan-kerajaan di
Jawa Tengah dan Jawa Timur yang siap memberikan bantuan kepada Galuh
kapan saja.
Permintaan untuk
memisahkan diri tersebut tidak akan dikabulkan, namun apabila terjadi
peperangan maka berdasarkan perhitungan Tarusbawa pasukan Tarumanagara
yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, sehingga
sulit untuk memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang
visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan
baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.
Pada kisah berikutnya, Tarusbawa
menerima tuntutan Wretikandayun. Ia merelakan kerajaan terpecah menjadi
dua. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negara.
Dalam tahun 670 M, berakhirlah
kisah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat.
Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi
kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan
Galuh.
Berikut adalah nama-nama raja sejak menjelang hingga berahirnya Tarumanagara :
-
SANG RESIGURU / MANIKMAYA (526 – 568) Kerajaan Kendan Nagreg
Pendiri Kerajaan Kendan (Kerajaan Agama) Menantu Suryawarman (Raja Tarumanegara)
-
RAJAPUTRA / SURALIM (568 – 597) Kerajaan Kendan Nagreg
-
SANG KANDIAWAN / RAJARESI / RAHIYANGTA (597 – 612) Kerajaan Medangjati Kuningan,
Yang kemudian menjadi Pertapadi Layungwatang (daerah Kuningan)
-
WRETIKANDAYUN (612 – 702) Kerajaan Galuh.
Dikenal sebagai raja Galuh pertama bahkan dianggap pendiri Galuh pasca Kendan, wafat 702 M dalam usia 111 tahun.
Dalam tahun 670 M Tarumanagara berahir sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Barat. Namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah Barat Citarum menjadi kerajaan Sundapura, sedangkan disebelah Timur Citarum berdiri kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut dimasa berikutnya disebut juga Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh.
-
AMARA bergelar MANDIMINYAK (702 – 709) Kerajaan Galuh
Wretikandayun mengangkat Amara, putra bungsunya sebagai putra Mahkota, dengan gelar Mandiminyak
-
SENA / BRATASENAWA (709 – 716) Kerajaan Galuh
Sena (Sang Salah) adalah putra Mandiminyak dari hasil hubungannya dengan Nay Pwahaci Rababu.
-
PURBASORA (716 – 723) Kerajaan Galuh
Karena merasa punya hak mahkota dari Sempakwaja, Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Sena
-
SANJAYA (723 – 732) Kerajaan Sunda - Galuh
Saat Tarusbawa meninggal tahun 723, kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya.
Di tangan
Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali. Sanjaya / Rakryan Jambri
adalah putera Sena dari Sannaha puterinya Mandiminyak dengan demikian ia
merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, yang kemudian dengan bantuan
Tarusbawa menyerang Galuh. Penyerangan ini bertujuan untuk melengserkan
Purbasora
-
SANJAYA (732 – 754) Kerajaan Galuh Kalingga Bojong Karangkamulyan
Sanjaya memegang kekuasaan di Kalingga selama 22 tahun (732 – 754)
-
RARKYAN PANARABAN / TAMPERAN (732 – 739) Kerajaan Sunda - Galuh
Tahun 732, Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh kepada puteranya Rarkyan Panaraban (Tamperan)
Rarkyan
Panaraban berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu
membagi kekuasaan pada dua puteranya; Sang Manarah (yang dalam carita
rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh, serta Sang Banga (Hariang Banga)
di Sunda
-
SANG MANARAH / CIUNG WANARA (739 – ? ) Kerajaan Galuh
Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi dari Galuh, yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).
-
SANG WELENGAN (806 – 813) Kerajaan Galuh
-
SANG PRABHU LINGGABHUMI (813 – 842) Kerajaan Galuh
Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa di Sunda selama 24 tahun (795-819). Dan ketika kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh Rakryan Wuwus (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.
Sungai Citarum Pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh
Dari uraian terdahulu maka kita ketahui bahwa Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Cipamali di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.
Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah yang berbahasa Sunda,
ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, ceritera mengenai
Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja
resi selama lima belas tahun. Sebagaimana yang telah di ceriterakan di
awal, selanjutnya kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh
yaitu Sang Wretikandayun.
Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia di tahun 669,
kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Tarusbawa dengan gelar Maharaja
Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sundasembawa, menantunya dari
Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarusbawa
memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin
oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum sebagai batasnya.
KERAJAAN KEMBAR
Wretikandayun punya tiga anak lelaki: Rahiyang Sempakwaja (menjadi resiguru di Galunggung), Rahiyang Kidul (jadi resi di Denuh), dan Rahiyang Mandiminyak. Setelah menguasai Galuh selama sembilan puluh tahun (612-702), Wretikandayun diganti oleh Rahiyang Mandiminyak, putra bungsunya, sebab kedua kakaknya menjadi resiguru.
Dari Nay Pwahaci Rababu,
Sempakwaja mempunyai dua anak: Demunawan dan Purbasora. Akibat tergoda
oleh kecantikan iparnya, Mandiminyak sampai terseret ke perbuatan nista,
sampai melahirkan Sena (atau Sang Salah). Sedangkan dari istrinya, Dewi
Parwati, putra dari Ratu Sima dan Raja Kartikeyasingha, Mandiminyak
mempunyai putra perempuan yang bernama Sannaha. Sannaha dan Sena lantas
menikah, dan mempunyai putra yang bernama Rakryan Jambri (atau disebut
Sanjaya).
Kakuasaan Galuh yang diwariskan pada Mandiminyak (702-709),
kemudian diteruskan oleh Sena. Karena merasa punya hak mahkota dari
Sempakwaja, Demunawan dan Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Sena
(tahun 716).
Akibat terusir, Sena dan keluarganya lantas mengungsi ke Marapi di
sebelah timur, dan menikah dengan Dewi Citrakirana, putra dari Sang Resi
Padmahariwangsa, raja Indraprahasta.
Dengan demikian
diketahui bahwa nama Galuh sudah dikenal sebagai nama kerajaan sejak
awal abad ke-8, yang diabadikan dalam Prasasti Canggal yang berangka
tahun 732 Masehi menyebut nama Sanjaya sebagai Raja yang berkuasa di
Galuh, yang wilayah kekuasaannya berpusat di Priangan Timur sekarang. Selanjutnya,
pusat kerajaan berpindah-pindah ke Kawali, kemudian ke Pakuan Pajajaran
(Bogor sekarang) dengan nama Kerajaan Sunda , dan berjaya sepanjang
delapan abad hingga berakhir tahun 1579.
Kerajaan Galuh inilah kerajaan
yang berjaya paling lama di seluruh Nusantara. Ketika pusat kerajaan
berpindah – pindah, di Galuh sendiri tetap ada raja yang memerintah dan
1535 – 1579 Prabu Haur Kuning saat itu yang sedang berkuasa di Galuh dan
ketika Kerajaan Sunda runtuh tahun 1579, di Galuh masih memerintah
Maharaja Cipta Permana alias Prabu Cipta Sanghiang di Galuh, putra Prabu
Haur Kuning. Ketika Prabu Cipta wafat, putranya yaitu Prabu Galuh Cipta
Permana menggantikan kedudukannya di Gara Tengah.