Minggu, 05 Januari 2014

Makam Sunan Jati CirebonGunung


Sunan Gunung Jati dikenal juga sebagai Syarif Hidayatullah. Ia adalah putera dari Nyai Rara Santang, salah seorang puteri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari ibunda Nyai Subang Larang. Ayahnya bernama Syekh Maulana Akbar yang berasal dari Negeri Gujarat di India Selatan. Dengan demikian, ia adalah salah satu cucu dari raja terbesar Pajajaran. Sunan Gunung Jati dikenal sebagai satu-satunya anggota Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Tatar Pasundan atau wilayah Jawa Barat.

MGJ1

Sepeninggal Prabu Siliwangi, Kerajaan Pajajaran mengalami kemunduran dan terpecah belah. Salah seorang puteranya, Raden Walangsungsang, memisahkan diri dari kekuasaan pusat dengan mendirikan Keraton Cirebon dengan gelar Prabu Cakrabuana. Sang prabu tidak memiliki seorangpun putera laki-laki. Tatkala Syarif Hidayatullah telah dewasa dan kembali dari pengembaraan di Tanah Suci Mekkah, maka ia kemudian dinikahkan dengan saudara sepupunya yang bernama Dewi Pakungwati. Kelak Syarif Hidayatullah menggantikan tahta uwaknya dan membangun Keraton Pakungwati yang kini dikenal sebagai Keraton Kasepuhan Cirebon.
Setelah wafat, Sunan Gunung Jati dimakamkan di sebuah bukit kecil yang dikenal sebagai Gunung Sembung. Kompleks pemakaman ini berada di lintasan Jalan Cirebon – Indramayu, kurang lebih berjarak 4 km dari pusat Kota Cirebon ke arah utara. Sebagai salah seorang wali penyebar agama Islam, makam Sunan Gunung Jati selalu dipadati oleh para peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan kaum muslimin dari luar negeri.

MGJ5

Memasuki area pemakaman dari jalan utama, peziarah akan menjumpai barisan toko-toko yang menjajakan aneka rupa kebutuhan ziarah, seperti kembang tujuh rupa dan kemenyan. Di samping itu, kebanyakan dari toko-toko tersebut juga menjual aneka perlengkapan dan peralatan ibadah
, mulai dari sarung, peci, baju koko, mukena, tasbih, hingga kitab suci Al Qur’an dan berbagai kitab ataupun buku-buku keagamaan yang lain. Menambah semarak, di banyak toko juga menjajakan barang-barang khas Cirebon, seperti kujang, aneka koas, kain batik, bahkan senjata tajam semisal kujang dan keris.
Jika akan memasuki area pemakaman, peziarah akan melewati gerbang gapuro utama yang tersusun dari tatanan batu bata merah yang berdiri tambun dan anggun. Tepat di belakang gapuro inilah berjejeran para peminta sedekah yang membawa wadah penampung uang sumbangan, seperti kotak amal, hingga panci baskom dari tembaga.
MGJ3

Selepas gapuro utama, sebenarnya terdapat 9 pintu makam yang masing-masing sekaligus membedakan tingkatan-tingkatan area makam yang berundak membentuk terasiring. Setelah beberapa lika-liku lorong ditempuh, peziarah hanya dibatasi hingga di depan pintu ke lima yang dikenal sebagai pintu Pasujudan. Di sinilah kebanyakan pengunjung memanjatkan doa ataupun tahlil lengkap dengan Surat Yasin. Antara tempat Pasujudan dengan kompleks dalam makam dibatasi pintu terkunci rapat dan hanya bisa dimasuki oleh para kerabat Keraton Cirebon dan abdi dalem terpercaya saja.
Sebagai suatu pengetahuan tambahan, para abdi dalem Kanjeng Sultan yang dipercaya menjaga dan mengurusi kompleks Makam Sunan Gunung Jati ini jumlahnya selalu 108 orang. Mereka adalah anak-cucu atau keturunan dari para prajurit Keling dari Kerajaan Kalingga yang konon dulu sempat terdampar di perairan Cirebon dan terpilih untuk menjadi pengawal pilihan Kanjeng Sunan Gunung Jati.

MGJ2 

Suasana di depan pintu Pasujudan hampir dapat dipastikan selalu ramai dan penuh sesak dengan para peziarah yang datang silih berganti. Tidak hanya siang dan malam, para peziarah juga banyak yang datang justru di jam-jam setelah tengah malam. Puncak kepadatan peziarah biasa terjadi di malam Jum’at Kliwon maupun Selasa Legi.
Di sisi kanan dan kiri pintu Pasujudan terdapat beberapa padasan berisi air suci untuk berwudlu para peziarah. Air tersebut terkadang juga banyak diwadahi dalam botol air mineral untuk dibawa pulang oleh para peziarah. Di area kompleks makam juga terdapat beberapa sumur sumber air yang dikeramatkan, seperti sumur kamulyan, sumur djati, kanoman, kasepuhan, dan jalatunda. Khusus mengenai sumur jalatunda, konon dulu dibuat oleh Sunan Kalijaga pada saat rombongan para wali berkunjung ke wilayah Cirebon. Tanah Cirebon sedari dahulu dikenal tandus dan sangat sulit untuk menemukan sumber air tawar. Maka pada saat akan menunaikan sembahyang, para wali memerintahkan Sunan Kalijaga untuk membuat atau menemukan mata air untuk berwudlu. Akhirnya dengan menancapkan sebatang ranting kecil, muncullah sebuah pancaran air yang lama-kelamaan kian membesar sehingga amblas dan membentuk sebuah sumur. Sumur inilah yang dikenal sebagai sumur jalatunda.

