Senin, 23 Desember 2013

Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni


syeikh yusuf

Syekh Yusuf berasal dari keluarga bangsawan tinggi di kalangan suku bangsa Makassar dan mempunyai pertalian kerabat dengan raja-raja Banten, Gowa, dan Bone. Syekh Yusuf sendiri dapat mengajarkan beberapa tarekat sesuai dengan ijazahnya. Seperti tarekat Naqsyabandiyah, Syattariyah, Ba`alawiyah, dan Qadiriyah. Namun dalam pengajarannya, Syekh Yusuf tidak pernah menyinggung pertentangan antara Hamzah Fansuri yang mengembangkan ajaran wujudiyah dengan Syekh Nuruddin Ar-Raniri dalam abad ke-17 itu.

Nama lengkapnya Tuanta Salamka ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Tapi, ia lebih populer dengan sebutan Syekh Yusuf. Sejak tahun 1995 namanya tercantum dalam deretan pahlawan nasional, berdasar ketetapan pemerintah RI.

Kendati putra Nusantara, namanya justru berkibar di Afrika Selatan. Ia dianggap sebagai sesepuh penyebaran Islam di negara di benua Afrika itu. Tiap tahun, tanggal kematiannya diperingati secara meriah di Afrika Selatan, bahkan menjadi semacam acara kenegaraan. Bahkan, Nelson Mandela yang saat itu masih menjabat presiden Afsel, menjulukinya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Syekh Yusuf lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, tanggal 03 Juli 1626 dengan nama Muhammad Yusuf. Nama itu merupakan pemberian Sultan Alauddin, raja Gowa, yang merupakan karib keluarga Gallarang Monconglo’E, keluarga bangsawan dimana Siti Aminah, ibunda Syekh Yusuf berasal. Pemberian nama itu sekaligus mentasbihkan Yusuf kecil menjadi anak angkat raja.

Syekh Yusuf sejak kecil diajar serta dididik secara Islam. Ia diajar mengaji Alquran oleh guru bernama Daeng ri Tasammang sampai tamat. Di usianya ke-15, Syekh Yusuf mencari ilmu di tempat lain, mengunjungi ulama terkenal di Cikoang yang bernama Syekh Jalaluddin al-Aidit, yang mendirikan pengajian pada tahun 1640.

Syekh Yusuf meninggalkan negerinya, Gowa, menuju pusat Islam di Mekah pada tanggal 22 September 1644 dalam usia 18 tahun. Ia sempat singgah di Banten dan sempat belajar pada seorang guru di Banten. Di sana ia bersahabat dengan putra mahkota Kerajaan Banten, Pengeran Surya. Saat ia mengenal ulama masyhur di Aceh, Syekh Nuruddin ar Raniri, melalui karangan-karangannya, pergilah ia ke Aceh dan menemuinya.

Setelah menerima ijazah tarekat Qadiriyah dari Syekh Nuruddin, Syekh Yusuf berusaha ke Timur Tengah. Beliau ke Arab Saudi melalui Srilanka.

Di Arab Saudi, mula-mula Syekh Yusuf mengunjungi negeri Yaman, berguru pada Sayed Syekh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi bin Syekh al-Kabir Mazjaji al-Yamani Zaidi al-Naqsyabandi. Ia dianugerahi ijazah tarekat Naqsyabandi dari gurunya ini.

Perjalanan Syekh Yusuf dilanjutkan ke Zubaid, masih di negeri Yaman, menemui Syekh Maulana Sayed Ali Al-Zahli.. Dari gurunya ini Syekh Yusuf mendapatkan ijazah tarekat Assa’adah Al-Baalawiyah. Setelah tiba musim haji, beliau ke Mekah menunaikan ibadah haji.

Dilanjutkan ke Madinah, berguru pada syekh terkenal masa itu yaitu Syekh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin Al-Kurdi Al-Kaurani. Dari Syekh ini diterimanya ijazah tarekat Syattariyah. Belum juga puas dengan ilmu yang didapat, Syekh Yusuf pergi ke negeri Syam (Damaskus) menemui Syekh Abu Al Barakat Ayyub Al-Khalwati Al-Qurasyi. Gurunya ini memberikan ijazah tarekat Khalwatiyah & Gelar tertinggi, Al-Taj Al-Khalawati Hadiatullah setelah dilihat kemajuan amal syariat dan amal Hakikat yang dialami oleh Syekh Yusuf.

Melihat jenis-jenis alirannya, diperoleh kesan bahwa Syekh Yusuf memiliki pengetahuan yang tinggi, meluas, dan mendalam. Mungkin bobot ilmu seperti itu, disebut dalam lontara versi Gowa berupa ungkapan (dalam bahasa Makassar): tamparang tenaya sandakanna (langit yang tak dapat diduga), langik tenaya birinna (langit yang tak berpinggir), dan kappalak tenaya gulinna (kapal yang tak berkemudi).

Cara-cara hidup utama yang ditekankan oleh Syekh Yusuf dalam pengajarannya kepada murid-muridnya ialah kesucian batin dari segala perbuatan maksiat dengan segala bentuknya. Dorongan berbuat maksiat dipengaruhi oleh kecenderungan mengikuti keinginan hawa nafsu semata-mata, yaitu keinginan memperoleh kemewahan dan kenikmatan dunia. Hawa nafsu itulah yang menjadi sebab utama dari segala perilaku yang buruk. Tahap pertama yang harus ditempuh oleh seorang murid (salik) adalah mengosongkan diri dari sikap dan perilaku yang menunjukkan kemewahan duniawi.

Ajaran Syekh Yusuf mengenai proses awal penyucian batin menempuh cara-cara moderat. Kehidupan dunia ini bukanlah harus ditinggalkan dan hawa nafsu harus dimatikan sama sekali. Melainkan hidup ini harus dimanfaatkan guna menuju Tuhan. Gejolak hawa nafsu harus dikuasai melalui tata tertib hidup, disiplin diri dan penguasaan diri atas dasar orientasi ketuhanan yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia.

Hidup, dalam pandangan Syekh Yusuf, bukan hanya untuk menciptakan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Namun, kehidupan ini harus dikandungi cita-cita dan tujuan hidup menuju pencapaian anugerah Tuhan.

Dengan demikian Syekh Yusuf mengajarkan kepada muridnya untuk menemukan kebebasan dalam menempatkan Allah Yang Mahaesa sebagai pusat orientasi dan inti dari cita, karena hal ini akan memberi tujuan hidup itu sendiri.