MGJ4

Berziarah ke makam wali terkenal seperti Sunan Gunung Jati banyak membawa hikmah tersendiri bagi setiap peziarah. Nilai-nilai keutamaan dan keteladan akhlak dari sang sunan dapat dijadikan contoh bagi segenap kaum muslimin di sepanjang masa. Jika sampeyan pernah mengunjungi makam para sunan yang lain di Demak, Kudus, Muria, Gresik, Ampel, atau Giri, maka baru akan lengkap jika sampeyan juga menyempatkan diri berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon ini.

Kyai Haji Asnawi Caringin Ulama Banten


KH.ASNAWI CARINGIN ( ULAMA DAN PENDEKAR BANTEN )

Kampung Caringin dengan pesona Laut yang sangat mempesona diambil dari kata “beringin” yang artinya “pohon teduh yang Rindang  disana terdapat Maqom Auliyaillah seorang ulama pejuang bernama KH.ASNAWI yang orang kampung biasa memanggil dengan sebutan “mama Asnawi”  yang telah mengayomi masyarakat yang dianalogikan sebagai pohon beringin .

kh.Asnawi Caringin Banten  

KH.ASNAWI CARINGIN BANTEN

KH.Asnawi lahir di Kampung caringin sekitar tahun 1850 M, ayah beliau bernama Abdurrahman dan ibunya bernama  Ratu Sabi’ah dan merupakan keturunan ke 17 dari Sultan Ageng Mataram atau Raden Fattah . Sejak umur 9 tahun Ayahnya telah mengirim Kh.Asnawi ke Mekkah untuk memperdalam Agama Islam. Di mekkah beliau belajar dengan Ulama kelahiran Banten yang telah termasyhur namanya bernama Syech Nawawi Al Bantani.Kecerdasan yang di miliki beliau dengam mudah mampu menyerap berbagai dsiplin ilmu yang telah di berikan gurunya. Setelah dirasa cukup lama menimba ilmu dari gurunya maka Syech Nawawi Tanara Banten menyuruh muridnya Kh.Asnawi untuk pulang ketanah air untuk mensyiarkan agama Alloh.
Sekembalinya dari Mekkah Kh.Asnawi mulai melakukan dakwah ke berbagai daerah , karena ketinggian ilmu yang dimiliki nama Kh.Asnawi mulai ramai dikenal orang dan menjadi sosok ulama yang menjadi panutan masyarakat Banten. Situasi Tanah air yang masih di kuasai Penjajah Belanda dan rusak nya moral masyarakat pada waktu membuat Kh.Asnawi sering mendapat Ancaman dari pihak pihak yang merasa kebebasannya terusik.  Banten yang terkenal dengan Jawara jawaranya yang memiliki ilmu Kanuragan  dan dahulu terkenal sangat sadis dapat di taklukkan berkat kegigihan dan perjuangan Kh.Asnawi . Beliau juga terkenal sebagai Ulama dan Jawara yang sakti yang sangat di segani  oleh kaum Penjajah Belanda .Kh.Asnawi dalam melakukan dakwahnya juga mengobarkan semangat Nasionalisme anti Penjajah kepada masyarakat hingga akhirnya Kh.Asnawi di tahan di Tanah Abang di asingkan  ke Cianjur  oleh Belanda selama kurang lebih satu tahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan kepada pemerintah Hindia Belanda , Apa yang dilakukan Kh.Asnawi   mendapat dukungan penuh dari rakyat dan dan para ulama  lainnya, seperti para bangsawan dan para jawara. Semenjak runtuhnya kesultanan Banten, terjadi sejumlah pemberontakan yang sebagian besar dipimpin oleh tokoh-tokoh agama. Seperti, pemberontakan di Pandeglang tahun 1811 yang dipimpin oleh Mas Jakaria, peristiwa Cikande Udik tahun 1845, pemberontakan Wakhia tahun 1850, peristiwa Usup tahun 1851, peristiwa Pungut tahun 1862, kasus Kolelet tahun 1866, kasus Jayakusuma tahun 1868 dan yang paling terkenal adalah Geger Cilegon tahun 1888 yang dipimpin oleh KH. Wasid.
Selama di pengasingan Kh.Asnawi tetap melakukan Dakwah mengajarkan Alquran dan Tarekat kepada masyarakat  sekitar dan  setelah dirasa Aman Kh.Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin untuk melanjutkan perjuangan mensyiarkan Islam dengan mendirikan Madrasah Masyarikul Anwar dan Masjid Salapiah Caringin sekitar tahun 1884 Mesjid Caringin ditandai oleh denah empat persegi panjang, pada keempat sisinya terdapat serambi. Arsitektur Masjid dipengaruhi oleh unsur arsitektur lokal, terlihat dari bentuk atapnya dan ditopang oleh arsitektur asing terlihat pada bentuk jendela serta pintu dalam dengan ukuran relatif besar juga pilar-pilar yang mengelilingi Masjid. Menurut cerita bahwa Kayu masjid tersebut berasal dari sebuah pohon Kalimantan  yang di bawa oleh Kh.Asnawi ke Caringin dahulu pohon tersebut tidak bisa di tebang kalaupun bisa di tebang beberapa saat pohon tersebut muncul kembali hingga akhirnya Kh.Asnawi berdo’a memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan dan pohon tersebut dapat di tebang serta kayunya dibawa Kh.Asnawi ke Caringin untuk membangun Masjid.
masjid_assalafi_caringin
Tahun 1937 Kh.Asnawi berpulang kerahmtulloh dan meninggalkan 23 anak dari lima Istri ( Hj.Ageng Tuti halimah, HJ sarban, Hj Syarifah, Nyai Salfah dan Nyai Nafi’ah ) dan di maqomkan di Masjid Salfiah Caringin , hingga kini Masjid Salafiah  Caringin dan maqom beliau tak pernah sepi dari para peziarah baik dari sekitar Banten maupun dari berbagai daerah di tanah air banyak pengalaman menarik dari peziarah yang melakukan i’tikaf di masjid tersebut seperti yang diungkap oleh salah seorang jamaah sewaktu melakukan i’tikaf terlihat pancaran cahaya memenuhi ruangan Masjid yang berusia hampir 200 tahun tersebut . Wallahu’salam