Terlibat pergerakan naasional

Setelah hampir 20 tahun menuntut ilmu, ia pulang ke kampung halamannya, Gowa. Tapi ia sangat kecewa karena saat itu Gowa baru kalah perang melawan Belanda. Di bawah Belanda, maksiat merajalela. Setelah berhasil meyakinkan Sultan untuk meluruskan pelaksanaan syariat Islam di Makassar, ia kembali merantau. Tahun 1672 ia berangkat ke Banten. Saat itu Pangeran Surya sudah naik tahta dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa.Di Banten ia dipercaya sebagai mufti kerajaan dan guru bidang agama. Bahkan ia kemudian dinikahkan dengan anak Sultan, Siti Syarifah. Syekh Yusuf menjadikan Banten sebagai salah satu pusat pendidikan agama. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah, termasuk di antaranya 400 orang asal Makassar di bawah pimpinan Ali Karaeng Bisai. Di Banten pula Syekh Yusuf menulis sejumlah karya demi mengenalkan ajaran tasawuf kepada umat Islam Nusantara.Seperti banyak daerah lainnya saat itu, Banten juga tengah gigih melawan Belanda. Permusuhan meruncing, sampai akhirnya meletus perlawanan bersenjata antara Sutan Ageng di satu pihak dan Sultan Haji beserta Kompeni di pihak lain. Syekh Yusuf berada di pihak Sultan Ageng dengan memimpin sebuah pasukan Makassar.

Namun karena kekuatan yang tak sebanding, tahun 1682 Banten menyerah.
Maka mualilah babak baru kehidupan Syekh Yusuf; hidup dalam pembuangan. Ia mula-mula ditahan di Cirebon dan Batavia (Jakarta), tapi karena pengaruhnya masih membahayakan pemerintah Kolonial, ia dan keluarga diasingkan ke Srilanka, bulan September 1684.

Bukannya patah semangat, di negara yang asing baginya ini ia memulai perjuangan baru, menyebarkan agama Islam. Dalam waktu singkat murid-muridnya mencapai jumlah ratusan, kebanyakan berasal dari India Selatan. Ia juga bertemu dan berkumpul dengan para ulama dari berbagai negara Islam. Salah satunya adalah Syekh Ibrahim Ibn Mi’an, ulama besar yang dihormati dari India. Ia pula yang meminta Syekh Yusuf untuk menulis sebuah buku tentang tasawuf, berjudul Kayfiyyat Al-Tasawwuf.

Ia juga bisa leluasa bertemu dengan sanak keluarga dan murid-muridnya di negeri ini. Kabar dari dan untuk keluarganya ini disampaikan melalui jamaah haji yang dalam perjalan pulang atau pergi ke Tanah Suci selalu singgah ke Srilanka. Ajaran-ajarannya juga disampaikan kepada murid-muridnya melalui jalur ini.
Hal itu merisaukan Belanda. Mereka menganggap Syekh Yusuf tetap merupakan ancaman, sebab dia bisa dengan mudah mempengaruhi pengikutnya untuk tetap memberontak kepada Belanda. Lalu dibuatlah skenario baru; lokasi pembuangannya diperjauh, ke Afrika Selatan.

Menekuni jalan dakwah

Bulan Juli 1693 adalah kali pertama bagi Syekh Yusuf dan 49 pengikutnya menginjakkan kaki di Afrika Selatan. Mereka sampai di Tanjung Harapan dengan kapal De Voetboog dan ditempatkan di daerah Zandvliet dekat pantai (tempat ini kemudian disebut Madagaskar).Di negeri baru ini, ia kembali menekuni jalan dakwah. Saat itu, Islam di Afrika Selatan tengah berkembang. Salah satu pelopor penyebaran Islam di Afrika Selatan, Imam Abdullah ibn Kadi Abdus Salaam atau lebih dikenal dengan julukan Tuan Guru(mister teacher).Tuan Guru lahir di Tidore. Tahun 1780, ia dibuang ke Afrika Selatan karena aktivitasnya menentang penjajah Belanda. Selama 13 tahun ia mendekam sebagai tahanan di Pulau Robben, sebelum akhirnya dipindah ke Cape Town. Kendati hidup sebagai tahanan, aktivitas dakwah pimpinan perlawanan rakyat di Indonesia Timur ini tak pernah surut.

Jalan yang sama ditempuh Syekh Yusuf. Dalam waktu singkat ia telah mengumpulkan banyak pengikut. Selama enam tahun di Afrika Selatan, tak banyak yang diketahui tentang dirinya, sebab dia tidak bisa lagi bertemu dengan jamaah haji dari Nusantara. Usianya pun saat itu telah lanjut, 67 tahun.

Beliau tinggal di Tanjung Harapan sampai wafat tanggal 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Oleh pengikutnya, bangunan bekas tempat tinggalnya dijadikan bangunan peringatan. Sultan Banten dan Raja Gowa meminta kepada Belanda agar jenazah Syekh Yusuf dikembalikan, tapi tak diindahkan. Baru setelah tahun 1704, atas permintaan Sultan Abdul Jalil, Belanda pengabulkan permintaan itu. Tanggal 5 April 1705 kerandanya tiba di Gowa untuk kemudian dimakamkan di Lakiung keesokan harinya.

Syekh Yusuf di Sri Lanka

Di Sri Lanka, Syekh Yusuf tetap aktif menyebarkan agama Islam, sehingga memiliki murid ratusan, yang umumnya berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, Syekh Ibrahim ibn Mi’an, termasuk mereka yang berguru pada Syekh Yusuf.
Melalui jamaah haji yang singgah ke Sri Lanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, sehingga akhirnya oleh Belanda, ia diasingkan ke lokasi lain yang lebih jauh, Afrika Selatan, pada bulan Juli 1693.

Syekh Yusuf di Afrika Selatan

Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf tetap berdakwah, dan memiliki banyak pengikut. Ketika ia wafat pada tanggal 23 Mei 1699, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’.

Sebagai seorang ulama syariat, sufi dan khalifah tarikat dan seorang musuh besar Kompeni Belanda, Syekh Yusuf dianggap sebagai `duri dalam daging` oleh pemerintah Kompeni di Hindia Timur. Ia diasingkan ke Srilanka, kemudian dipindahkan ke Afrika Selatan, dan wafat di pengasingan Cape Town (Afrika Selatan) pada tahun 1699. Pada zamannya (abad ke-17), ia dikenal pada empat tempat, yaitu Banten dan Sulawesi Selatan (Indonesia), Srilanka, dan Afrika Selatan yang berjuang mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk menentang penindasan dan perbedaan kulit.

Murid-murid Syekh Yusuf yang menganut tarekat Khalwatiyah terdapat di Banten, Srilanka, Cape Town, dan beberapa negara di sekitarnya. Mayoritas orang-orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan masih mengamalkan ajarannya sampai sekarang ini.[]

Syekh Nawawi al-Bantani


syeikh Nawawi al-Bantani

Syekh Nawawi Banten memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al- Tanara al-Jawi al-Bantani. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M/1230 H. Pada tanggal 25 Syawal 1314 H/1897 M. Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 84 tahun. Beliau dimakamkan di Ma’la dekat makam Siti Khadijah, Ummul Mukminin istri Nabi. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam di Jawa khususnya di Banten, Umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa Banten setiap tahun di hari Jum’at terakhir bulan Syawwal selalu diadakan acara khol untuk memperingati jejak peninggalan Syekh Nawawi Banten.

Ayah beliau bernama Syekh Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin Masjid. Dari silsilahnya, Syekh Nawawi merupakan keturunan kesultanan yang ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bemama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui Imam Ja’far As- Shodiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Sayyidina Husen, Fatimah al-Zahra.

Pada usia 15 tahun, Syekh Nawawi mendapat kesempatan untuk pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji. Di sana beliau memanfaatkannya untuk belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadis, tafsir dan terutama ilmu fiqh. Setelah tiga tahun belajar di Mekkah beliau kembali ke daerahnya tahun 1833 dengan khazanah ilmu keagamaan yang relatif cukup lengkap untuk membantu ayah beliau mengajar para santri.

Syekh Nawawi yang sejak kecil telah menunjukkan kecerdasannya langsung mendapat simpati dari masyarakat. Kedatangannya membuat pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi oleh santri yang datang dari berbagai pelosok. Namun hanya beberapa tahun kemudian beliau memutuskan berangkat lagi ke Mekkah sesuai dengan impian beliau untuk mukim dan menetap di sana.

Di Mekkah Syekh Nawawi melanjutkan belajar pada guru-guru yang terkenal, pertama kali beliau mengikuti bimbingan dari Syeikh Ahmad Khatib Sambas (Penyatu Thariqat Qodiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Setelah itu belajar pada Sayid Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan yang keduanya di Mekkah. Sedang di Madinah, Syekh Nawawi belajar pada Muhammad Khatib al-Hanbali. Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya pada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Syiria). Menurut penuturan Abdul Jabbar bahwa Syekh Nawawi juga pemah melakukan perjalanan menuntut ilmunya ke Mesir. Salah satu Guru utamanya pun berasal dari Mesir seperti SyekhYusuf Sumbulawini dan Syekh Ahmad Nahrawi.

Setelah memutuskan untuk memilih hidup di Mekkah dan meninggalkan kampung halamannya beliau menimba ilmu lebih dalam lagi di Mekkah selama 30 tahun. Kemudian pada tahun 1860 Syekh Nawawi mulai mengajar di lingkungan Masjid al-Haram. Prestasi mengajarnya cukup memuaskan karena dengan kedalaman pengetahuan agamanya, beliau tercatat sebagai Ulama di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena beliau harus banyak menulis kitab.

Inisiatif menulis banyak datang dari desakan sebagian kolegan beliau yang meminta untuk menuliskan beberapa kitab. Kebanyakan permintaan itu datang dari sahabat beliau yang berasal dari Jawa, karena dibutuhkan untuk dibacakan kembali di daerah asalnya. Desakan itu dapat terlihat dalam setiap karya Syekh Nawawi yang sering ditulis atas permohonan sahabatnya. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami orang awam.

Alasan menulis syarh selain karena permintaan orang lain, Syekh Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (ta’rif) dan pengurangan. Dalam menyusun karyanya Syekh Nawawi selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, sebelum naik cetak naskahnya terlebih dahulu dibaca oleh mereka. Dilihat dari berbagai tempat kota penerbitan dan seringnya mengalami cetak ulang sebagaimana terlihat di atas maka dapat dipastikan bahwa karya tulisnya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai ke daerah Mesir dan Syiria.

Karena karyanya yang tersebar luas dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan padat isinya ini, nama Syekh Nawawi bahkan termasuk dalam kategori salah satu ulama besar di abad ke 14 H/19 M. Karena kemasyhurannya ia mendapat gelar: A ‘yan ‘Ulama’ al-Qarn al-RaM’ ‘Asyar Li al-Hijrah,. AI-Imam al-Mul1aqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.

Kesibukannya dalam menulis membuat Syekh Nawawi kesulitan dalam mengorganisir waktu sehingga tidak jarang untuk mengajar para pemula beliau sering mendelegasikan siswa-siswa seniornya untuk membantu beliau. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa. Di sana santri pemula dianjurkan harus menguasai beberapa ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung pada Syekh, agar proses pembelajaran dengan Syekh tidak mengalami kesulitan.

Bidang Teologi

Karya-karya besar Nawawi yang gagasan pemikiran pembaharuannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi dalam tujuh kategorisasi bidang; yakni bidang tafsir, tauhid, fiqh, tasawuf, sejarah nabi, bahasa dan retorika. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya satu kitab. Dari banyaknya karya yang beliau tulis ini dapat dijadikan bukti bahwa memang Syeikh Nawawi adalah seorang menulis produktif multidisiplin, beliau banyak mengetahui semua bidang keilmuan Islam. Luasnya wawasan pengetahuan Nawawi yang tersebar membuat kesulitan bagi pengamat untuk menjelajah seluruh pemikirannya secara konprehenshif-utuh.

Dalam beberapa tulisannya seringkali Syekh Nawawi mengaku sebagai penganut teologi Asy’ari (al-Asyari al-I’tiqodiy). Karya-karyanya yang banyak dikaji di Indonesia di bidang ini diantaranya:
• Fath ai-Majid
• Tijan al-Durari
• Nur al Dzulam
• al-Futuhat al-Madaniyah
• al-Tsumar al-Yaniah
• Bahjat al-Wasail
• Kasyifat as-Suja dan
• Mirqat al-Su’ud.

Sejalan dengan prinsip pola fikir yang dibangunnya, dalam bidang teologi Syekh Nawawi mengikuti aliran teologi Imam Abu Hasan al-Asyari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.

Sebagai penganut Asyariyah Syekh Nawawi banyak memperkenalkan konsep sifat-sifat Allah. Seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah memiliki sifat yang dapat diketahui dari perbuatannya, karena sifat Allah adalah perbuatanNya. Beliau membagi sifat Allah dalam tiga bagian : wajib, mustahil dan mumkin. Sifat Wajib adalah sifat yang pasti melekat pada Allah dan mustahil tidak adanya, dan sifat mustahil adalah sifat yang pasti tidak melekat pada Allah dan wajib tidak adanya, sementara mumkin adalah sifat yang boleh ada dan tidak ada pada Allah.

Meskipun Syekh Nawawi bukan orang pertama yang membahas konsep sifatiyah Allah, namun dalam konteks Indonesia Nawawi dinilai orang yang berhasil memperkenalkan teologi Asyari sebagai sistem teologi yang kuat di negeri ini.