Sejarah Desa Sasak

Sejarah

     pada jaman sebelum belanda datang, tinggallah seorang ulama yang bernama Syekh Najihun. Beliau merupakan salah satu menantu dan merangkap sebagai sekretaris pribadi dari seorang ulama Syekh Nawawi dan meninggal di desa sasak. Syekh Nawawi mempunyai gelar Al-bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Beliau bukan ulama biasa, tapi memiliki intelektual yang sangat produktif menulis kitab, meliputi fiqih, tauhid, tasawwuf, tafsir, dan hadis. Jumlahnya tidak kurang dari 115 kitab. Ulama dari Banten yang terkenal, bahkan setiap tahun di hari jum’at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara Haol untuk memperingati jejak peninggalannya. Nama lengkapnya Abu Abdul Mu’thi bin Muhammad bin Umar. Lahir di Kampung Tanara, Desa Tirtayasa. Kec Serang. Kab Banten.

Lahir pada Tahun 1230 H/1815 M. dan Meninggal pada Tanggal 25 Syawal 1314 H / 1879 M, dalam usia 84 Tahun, di Syeb ‘Ali dan dimakamkan di Ma’la dekat Makam Siti Khodijah, Ummul Mukminin, Isteri Nabi SAW. sebuah kawasan pinggiran kota Mekkah.

Dari Silsilahnya, Syekh Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke- 12 dari Sulthan Maulana Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati, Cirebon ), ayah dari Sulthon Maulana Hasanudin ( Sulthan Banten pertama ). Nasabnya bersambung pada Nabi Muhammad SAW. melalui Imam Ja’far Shodiq, Imam Muhammad Al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin.

Guru dan masa belajarnya
Masa Kecil belajar pada KH. Sahal ( Ulama terkenal di Banten ). Masa Kecil belajar pada KH. Yusuf ( Ulama Besar di Purwakarta ). Usia 15 Tahun pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji, setelah musim haji usai, beliau tidak langsung kembali ketanah air, dorongan menuntut ilmu menyebabkan beliau bertahan di Kota Suci Mekkah untuk belajar kepada Ulama-Ulama Besar kelahiran Indonesia dan negri lainya. Syekh Ahmad Khotib Sambas Kalimantan ( Imam Masjidil Harom ). Penyatu Thoriqoh Qodiriyyah-Naqsabandiyyah di Indonesia. Syekh Abdul Ghani Duma ( Mekkah ). Syekh Yusuf Sunbulawini ( Mesir ). Syekh Nahrowi ( Mesir ). Syekh Ahmad Dimyati ( Mekkah ). Syekh Ahmad Zaini Dahlan ( Mekkah ). Syekh Muhammad Khotib Hambali ( Madinah ). Pengarang Kitab Nafahat Syarah Warokot (W. 1915). Syekh Abdul Hamid Daghestani.

Murid-murid Syekh Nawawi di Indonesia diantaranya :
KH. Hasyim Asy’ari. Tebu ireng Jombang Jawa Timur ( pendiri NU ). KH. Kholil. Bangkalan Madura Jawa Timur. KH. Asy’ari. Bawean ( menikah dengan Nyi Maryam, Putri KH. Nawawi ).KH. Najihun. Kampung Gunung Mauk Tangerang ( menikah dengan Nyi Salma binti Rukayah binti Syekh Nawawi. Cucunya ). KH. Tubagus Muhammad Asnawi. Caringin Labuan Pandegelang Banten. KH. Ilyas. Kampung Teras. Tanjung Keragilan Serang Banten. KH. Abd. Gaffar. Kampung Lampung Kec. Tirtayasa Serang Banten. KH. Tubagus Ahmad Bakri. Sempur Purwakarta.

Karomah dan Karya-karya Syekh Nawawi
Di antara karomah beliau adalah, saat menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah (karya Imam Ghozali), lampu minyak beliau padam, padahal saat itu sedang dalam perjalanan dengan sekedup onta (di jalan pun tetap menulis, tidak seperti kita, melamun atau tidur). Beliau berdoa, bila kitab ini dianggap penting dan bermanfaat buat kaum muslimin, mohon kepada Allah SWT memberikan sinar agar bisa melanjutkan menulis. Tiba-tiba jempol kaki beliau mengeluarkan api, bersinar terang, dan beliau meneruskan menulis syarah itu hingga selesai. Dan bekas api di jempol tadi membekas, hingga saat Pemerintah Hijaz memanggil beliau untuk dijadikan tentara (karena badan beliau tegap), ternyata beliau ditolak, karena adanya bekas api di jempol tadi.
Karomah yang lain, nampak saat beberapa tahun setelah beliau wafat, makamnya akan dibongkar oleh pemerintah untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahadnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim di Ma'la). Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur. Karena itu, bila pergi ke Makkah, Insya Allah kita akan bisa menemukan makam beliau di Pemakaman Umum Ma'la.

Karya-karya Syekh Nawawi.
Diantaranya : Fathul Majid, Tijan Darori, Nuruz Zulam, Madarijus Su’ud/Mirqotus Su’udit Tashdiq ( Syariat Islam ), Syarah kitab Sullam (Habib Abdullah bin Husein bin Tahir Ba'alawi ), Bahjatul Wasail, Kasyifatus Saja, Nihayatuz Zain, Uqudul Zain,Tasyrih Fathul Qorib, Qomi Tugyan, Misbahuz Zulam, Bidayatul Hidayah, Tafsir Munir, Tanqihul Qoul ( kitab hadits ). Syarah Kitab Lubabul Hadits (Imam Suyuthi), Nashaihul Ibad ( kitab Hadits ), Syarah Kitab Imam Ibnu Hajar Al Asqolani, Sulamul Munajah, Futuhatul Madaniyah, Futuhus samad, Tafsir Maroh Labib/Mirah Labib ( Rincian ayat-ayat Al-Qur’an ), Atsimar Al-Yaniah, Al Ibriz Al Daani, Al Aqdhu Tsamin Dll.

Sejarahnya
Setelah 3 tahun belajar di Mekkah Beliau kembali ke Tanah Air ( 1833 H ) untuk membantu Ayahnya mengajar para santri. Sejak kecil Syekh Nawawi telah menunjukan kecerdasannya lansung mendapat simpati dari masyarakat, kedatangannya membuat pesantren yang dibina oleh ayahnya banyak didatangi oleh santeri dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun Beliau membantu Ayahnya, kemudian Beliau kembali ke Mekkah.

Alasan Beliau kembali ke Mekkah diantaranya :
- keinginan Beliau untuk mukim dan menuntut ilmu di negri yang menarik hatinya.
- kondisi tanah air yang saat itu di jajah belanda dan hampir semua Ulama Islam mendapat tekanan.

Setelah Beliau memutuskan untuk mukim di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya. Beliau menimba ilmu di Mekkah selama 30 Tahun. Pada Tahun 1860 H, Beliau mulai mengajar di lingkungan Masjidil Harom. Beliau menjadi murid Syekh Ahmad Khatib Sambas yang terpandang di Masjidil Harom. Ketika Syekh Ahmad Khatib Sambas uzur menjadi imam Masjidil Harom Syekh Nawawi ditunjuk untuk menggantikannya.

Pada Tahun 1870 H beliau banyak menulis kitab. Dalam menyusun karya-karyanya, Syekh Nawawi selalu berkonsutasi dengan Ulama-Ulama besar lainnya dan karya tulisnya tersiar keberbagai penjuru dunia sampai kedaerah Mesir dan Syiria. Karena karya-karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah difahami dan padat isinya, nama Syekh Nawawi termasuk dalam kategori salah satu Ulama besar di Abad 14 H/19 M dan Beliau mendapat gelar “ Al Imam, Al Muhaqqiq, Al Fahhammah, As Sayyid Ulama Al Hijaz.

Karya-karya Syekh Nawawi Al Bantani tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Diantaranya : Malaysia, Thailan, Filipina Selatan ( Sekolah Agama Mindanao ), Mesir dll. 
Pemerintahan Desa Sasak sejak zaman belanda sampai sekarang adalah sebagai berikut :
  • Sebelum Terjadi pemekaran wilayah (bergabung dengan Desa Gunung Sari)
  1. Bapak Samain (kakek buyut Bapak Jaja Subarja sebelum merdeka)
  2. Bapak Pai
  3. Bapak H. Asih
  4. Bapak Junet
  5. Bapak Jari (Pejabat Sementara)
  6. Bapak H. Khotib
  7. Bapak Nusi
  8. Bapak Nur
  9. Bapak H. Kurnaen (Pejabat Sementara) 
  • Setelah terjadi pemekaran wilayah (berpisah dengan Desa Gunung Sari)
  1. Bapak H. Abdulgani menjabat 8 tahun
  2. Bapak Amsar
  3. Bapak Rapiudin menjabat 8 tahun
  4. Bapak Muhtar menjabat 5 tahun
  5. Bapak Subyani (Pejabat Sementara)
  6. Bapak Jaja Subarja masa bakti 2007-2013

Asnawi Bin Abdurrahman Al-Bantani, Ulama dan Pahlawan dari Banten



KH Asnawi Bin Abdurrahman Al Bantani

KH Asnawi Bin Abdurrahman Al Bantani
Banten memiliki banyak ulama tersohor yang mewariskan ilmu agama bagi masyarakat. Jika pada edisi lalu disebutkan biografi dan kiprah Syekh Nawawi Al Bantani, terdapat salah satu murid beliau yang juga pernah menjadikan Banten negeri madani. Dialah KH Asnawi bin Abdurrahman Al Bantani.

Sang kiai lahir di Kampung Caringin, Labuan Banten, sekitar 1850, di tengah keluarga yang religius. Sang ayah, Abdurrahman, dan ibunya, Ratu Sabi’ah, berasal dari keluarga yang kental berislam. Bahkan, disebutkan pula bahwa Kiai Asnawi masih keturunan Sultan Ageng Mataram Raden Patah. Tak heran jika sejak kecil, Asnawi hidup dalam didikan yang baik.