Kemudian mengenai dalil naqliy dan ‘aqliy, menurut beliau harus digunakan bersama-sama, tetapi terkadang bila terjadi pertentangan di antara keduanya maka naql harus didahulukan. Kewajiban seseorang untuk meyakini segala hal yang terkait dengan keimanan terhadap keberadaan Allah hanya dapat diketahui oleh naql, bukan dari aql. Bahkan tiga sifat di atas pun diperkenalkan kepada Nabi. Dan setiap mukallaf diwajibkan untuk menyimpan rapih pemahamannya dalam benak akal pikirannya.

Tema yang perlu diketahui di sini adalah tentang Kemahakuasaan Allah (Absolutenes of God). Sebagaimana teolog Asy’ary lainnya, Syekh Nawawi menempatkan dirinya sebagai penganut aliran yang berada di tengah-tengah antara dua aliran teologi ekstrim: Qadariyah dan Jabbariyah, sebagaimana dianut oleh ahlussunnah wal-Jama’ah. Beliau mengakui Kemahakuasaan Tuhan tetapi konsepnya ini tidak sampai pada konsep jabariyah yang meyakini bahwa sebenarnya semua perbuatan manusia itu dinisbatkan pada Allah dan tidak disandarkan pada daya manusia, manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa.

Untuk hal ini dalam konteks Indonesia, sebenamya Syekh Nawawi telah berhasil membangkitkan dan menyegarkan kembali ajaran Agama dalam bidang teologi dan berhasil mengeliminir kecenderungan meluasnya konsep absolutisme Jabbariyah di Indonesia dengan konsep tawakkal bi Allah. Sayangnya sebagian sejarawan modem terlanjur menuding teologi Asyariyah sebagai sistem teologi yang tidak dapat menggugah perlawanan kolonialisme.

Padahal fenomena kolonialisme pada waktu itu telah melanda seluruh daerah Islam dan tidak ada satu kekuatan teologi pun yang dapat melawannya, bahkan daerah yang bukan Asyariyah pun turut terkena. Dalam konteks Islam Jawa, teologi Asyariyah dalam kadar tertentu sebenarnya telah dapat menumbuhkan sikap merdekanya dari kekuatan lain setelah tawakkal kepada Allah.

Melalui konsep penyerahan diri kepada Allah umat Islam disadarkan bahwa tidak ada kekuatan lain kecuali Allah. Kekuatan Allah tidak terkalahkan oleh kekuatan kolonialis. Di sinilah letak peranan Syekh Nawawi dalam pensosialisasian teologi Asyariyahnya yang terbukti dapat menggugah para muridnya di Mekkah berkumpul dalam “koloni Jawa”. Dalam beberapa kesempatan Nawawi sering memprovokasi bahwa bekerja sama dengan kolonial Belanda (non muslim) haram hukumnya. Dan seringkali kumpulan semacam ini selalu dicurigai oleh kolonial Belanda karena memiliki potensi melakukan perlawanan pada mereka.

Sementara di bidang fikih tidak berlebihan jika Syeikh Nawawi dikatakan sebagai “obor” mazhab imam Syafi’i untuk konteks Indonesia. Melalui karya-karya fiqh beliau seperti:

• Syarh Safinat a/-Naja,
• Syarh Sullam a/-Taufiq,
• Nihayat a/-Zain fi Irsyad a/-Mubtadi’in dan
• Tasyrih a/a Fathul Qarib

sehingga Syekh Nawawi berhasil memperkenalkan madzhab Syafi’i secara sempurna. Dan atas dedikasi Syekh Nawawi yang mencurahkan hidupnya hanya untuk mengajar dan menulis beliau mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan.
Hasil tulisannya yang sudah tersebar luas setelah diterbitkan di berbagai daerah memberi kesan tersendiri bagi para pembacanya. Pada tahun 1870 para ulama Universitas al-Azhar Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiyah. Mereka tertarik untuk mengundang karena nama Syekh Nawawi sudah dikenal melalui karya-karyanya yang telah banyak tersebar di Mesir.

Sufi Brilian

Sejauh itu dalam bidang tasawuf, Syekh Nawawi dengan aktivitas intelektualnya mencerminkan beliau bersemangat menghidupkan disiplin ilmu-ilmu agama. Dalam bidang ini beliau memiliki konsep yang identik dengan tasawuf. Dari karyanya saja Syekh Nawawi menunjukkan diri beliau seorang sufi brilian, beliau banyak memiliki tulisan di bidang tasawuf yang dapat dijadikan sebagai rujukan standar bagi seorang sufi.
Brockleman, seorang penulis dari Belanda mencatat ada 3 karya Nawawi yang dapat merepresentasikan pandangan tasawufnya : yaitu:

• Qami’ al-Thugyan dan
• Salalim al Fudala.

Di sana Nawawi banyak sekali merujuk kitab Ihya ‘Ulumuddin al-Ghazali. Bahkan kitab ini merupakan rujukan penting bagi setiap tarekat. Pandangan tasawuf beliau meski tidak tergantung pada gurunya (pamannya sendiri) Syekh Abdul Karim, seorang ulama tasawuf asal Jawi yang memimpin sebuah organisasi tarekat. Namun atas pilihan karir dan pengembangan spesialisasi ilmu pengetahuan yg ditekuni serta tuntutan masyarakat beliau tidak mengembangkan metoda tarbiyah tasawuf seperti guru-guru beliau.

Ketasawufan beliau dapat dilihat dari pandangan beliau terhadap keterkaitan antara praktek tarekat, syariat dan hakikat sangat erat. Untuk memahami lebih mudah dari keterkaitan ini, Syekh Nawawi mengibaratkan syariat dengan sebuah kapal, tarekat dengan lautnya dan hakekat merupakan intan dalam lautan yang dapat diperoleh dengan kapal berlayar di laut. Dalam proses pengamalannya Syariat (hukum) dan tarekat merupakan awal dari perjalanan (ibtida’i) seorang sufi, sementara hakikat dan ma’rifat adalah hasil dari syariat dan tarikat.

Pandangan ini mengindikasikan bahwa Syekh Nawawi tidak menolak praktek-praktek tarekat selama tarekat tersebut tidak mengajarkan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran syariat Islam. Paparan konsep tasawufnya ini tampak pada konsistensi dengan pijakannya terhadap pengalaman spiritualitas ulama salaf. Tema-tema yang beliau gunakan tidak jauh dari rumusan ulama tasawuf klasik. Model paparan tasawuf inilah yang membuat Nawawi harus dibedakan dengan tokoh sufi Indonesia lainnya. Syekh Nawawi dapat dibedakan dari karakteristik tipologi tasawuf Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf Sinkel dan sebagainya.