Pada usia yang masih sangat belia, sembilan tahun, Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Makkah. Di Tanah Suci, Asnawi kemudian bertemu gurunya, Syekh Nawawi Al Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram. Bukan sekadar karena sama-sama kelahiran Banten Asnawi dapat dekat dengan sang guru. Namun, kecerdasannya juga membuat Syekh Nawawi mengajarkan banyak hal padanya.

Bertahun-tahun kiai belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, kiai pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda hingga menjadi muridnya. Tersiarlah nama Asnawi sebagai ulama di kawasan Banten dan sekitarnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama kiai Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.

Tak hanya mengajarkan agama, Kiai Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Kiai juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.

Kiai yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.

Seusai diasingkan, kiai kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, kiai makin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah Madrasah Masyarikul Anwar dan masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak. Ada kisah yang beredar di masyarakat bahwa kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari sebuah pohon yang dibawa kiai dari Kalimantan. Pohon tersebut hanya satu, namun menghasilkan banyak kayu karena keberkahan sang kiai.

Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh kiai juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Kiai Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru pada kiai. Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.

Karena Asnawi sangat terkenal pamornya sebagai ulama besar dari Kampung Caringin, ia pun dikenal pula dengan nama Kiai Asnawi Caringin. Masyarakat memaknai Caringin dengan beringin. Selain karena kampung asal kiai dari Caringin, nama Caringin juga dianggap pas bagi kiai karena telah mengayomi masyarakat layaknya teduhnya pohon beringin.

Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, kiai menghembuskan napas terakhir pada 1937. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di dekat masjid yang ia bangun, Masjid Caringin. Hingga kini, banyak masyarakat yang rajin berziarah ke makamnya.

Ziarah ke Makam Keramat di Kabupaten Pandeglang Banten


Unwinged - Ziarah (flickr.com)
Add caption
Unwinged - Ziarah (flickr.com)

Latar Belakang
Ziarah makam tergolong tradisi yang sangat tua, barangkali setua kebudayaan manusia itu sendiri. Tradisi ini umumnya berhubungan erat dengan unsur kepercayaan atau keagamaan. Tradisi, menurut Parsudi Suparlan, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin (Jalaluddin, 1996: 180), merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Meredith McGuire (dalam Jalaluddin, 1996: 180), melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama.
Kabupaten Pandeglang, terletak di wilayah provinsi Banten, merupakan kawasan yang sebagian besar masih merupakan pedesaan. Dalam satu tulisannya, Azyumardi Azra menyebutkan, orang-orang Muslim di Banten percaya bahwa Tuhan sangat baik dan tidak akan mengabaikan mereka; tetapi pada saat yang sama, kekuatan-kekuatan jahat dan setan terus mendatangkan bencana, sehingga mereka terpaksa mengarahkan aktivitas ritual kepada kekuatan-kekuatan jahat tersebut. Dalam kaitan ini pula terjadi pemujaan terhadap orang-orang yang telah mati, yang dipandang potensial untuk membantu mereka dalam menghadapi berbagai kekuatan jahat (Azra, 1999: 66).
Ungkapan yang digunakan Azra dalam kalimat “pemujaan terhadap orang-orang yang mati” mungkin terlalu berlebihan untuk menggambarkan keyakinan masyarakat Banten. Pada kenyataannya, orang-orang Banten akan menolak kalau dikatakan mereka memuja orang-orang yang telah mati. Lebih tepat kalau dikatakan, mereka menggunakan arwah orang-orang yang telah mati itu sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan doa atau keinginan mereka kepada Tuhan. Arwah itu pun bukan sembarang arwah, melainkan arwah dari orang-orang yang semasa hidupnya dianggap sebagai tokoh, misalnya kiyai, syekh, jawara (orang sakti), atau sultan. Orang-orang Banten percaya bahwa tokoh-tokoh itu mempunyai karomah atau keistimewaan spiritual tertentu. Ketika sudah meninggal, karomah itu dipercaya masih ada dan bisa diperoleh dari makam mereka. Oleh karena itulah, aktivitas ziarah ke makam keramat sering disebut ngalap barokah, yaitu mencari berkah dari keramat yang terdapat pada makam sang tokoh.
Pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal dahulu memang ada ketika agama Islam belum dianut masyarakat Banten. Kepercayaan semacam itu, yang disebut animisme, secara berangsur-angsur telah terkikis dengan datangnya Islam. Diperlukan penelitian tersendiri apakah tradisi ziarah ke makam keramat, yang menunjukkan adanya keyakinan mengenai keistimewaan roh-roh dari tokoh tertentu, itu merupakan kompromi antara kepercayaan lama dengan ajaran Islam atau bukan. Sebab Islam yang datang ke Banten, dan ke Nusantara secara umum, adalah Islam dengan nuansa sufisme sangat kental. Telah banyak dikemukakan oleh para ahli sejarah, bahwa para penyebar Islam di Jawa hampir seluruhnya adalah pemimpin-pemimpin tarekat (Dhofier, 1982: 144). Di Banten sendiri, pernah dan masih berkembang aliran-aliran tarekat antara lain tarekat Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. Dalam sufisme, ada ajaran tentang tawassul dengan para guru dan syekh terdahulu, dan ziarah merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka tawassul. Jadi, tidak bisa dengan serta merta dikatakan bahwa ziarah ke makam keramat merupakan warisan tradisi pra-Islam.
Di kalangan Islam sendiri, sebetulnya aktivitas ziarah ke makam keramat dan doktrin tawassul masih menimbulkan pertentangan teologis yang belum terselesaikan, antara pihak yang membolehkan (bahkan menyunahkan) dan pihak yang membid’ahkan (bahkan mengharamkan). Pihak yang membolehkan ziarah ke makam keramat umumnya berasal dari kalangan Islam tradisional, sedangkan pihak yang melarang berasal dari kalangan Islam modernis. Tapi terlepas dari pertentangan teologis tersebut, ziarah ke makam keramat merupakan sebuah fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, bahkan merupakan suatu tradisi atau bentuk kebudayaan yang menarik untuk diteliti.
Menilik tempatnya, makam yang menjadi tujuan ziarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu makam keluarga dan makam keramat. Pada makam keluarga, misalnya makam orang tua, orang yang berziarah umumnya bertujuan untuk mendoakan arwah yang dikubur agar mendapat keselamatan atau tempat yang baik di sisi Tuhan. Jadi, manfaatnya bukan ditujukan untuk kepentingan orang yang berziarah, melainkan untuk kebaikan roh orang yang diziarahi.
Ziarah ke makam keluarga memiliki makna kultural yang hampir sama dengan halal bihalal, di mana dalam periode tertentu, misalnya setahun sekali, orang merasa perlu menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk mengunjungi saudara-saudara dan tetangganya. Jika halal bihalal adalah silaturahmi kepada orang-orang yang masih hidup, ziarah kubur adalah silaturahmi kepada orang-orang yang sudah mati. Orang yang sewaktu lebaran tidak pulang kampung untuk berhalal bihalal, ia bisa dianggap lupa asal usul. Demikian pula, orang yang dalam periode tertentu tidak melakukan ziarah, khususnya jika ia memiliki orang tua yang sudah meninggal, akan dianggap anak yang tidak berbakti.
Sedangkan pada makam keramat, aktivitas berziarah ke sana tampaknya memiliki tujuan atau motivasi yang beragam. Hal ini mengingat bahwa orang-orang yang berziarah ke makam keramat berasal dari berbagai daerah dan kalangan serta status sosial yang bermacam-macam. Bahkan untuk makam keramat yang besar, penziarah bisa berasal dari daerah yang sangat jauh, luar pulau, sampai luar negara.
Pengertian Ziarah dan Makam Keramat
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 1990), ziarah diartikan sebagai “kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya makam, dsb.” Dari pengertian ini, tampak bahwa yang dikunjungi dalam kegiatan ziarah bukan sembarang tempat, melainkan tempat yang dianggap keramat, misalnya makam atau kuburan. Selain makam, tempat-tempat yang kerap dianggap keramat antara lain tempat lahir seorang tokoh besar (misalnya tempat lahir Syekh Nawawi Banten di Tanahara), tempat persinggahan (misalnya situs Batu Quran di Cibulakan, Pandeglang), dan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah spiritual tinggi.
Pengertian keramat itu sendiri, menurut KBBI, adalah: (1) suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa); (2) suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci).
Dengan demikian, secara bebas makam keramat dapat diartikan sebagai makam dari orang yang suci atau dianggap suci oleh masyarakatnya, atau makam dari orang yang bertakwa, atau makam dari orang yang semasa hidupnya memunyai kemampuan tertentu di luar kemampuan manusia biasa, khususnya kemampuan dalam bidang spiritual. Oleh karena itu, makam dari orang-orang awam biasanya tidak disebut makam keramat, meskipun barangkali makam orang awam tersebut tetap memiliki nilai kekeramatan tertentu bagi anaknya atau kerabatnya.
Makna Spiritual Ziarah ke Makam Keramat
Ziarah ke makam, baik yang keramat maupun tidak, berkaitan erat dengan unsur keagamaan. Makam, dalam banyak kebudayaan dan kepercayaan di seluruh dunia, menempati ruang spiritual yang istimewa, bahkan menjadi pusat kehidupan keagamaan di samping kuil-kuil pemujaan. Sebagai tempat dikuburkannya jasad orang yang sudah meninggal, makam dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang meninggal itu. Berziarah ke makam merupakan cara untuk berhubungan kembali secara spiritual dengan roh-roh tersebut.