Tidak seperti sufi Indonesia lainnya yang lebih banyak porsinya dalam menyadur teori-teori genostik Ibnu Arabi, Nawawi justru menampilkan tasawuf yang moderat antara hakikat dan syariat. Dalam formulasi pandangan tasawufnya tampak terlihat upaya perpaduan antara fiqh dan tasawuf. Beliau lebih Ghazalian (mengikuti Al-Ghazali) dalam hal ini.

Dalam kitab tasawufnya Salalim al-Fudlala, terlihat Syekh Nawawi bagai seorang sosok al-Ghazali di era modern. Beliau lihai dalam mengurai kebekuan dikotomi fiqh dan tasawuf. Sebagai contoh dapat dilihat dari pandangan beliau tentang ilmu alam lahir dan ilmu alam batin. Ilmu lahiriyah dapat diperoleh dengan proses ta’alum (berguru) dan tadarrus (belajar) sehingga mencapai derajat ‘alim sedangkan ilmu batin dapat diperoleh melului proses dzikr, muraqabah dan musyahadah sehingga mencapai derajat ‘Arif.

Seorang Abid diharapkan tidak hanya menjadi alim yang banyak mengetahui ilmu-ilmu lahir saja tetapi juga harus arif, memahami rahasia spiritual ilmu batin. Bagi Nawawi Tasawuf berarti pembinaan etika (Adab). Penguasaan ilmu lahiriah semata tanpa penguasaan ilmu batin akan berakibat terjerumus dalam kefasikan, sebaliknya seseorang berusaha menguasai ilmu batin semata tanpa dibarengi ilmu lahir akan terjerumus ke dalam zindiq. Jadi keduanya tidak dapat dipisahkan dalam upaya pembinaan etika atau moral (Adab).

Selain itu ciri yang menonjol dari sikap kesufian Syekh Nawawi adalah sikap moderatnya. Sikap moderat ini terlihat ketika beliau diminta fatwanya oleh Sayyid Ustman bin Yahya, orang Arab yang menentang praktek tarekat di Indonesia, tentang tasawuf dan praktek tarekat yang disebutnya dengan “sistem yang durhaka”. Permintaan Sayyid Ustman ini bertujuan untuk mencari sokongan dari Nawawi dalam mengecam praktek tarekat yang dinilai oleh pemerintah Belanda sebagai penggerak pemberontakan Banten 1888. Namun secara hati-hati Syekh Nawawi menjawab dengan bahasa yang manis tanpa menyinggung perasaan Sayyid Ustman. Sebab Syekh Nawawi tahu bahwa di satu sisi beliau memahami kecenderungan masyarakat Jawi yang senang akan dunia spiritual di sisi lain ia tidak mau terlibat langsung dalam persoalan politik.

Setelah karyanya banyak masuk di Indonesia wacana keislaman yang dikembangkan di pesantren mulai berkembang.. Misalkan dalam laporan penelitian Van Brunessen dikatakan bahwa sejak tahun 1888 M, bertahap kurikulum pesantren mulai acta perubahan mencolok. Bila sebelumnya seperti dalam catatan Van Den Berg dikatakatan tidak ditemukan sumber referensi di bidang Tafsir, Ushl al-Fiqh dan Hadits, sejak saat itu bidang keilmuan yang bersifat epistemologis tersebut mulai dikaji. Menurutnya perubahan tiga bidang di atas tidak terlepas dari jasa tiga orang alim Indonesia yang sangat berpengaruh: Syekh Nawawi Banten sendiri yang telah berjasa dalam menyemarakkan bidang tafsir, Syekh Ahmad Khatib (w. 1915) yang telah berjasa mengembangkan bidang Ushul Fiqh dengan kitabnya al-Nafahat ‘Ala Syarh al-Waraqat, dan Syekh Mahfuz Termas (1919 M) yang telah berjasa dalam bidang Ilmu Hadis.

Sebenarnya karya-karya Syekh Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia tetapi bahkan di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisan Nawawi dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina dan Thailand. Karya Nawawi diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan), dan Thailand. Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, pada sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan yang masih menggunakan kurikulum tradisional.

Selain itu Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan di Malaysia, mengajar karya-karya Syekh Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan di beberapa sekolah agama di Malaysia. Di kawasan Indonesia menurut Martin Van Bruinessen yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 Pondok Pesantren Klasik 42 yang tersebar di Indonesia mencatat bahwa karya-karya Nawawi memang mendominasi kurikulum Pesantren. Sampai saat ia melakukan penelitian pada tahun 1990 diperkirakan pada 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipelajari di sana.
Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitiannya yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer di antaranya adalah karya Syekh Nawawi.

Penyebaran karya Syekh Nawawi tidak lepas dari peran murid-murid beliau. Di Indonesia murid-murid Syekh Nawawi termasuk tokoh-tokoh nasional Islam yang cukup banyak berperan selain dalam pendidikan Islam juga dalam perjuangan nasional. Di antaranya adalah : K.H Hasyim Asyari dari Tebuireng Jombang, Jawa Timur. (Pendiri organisasi Nahdlatul Ulama), K.H Kholil dari Bangkalan, Madura, Jawa Timur, K.H Asyari dari Bawean, yang menikah dengan putri Syekh Nawawi, Nyi Maryam, K.H Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang yang menikahi cucu perempuan Syekh Nawawi, Nyi Salmah bint Rukayah bint Nawawi, K.H Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang Banten, K.H Ilyas dari kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang , Banten, K.H Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten, K.H Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta, KH. Jahari Ceger Cibitung Bekasi Jawa Barat.

Penyebaran karyanya di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah nusantara ini memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi.

Penelitian Zamakhsyari Dhofir mencatat pesantren di Indonesia dapat dikatakan memiliki rangkaian geneologi yang sama. Polarisasi pemikiran modernis dan tradisionalis yang berkembang di Haramain seiring dengan munculnya gerakan pembaharuan Afghani dan Abduh, turut mempererat soliditas ulama tradisional di Indonesia yang sebagaian besar adalah sarjana-sarjana tamatan Mekkah dan Madinah. Bila ditarik simpul pengikat di sejumlah pesantren yang ada maka semuanya dapat diurai peranan kuatnya dari jasa enam tokoh ternama yang sangat menentukan wama jaringan intelektual pesantren.

Mereka adalah Syekh Ahmad Khatib Syambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Karim Tanara, Syekh Mahfuz Termas, Syekh Kholil Bangkalan Madura, dan Syekh Hasyim Asy’ari. Tiga tokoh yang pertama merupakan guru dari tiga tokoh terakhir. Mereka berjasa dalam menyebarkan ide-ide pemikiran gurunya.

Karyakarya Syekh Nawawi yang tersebar di beberapa pesantren, tidak lepas dari jasa mereka. K.H. Hasyim Asya’ari, salah seorang murid Syekh Nawawi terkenal asal Jombang, sangat besar kontribusinya dalam memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa. Dalam merespon gerakan reformasi untuk kembali kepada al-Qur’an di setiap pemikiran Islam, misalkan, K.H. Hasyim Asya’ari lebih cenderung untuk memilih pola penafsiran Marah Labid karya Nawawi yang tidak sarna sekali meninggalkan karya ulama Salaf.

Meskipun beliau senang membaca Kitab tafsir al-Manar karya seorang reformis asal Mesir, Muhammad Abduh, tetapi karena menurut penilaiannya Abduh terlalu sinis mencela ulama klasik beliau tidak mau mengajarkannya pada santri dan lebih senang memilih kitab gurunya. Dua tokoh murid Syekh Nawawi lainnya berjasa di daerah asalnya, Syekh Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura tidak bisa dianggap kecil perannya dalam penyebaran karya Nawawi.

Begitu juga dengan Syekh Abdul Karim yang berperan di Banten dengan Pesantrennya, dia terkenal dengan nama Syekh Ageng. Melalui tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, Syekh Ageng menjadi tokoh sentral di bidang tasawuf di daerah Jawa Barat. Kemudian ciri geneologi pesantren yang satu sarana lain terkait juga turut mempercepat penyebaran karya-karya Nawawi, sehingga banyak dijadikan referensi utama. Bahkan untuk kitab tafsir karya Nawawi telah dijadikan sebagai kitab tafsir kedua atau ditempatkan sebagai tingkat mutawassith (tengah) di dunia Pesantren setelah tafsir Jalalain.

Peranan Syekh, para pemimpin pondok pesantren dalam memperkenalkan karya Syekh Nawawi sangat besar sekali. Mereka di berbagai pesantren merupakan ujung tombak dalam transmisi keilmuan tradisional Islam. Para Syekh didikan K.H Hasyim Asyari memiliki semangat tersendiri dalam mengajarkan karya-karya Nawawi sehingga memperkuat pengaruh pemikiran Syekh Nawawi.

Dalam bidang tasawuf saja kita bisa menyaksikan betapa Syekh Nawawi banyak mempengaruhi wacana penafsiran sufistik di Indonesia. Pesantren yang menjadi wahana penyebaran ide penafsiran Nawawi memang selain mejadi benteng penyebaran ajaran tasawuf dan tempat pengajaran kitab kuning juga merupakan wahana sintesis dari dua pergulatan antara tarekat heterodoks versus tarekat ortodoks di satu sisi dan pergulatan antara gerakan fiqh versus gerakan tasawuf di sisi lain.

Karya-karnya di bidang tasawuf cukup mempunyai konstribusi dalam melerai dua arus tasawuf dan fiqh tersebut. Dalam hal ini Nawawi, ibarat al-Ghazali, telah mendamaikan dua kecenderungan ekstrim antara tasawuf yang menitik beratkan emosi di satu sisi dan fiqh yang cenderung rasionalistik di sisi lain.[]

Minggu, 01 Desember 2013

Perbedaan Mukjizat dan Keramat


Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka terhadap kaumnya sehingga dengan mudah memberikan hidayah bagi yang sadar dan memecahkan sifat kepala batu orang yang menolaknya dan mengingkarinya. Hal itu ditegaskan dalam Q.S Ibrahim, 14: 11 “Rasul-rasul berkata kepada mereka : “kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki antara hamba-hamba-Nya dan tidak patut...

Perbedaan Tafsir, Takwil Dan Terjamah

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; ...

Penulisan Al-Qur’an Pada Masa Nabi

Pada masa ini, setiap wahyu yang turun, satu ayat atau lebih , terlebih dulu Nabi Muhammad SAW memahami dan menghafalkannya, kemudian disampaikan dan diajarkan kepada sahabatnya persis seperti apa yang diterimanya tanpa ada perubahan dan penggantian sedikitpun. Selanjutnya Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat yang telah menerima ayat-ayat itu untuk menghafalkannya dan meneruskannya pula kepada para pengikutnya. Para penulis tersebut...

Ilmu Yang Hanya Diketahui Oleh Allah : Ilmu tentang turunya hujan

Tidak diketahui secara rinci dan detail kapan turunnya hujan; bagian bumi mana yang akan terkena hujan; sampai kapan hujan berlangsung; sejauh mana kekuatan curahannya; apakah hujan bisa berubah menjadi banjir besar dan membawa malapetaka. Semua itu hanya Allah yang mengetahuinya. Badan Meteorologi dan Geofisika hanya bisa memperkirakan apa yang akan terjadi berdasarkan fenomena-fenomena udara dan alam. Dari fenomena...

Hikmah Diturunkannya Al-qur’an Secara Berangsur-Angsur

Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4 ...
 
 
 
 

‘Ulum al-Qur’an dan Perkembangannya

Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA MicrosoftInternetExplorer4 ...

Unsur Kejadian Al_Jin


Unsur Kejadian Jin

Di dalam Alquran banyak ayat yang dapat dijadikan dalil untuk membuktikan bahwa sesungguhnya ada makhluk berwujud yang bernama jin.  Tujuan diciptakannya makhluk jin oleh Allah SWT itu sebagaimana tujuan diciptakannya manusia, yaitu untuk mengabdi kepada-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (Adz-Dzariyaat: 56).  Alquran dan hadis sangat jelas...

Perbedaan Pendapat Tentang Ada Tidaknya Jin

Adakah eksistensi atau wujud dari sesuatu yang dinamai oleh Alquran dengan jin (atau setan)? Imam Al-Haramain dalam kitabnya yang berjudul Asy-Syamil pernah menjelaskan, "Mayoritas ahli filsafat, orang-orang Qadariyah, dan kebanyakan kafir zindik (orang yang melahirkan keislaman tetapi batinnya kafir) sama sekali tidak mengakui adanya setan dan jin." Selanjutnya, beliau memberikan komentar dengan ungkapanya,...

Pandangan Masyarakat Jahiliyah Terhadap Jin

Secara umum masyarakat jahiliyah mempercayai adanya makhluk yangbernama jin, yang mereka yakini sebagai makhluk yang memiliki kekuatan tersembunyi. Menurut kepercayaan mereka, jin mampu mengakibatkan gangguan, di samping dapat juga memberi manfaat. Karena itu, Alquran mengungkapkan, "Sebagian mereka menyembah jin." (Saba': 41), bahkan dalam surah Ash-Shafaat ayat 158 ditegaskan bahwa, "Mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dan...

Aneka Bentuk Jin

Dalam pandangan ulama, jin memiliki kemampuan membentuk dirinya dalam berbagai bentuk. Memang dari Alquran tidak ditemukan penjelasan tentang hal ini, tetapi banyak riwayat yang menginformasikannya.  Allah SWT berfirman (yang artinya), "(Ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan...

Apakah Jin Dapat Dilihat Manusia?