Ziarah ke makam juga berkaitan dengan kehidupan sosial. Orang yang ingin melakukan sesuatu atau kebutuhan tertentu, seperti membuka lahan pertanian, melangsungkan perkawinan, sampai berperang, merasa belum sah kalau belum meminta restu pada roh-roh nenek moyang. Roh-roh itu dipercaya dapat melindungi mereka, mengabulkan permohonan mereka, bahkan dapat pula menghukum kalau mereka melakukan pelanggaran.
Penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal diwujudkan dalam berbagai cara, misalnya mengadakan upacara kematian dengan ritual dan peralatan yang rumit, pembangunan kuburan secara mewah, di beberapa tempat disertai makanan dan harta untuk bekal perjalanan sang arwah, sampai pendirian kuil-kuil pemujaan.
Menurut Geoffrey Parrinder, yang dikutip oleh Zakiah Daradjat (Daradjat dkk, 1996: 43), pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal atau telah mati terdapat di semua masyarakat. Karena itu kepercayaan terhadap hidup setelah mati ini bersifat universal dan merupakan salah satu bentuk kuno dalam kepercayaan di kalangan suku-suku primitif. Di Cina, pemujaan dan penyembahan terhadap para leluhur adalah pemujaan yang sangat kuno dan merupakan salah satu unsur yang paling diutamakan dalam agama Cina. Di Yunani, terdapat kepercayaan bahwa arwah leluhur tinggal di makam-makam dan memiliki kekuasaan atas baik dan buruk, sakit, dan mati. Begitu pula di Jepang, Mesir, Babylonia, Eropa, termasuk suku-suku di Indonesia (Daradjat dkk, 1996: 41-42).
Praktik pemujaan terhadap arwah para leluhur, yang di antaranya dilakukan dengan persembahan korban atau pemberian sesajen, memang tidak selalu dilakukan di makam. Dalam kebudayaan tertentu, arwah leluhur itu dipercaya bisa ada di mana-mana, di hutan-hutan, kampung, sawah, pohon, sampai di rumah (Daradjat dkk, 1996: 42), dan praktik pemujaannya pun bisa dilakukan di tempat-tempat tersebut. Meskipun demikian, kedudukan makam tetaplah menempati posisi yang paling penting.
Pada masa sekarang pun sisa-sisa kepercayaan tersebut masih bisa dijumpai di beberapa kebudayaan, khususnya di suku-suku yang kebudayaannya masih primitif. Di Melanesia, terdapat cara menghubungi roh leluhur yaitu setelah selesai penguburan mayat, mereka lalu mengambil suatu kantong dan sebatang bambu yang panjangnya kira-kira lima sampai tujuh meter. Ke dalam kantong tadi ditaruhkan pisang, lalu mulut kantong diikatkan pada ujung bambu, dan kantong tersebut diletakkan tepat di atas kuburan si mati. Kemudian orang tersebut berharap dan meminta kedatangan roh sambil memegang ujung sebelah bambu tadi. Nama orang yang baru saja meninggal dipanggil-panggil (Daradjat dkk, 1996: 44-45). Di Dayak Kalimantan, terdapat kebiasaan menghubungi roh orang yang sudah meninggal dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharap-harapkan mendapatkan keberuntungan (Daradjat dkk, 1996: 45).
Kehadiran agama-agama formal, seperti Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, dan Islam, yang masing-masing memiliki tempat pemujaan atau rumah ibadah, tidak melenyapkan fungsi spiritual dari makam. Malah banyak di antara tempat ibadah itu yang didirikan di atas makam, atau makam yang dibangun di dekat tempat ibadah. Sehingga seringkali tidak dapat dibedakan ketika seseorang berada di rumah ibadah, apakah ia hanya melakukan sembahyang di rumah ibadah tersebut ataukah berziarah ke makam, ataukah kedua-duanya.
Sebagai contoh, Nabi Muhammad Saw. dimakamkan di dekat masjid Nabawi Madinah, dan makam raja-raja Banten berada di dalam Masjid Agung Banten. Selain itu, di makam-makam tempat ziarah terutama yang besar dan ramai hampir selalu didirikan masjid, misalnya di makam Sunan Gunung Jati Cirebon dan makam Syekh Mansur Pandeglang. Ini menandakan bahwa tempat ibadah (masjid) dan makam (khususnya makam dari orang tertentu) memiliki fungsi spiritual yang beririsan.
Dalam Islam, aktivitas ziarah ke makam keramat berkaitan erat dengan konsep kewalian atau kesucian. Para nabi, wali, dan orang-orang suci atau orang-orang yang dikenal memiliki ketakwaan tinggi dipercaya memiliki tempat mulia di sisi Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah di dalam Alquran surat al-Hujurât [49] ayat 13, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Menurut Muhaimin AG (dalam Supriatno, 2007: xv), Ketakwaan seorang nabi atau wali adalah model tentang orang yang telah menempuh hidup mulia sekaligus model untuk diteladani dan dijadikan panutan bagi orang yang ingin menempuh hidup mulia. Sebagai model, mereka layak dihormati. Penghormatan itu bisa mengambil berbagai bentuk, salah satunya dengan mengunjungi kuburannya tempat sang teladan diperistirahatkan untuk terakhir kalinya. Di sana, orang berdoa dan mendoakannya. Apabila doa mereka dikabulkan oleh Allah, maka tambahan pahala dan kemuliaan (karamah) dari doa itu akan mengalir kepada yang didoakan, dan menambah tumpukan pahala dan kemuliaan yang ada padanya yang sesungguhnya sudah penuh karena ketakwaan dirinya. Seakan tidak tertampung, akumulasi kemuliaan itu lalu meluber kepada penziarah yang sekaligus berdoa tadi. Luberan kemuliaan itulah yang disebut orang sebagai “barakah”. Barakah itu, bagi yang merasakannya, menggejala dalam berbagai bentuk seperti kemudahan usaha, perolehan keuntungan, terbebas dari derita, sembuh dari penyakit, hilangnya stres, ketenangan hidup, dan bentuk-bentuk lain.
Tempat-tempat Ziarah Keramat di Kabupaten Pandeglang
Kabupaten Pandeglang terletak di provinsi Banten. Luas wilayahnya adalah 2.193,58 Km2. Wilayah kabupaten Pandeglang berbatasan dengan kabupaten Lebak di sebelah Timur, kabupaten Serang di sebelah Utara, Selat Sunda di sebelah Barat, dan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Pada tahun 2000, jumlah penduduknya mencapai 2.933.900 jiwa.
Mayoritas penduduk Pandeglang menganut agama Islam, dan coraknya dapat digolongkan ke dalam Islam tradisional. Di sini, penghormatan terhadap ulama atau kiyai menempati posisi yang tinggi, termasuk ketika ulama tersebut sudah meninggal dunia. Makamnya akan banyak diziarahi oleh murid-muridnya, masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat dari luar daerah, bergantung pada “kaliber” atau lingkup ketokohan ulama tersebut.
Tradisi keagamaan masyarakat Pandeglang tidak berbeda dengan tradisi keagamaan di provinsi Banten pada umumnya, termasuk dalam hal ziarah ke makam keramat. Di antara makam keramat di daerah Pandeglang yang banyak diziarahi oleh masyarakat, termasuk masyarakat dari luar daerah, antara lain:
1. Makam Syekh Mansur di Cikadueun
2. Makam Syekh Abdul Jabbar di Karangtanjung
3. Makam Syekh Asnawi di Caringin
4. Makam Syekh Daud di Labuan
5. Makam Syekh Rako di Gunung Karang
6. Makam Syekh Royani di Kadupinang
7. Makam Syekh Armin di Cibuntu
8. Makam Abuya Dimyati di Cidahu
9. Makam Ki Bustomi di Cisantri
10. Makam Nyimas Gandasari di Panimbang.
Aktivitas ziarah ke makam-makam keramat tersebut biasanya meningkat tajam pada bulan Mulud (Rabiul Awal, bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw.), menjelang bulan Ramadan, sehabis Lebaran, pada malam Jumat, dan pada hari-hari libur. Tetapi pada hari-hari biasa pun selalu ada saja orang yang berziarah. []

BEKAL KITA MENGHADAPI KEMATIAN

Siapakah yang terdekat dengan diri kita ? yang terdekat dengan diri kita adalah kematian. Ungkapan tersebut pernah di kemukakan oleh Imam Ghozali kepada Murid-muridnya. Kematian selalu membayangi langkah kaki kita kemanapun, dimanapun , kapanpun jika Kematian menjemput maka Tidak ada seorangpun yang mampu untuk mengelaknya. Semua makhluk Alloh yang bernyawa akan mengalami yang namanya kematian.Kematian adalah Rahasia Alloh yang sulit dideteksi oleh rasionalitas dan mengandalkan hal yang bersifat empiris. Kita tidak tahu kapan sesorang akan mengalami proses kematian , apalagi untuk memajukan atau memundurkan kematian itu sendiri walaupun satu detik. Takutkah kita mengahadapi kematian ? kematian tidak perlu ditakuti karena kita semua juga akan mati tapi kematian perlu disiapi dengan bekal kita menghadapi kematian. Bekal amal sholeh selama kita menjalani kehidupan selama di dunia. Selama ini kita jarang berfikir untuk mempersiapkan bekal kita dalam menghadapi kematian. Kesibukan kita terhadap urusan dunia kerap kali menyebabkan kita malas untuk memikirkan kematian. Kita hanya berfikir besok makan apa, bagaimana dengan kerjaan dikantor, tentang kuliah dan lain sebagainya yang telah melalaikan hati kita untuk memikirkan kehidupan yang akan datang. Renungkanlah disaat kita sibuk terhadap urusan dunia lalu tiba- tiba kematian menjemput , kita hanya seonggok daging yang tidak berarti apa-apa, dimandikan mayat kita, disholati dan dikuburkan tubuh kita dalam ruang yang sempit dan gelap , Kerabat serta teman-teman kita lalu meninggalkan kita sendirian dalam ruang yang pengab dan gelap itulah akhir dari kisah kehidupan kita di dunia, tubuh kita lama-lama akan mengalami proses pembusukan dan tinggal tulang belulang. tentu kita harus menyadari bahwa didalam tubuh kita terdapat eksitensi lain yaitu jiwa yang membalut raga kita. Kita tidak hidup untuk selama- lamanya ada kehidupan lain setelah kematian. Amal sholeh yang akan menemani kita di dalam kubur dan menjadi tiket kita untuk mencapai surga Alloh. Jika tidak dari sekarang kita mempersiapkan bekal kita menghadapi kematian kapan lagi ? sangat di sayangkan jika kita terlalu mencintai materi dan kehidupan kita yang selalu diwarnai dengan keburukan dan kejahilan yang akan mengakibatkan rusaknya pribadi kita dan juga merusak kehormatan agama. Gerak gerik kita selalu dalam pengawasan Alloh SWT sekecil apapun kita melakukan bentuk kejahatan dan maksiyat tentu akan mendapatkan balasan dari Alloh SWT. Alloh SWt tidak melarang kita untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia namun tentu kita tetap jangan melupakan untuk mempersiapakan bekal dalam menghadapi kematian. Semoga kita semua meninggalkan dunia dengan Khusnul Khotimah.

WALI SANGA

sunan ampel

by alawwabin on 12:55 AM, 12-Oct-11
ThumbnailIa putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang). Beberapa versi menyatakan... [Read More]

sunan gresik

by alawwabin on 12:51 AM, 12-Oct-11
ThumbnailMaulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus... [Read More]
1

sunan muria

by alawwabin on 12:49 AM, 12-Oct-11
ThumbnailIa putra Dewi Saroh --adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil... [Read More]
0

sunan bonang

by alawwabin on 12:47 AM, 12-Oct-11
ThumbnailIa anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri,... [Read More]
0

sunan kudus

by alawwabin on 12:43 AM, 12-Oct-11
ThumbnailNama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah... [Read More]
1

sunan drajadt

by alawwabin on 12:40 AM, 12-Oct-11
ThumbnailNama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog --pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah... [Read More]
1

sunan kalijaga

by alawwabin on 12:37 AM, 12-Oct-11
ThumbnailDialah "wali" yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam. Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut... [Read More]
1

sunan gunung jati

by alawwabin on 05:36 AM, 11-Oct-11
ThumbnailBanyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra' Mi'raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar... [Read More]
6

sunan giri

by alawwabin on 04:48 AM, 11-Oct-11
ThumbnailIa memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya--seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma)... [Read More]