Allah SWT berfirman yang artinya, ”Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27). Ayat ini dipahami oleh sekian banyak ulama sebagai dalil ketidakmungkinannya manusia melihat jin. Imam Syafii menegaskan, bahwa berdasrkan ayat di atas, manusia tidak mungkin melihat jin. “Siapa yang mengaku dapat melihat jin, maka kami tolak kesaksiannya, kecuali nabi.”...

Awal Penciptaan Jin

Kita manusia bertanya-tanya, sebenarnya lebih dahulu mana antara makhluk jin dan manusia itu diciptakan? Untuk memperoleh keterangan dari pertanyaan tersebut, mari kita simak berbagai informasi sebagai berikut. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas." (Al-Hijr: 27). Abu Hidzaifah Ishaq bin Basyar mengatakan dalam kitab Al-Mabda' bahwa Abdullah bin Amr bin al-Ash...

Apa sih Jin Itu ?

Pendapat Pakar Islam Rasionalis Meskipun mayoritas umat mengakui adanya jin, pemahaman mereka tentang makhluk yang tersembunyi ini berbeda-beda. Bahkan, para pakar Islam pun terdapat beberapa pendapat tentang makhluk jin. Pakar-pakar Islam yang sangat rasional tidak mengingkari ayat-ayat Alquran yang berbicara tentang jin, tetapi mereka memahaminya bukan dalam pengertian hakiki. Paling tidak ada tiga pendapat yang menonjol dari kalangan...

Mayit Tersiksa Karena Ratapan Orang Yang Meratapinya


Imam Bukhari dan Muslim meneluarkan riwayat dari Aisyah r.ha., sesungguhnya telah dikatakan kepadanya bahwa Ibnu Umar twlah meriwayatkan dari Nabi saw., “Sesungguhnya mayit itu disiksa karena tangisan orang yang hidup.” Aisyah r.ah., berkata, “Abu Abdurrahman telah bingung. Sesungguhnya beliau mengatakan, ‘keluarga mayit menangisinya dan sesungguhnya ida disiksa karena dosanya’.” Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Yusuf bin Malik, ia berkata,...

Beberapa Tanda Menjelang Ajal Menjemput

Kapan ajal kita akan tiba, kita tidak akan pernah tahu secara Pasti. Dan itu adalah Hak Prerogatif Allah SWT. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah." Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). Surah : Yunus Ayat :49 Walau begitu,...

Sepuluh Kesulitan Yang Akan Dihadapi Manusia

Kematian dan ketika menjelang kematian. Ketika dimandikan, dikafani, dan diusung. Ketika memasuki kubur dan apa saja yang ada di dalamnya. Menghadapi pertanyaan Mungkar dan Nakir. Ketika bangkit dari kubur lalu berkumpul di padang Mahsyar. Ketika berkumpul di padang Mahsyar untuk dihisab. Berdiri di depan Mizan untuk ditimbang amal-amalnya. Pembagian buku catatan amal, adakalanya diterima dengan tangan kanan...

Misteri Ruh: Hakikat Ruh

Apa sih ruh itu? Dimanakah ia sebelum masuk ke jasad? Dimanakah ia setelah keluar dari jasad? Apakah ia bergentayangan di alam kita ini? Apa benar ruh bisa di panggil dan dihadirkan?  Ruh adalah suatu kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di alam ini, baik pada tumbuh-tumbuhan, binatang, maupun manusia. Namun ia lebih dominan pada sesuatu yang memiliki kepekaan dan dapat bergerak, mempunyai akal dan dapat berfikir, yaitu binatang...

Arwah Dapat Dibedakan Antara Yang Satu Dengan Yang Lain

Jika ruh-ruh itu telah pisah dari badan, dengan apa mereka dapat dibedakan satu dengan yang lain sehinga dapat saling dapat berkenalan? Apakah jika telah keluar dari badan ruh-ruh itu masih memiliki bentuk, bagaimana pula bentuknya? Sebenarnya pertanyaan seperti ini tidak perlu dibahas. Kaena hampr tidak ada yang mengupas masalah ini. Apalagi tentang dasar orang yang mengatakan bahwa ruh itu buka jenis benda, ia tidak ada dalam alam atau...

Mayit Mengetahui Orang Yang Memandikan dan Mengurusinya

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya mayit itu mengetahui siapa yang memandikan, mengkafani, membawa, dan memasukkannya ke dalam liang lahadnya.” Abu Hasan bin Bara’ dengan sanad lemah, mengeluarkan dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi SAW bersabda, “Tidak ada seorang mayit yang telah meninggal, kecuali dia mengetahui orang yang memandikan dan mengusungnya. Jika dia diberi berita gembira dengan...

Hikmah Dirahasiakannya Adzab Kubur

Sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Anas bin Malik r.a., Nabi SAW bersabda, “Kalau bukan supaya kamu tidak saling meguburkan, tentu aku akan berdo’a kepada Allah agar memperdengarkan adzab kubur kepadamu.” Allah telah menyembunyikan adzab kubur dan berbagai hal yang mengerikan yang dialami oleh ahli kubur, sehingga kita dapat memetik hikmah Ilahi ini. Semua mnusia kan ngeri jika mendengarnya, bahkan kita tidak akan berani mendekati...

Kisah Arya Kuningan dengan Arya Gumiringsing




Ilustrasi Gambar           Kisah ini berkenaan dengan Pertempuran antara Cirebon dan Galuh. Cirebon pada mulanya adalah bagian dari wilayah Galuh Pakuan. Setelah pengaruh Cirebon semakin besar, Galuh merasa khawatir dan mengirim utusan agar Cirebon tetap mengaku sebagai bawahan Galuh. Permintaan ini ditolah sehingga timbul pertempuran. Dalam babad ini diceritakan bahwa dalam pertempuran tersebut...

Mantap !! Gambar 3D


Gambar Macan dan Burung Hantu ...

Daerah Galuh Pra Islam : Kepercayaan Masyarakat Galuh


Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4           Para raja dan masyarakat kerajaan Galuh, sebelum kedatangan Islam adalah pemeluk agama Hindu. Di antara bukti untuk hal tersebut adalah ditemukannya situs-situs purbakala yang merupakan tempat...

Suatu Ketika


Suatu ketika .. Saat aku tak tau siapa kamu, Saat aku tak tau bagaimana kamu, Aku mau tau siapa dan bagaimana kamu?Suatu ketika.. Saat aku sudah tau siapa kamu, Saat aku sudah tau bagaimana kamu, Aku akan menyelusuri hidup kamu.Suatu ketika.. Saat aku sudah mulai menyelusuri hidupmu, Saat aku sudah mulai mengetahui semuanya, Ada yang belum aku tau dan ingin aku tau lagi dari kamu ? Yaitu isi hati dan perasaan kamu..Suatu ketika.. Saat aku sudah...

Lukislah Aku


Lukislah aku dengan tinta merahmu ... pandanglah aku dengan senyumanmu ... maka aku tumpahkan tinta putih di hatimu ... agar aku tahu ... kau adalah milikku ... Lukislah aku pada langit langit di hatimu ... berikan kiasan yang berarti buatku ... akan aku taburkan pernik di hatimu ... agar kau tahu ... kau memanglah untukku ... Lukislah aku sesuka hatimu ... agar aku terbiasa menyakinkanmu ... jauh di lubuk hatiku hanya kamu ... lihatlah...

Sejarah Banten Girang



A. SITUS BEKAS KERAJAAN BANTEN GIRANG
Berkaitan dengan berdirinya kerajaan Banten Girang F.D.K. Bocsh mengkaitkannya dengan prasasti kebon kopi II yang ditemukan di Bogor. Bosch menapsirkan angkat tahun prasasti kebon kopi II berdasarkan (andrasangkala) yaitu tahun 932 M. (85.4 saka) berhubungan dengan situs Banten Girang yang terletak di kampung Balaya, desa Sempu Kota Serang.
Informasi tentang Banten Girang yang berfungsi sebagai situs pemukiman atau perkotaan dapat dilihat dalam babad Banten. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa penaklukkan seluruh wilayah Banten oleh bala tentara Islam diceritakan sebagai perebutan kota Banten Girang.
Informasi dalam babad Banten Syalam dengan hasil penelitian bahwa di situs Banten Girang merupakan situs pemukiman dalam skala kota pra industri, untuk keperluan pertahanan tersebut dikelilingi benteng yang terbuat dari tanah baik pada sisi dalam maupun luar tanggul. Penggunaan tanggul tanah sebagai benteng sudah dikenal sejak masa pra sejarah akhir kemudian masa Hindu-Budha dan berlanjut pada kota-kota kuno masa Islam.
Situs Banten Girang yang menjadi pusat kota kerajaan diduga terdapat hubungan dengan Gunung Pulosari sebagai gunung yang sakral, kaitan keagamaan di Banten Girang dengan Gunung Pulosari, yaitu ketika Sunan Gunung Jati dan Hasanuddin kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke Gunung Pulosari yang menjadi tujuan utama mereka. Menurut Sunan Gunung Jati, gunung merupakan wilayah Brahmana kendali, di atas gunung itu hidup 800 ajar-ajar (pendeta) yang di pimpin oleh Prabu Pucuk Umun.
Hasanuddin tinggal bersama mereka selama 10 tahun lebih, ketika Hasanuddin mengislamkan para pendeta. Maka pendeta hidup menetap di Gunung Pulosari, sebab jika tempat itu kosong akan menjadi tanda berakhirnya Tanah Jawa.
Dalam Babad Banten diceritakan pula bahwa setelah kemenangan Hasanuddin yang tidak mau masuk Islam memberikan diri ke pegunungan selatan yang sampai sekarang dihuni oleh keturunan mereka yaitu orang Baduy. Kegiatan ini didukung oleh kebiasaan orang Baduy, kenyataan ini didukung oleh kebiasaan orang Baduy berziarah ke Banten Girang.
Pada pertengahan 1990-an ditemukan sebuah arca dwarapala di sungai Cibanten tidak jauh dengan situs Banten Girang. Ini menunjukkan Banten Girang masih menyimpan banyak pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Sebagaimana dalam catatan sejarah bahwa sungai Cibanten dahulu kala berfungsi sebagai jalur transformasi yang menghubungkan wilayah pesisir dari Faletahan. 
a. Latar Belakang Berdirinya Situs Banten Girang
Banten Girang merupakan awal kerajaan Banten yang sebelumnya mendapat kebelakangan nama pada saat itu yaitu kerajaan Sunda Wahanten. Pendiri kerjaan ini ialah Prabu Jaya Bupati yang disebut juga Prabu Saka Domas. Prabu Jaya Bupati berasal dari keturunan kerajaan Mataram pada zaman Hindu, yang tidak mendapat kesempatan untuk mengabdi dikerajaan Mataram Kuno. Prabu Jaya Bupati mendirikan kerajaan Sunda di Banten Girang pada tahun 932 sampai tahun 1016, dengan luas wilayah kekuasaan meliputi Jawa Barat dengan perbatasannya Cipamali. Pada saat itu disebut kerajaan Tatar Sunda, dengan keadaan yang subur makmur, sehingga dapat menjalin hubungan dengan kerajaan di Jawa.
Pada tahun 1016 Prabu Jaya Bupati memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Cilaceh Sukabumi karena khawatir akan adanya penyerbuan yang akan dilancarkan oleh kerajaan Sriwijaya terhadap kerajaan Tatar Sunda di Banten Girang, mengingat usia Prabu Jaya Bupati yang sudah tua pada saat itu, ketika Prabu Jaya Bupati berada di pengungsian berhasil mendirikan kerajaan Surawisesa. Pada tahun 1357 kerajaan Surawisesa di pegang oleh Prabu Baduga Sir Maharaja, keraton Surawisesa disebut kerajaan Pajajaran.
b. Masa Kerajaan Sunda Pajajaran
Penamaan Pajaran untuk kerajaan Sunda, sesungguhnya berasal dari penamaan keraton Sri Bama – Punta – Naryana – Madura – Suradipati yang bentuknya sebangun dan berjajar oleh karena keraton tersebut berada di kota Pakuan masyarakat sering menyebutkan Pakuan pajajaran. Berdasarkan cerita pantun dan babab, kerajaan Sunda lebih di kenal dengan sebutkan pajajaran, sedangkan berdasarkan sumber-sumber Portugis, nama resmi kenegaraan tetap menggunakan sebutan kerajaan Sunda.
c. Sri Baduga Maharaja
Sri baduga Maharaja mempunyai seorang putra yang dijadikannya sebagai penerus tahta kerajaan, karena putra Sri Baduga masih kecil, mata akhirnya kerajaan tersebut di pimpinan oleh Praih Bunisora pada tahun 1352-1371. Namun, setelah putra Sri Baduga Maharaja sudah cukup usia, kerajaan tersebut akhirnya dipimpin oleh putra raja Baduga pada tahun 1371, yang bernama Nuskala waktu kencana, dan akhirnya dengan pertimbangan Raja Niskala Wastu Kencana, kerajaan Suwawisesa di pendidikan di Galuh, yang disebut kerajaan Galuh Pakuan, kemudian digantikan oleh Putra raja yang bernama Taba’an karena raja taba’an menikah dengan orang Islam, maka tokoh-tokoh masyarakat kerajaan Sunda Galuh Pakuan hampir semua kecewa atas perilaku keluhurnya, sehingga digantikan oleh Prabu Jaya Dewata atau disebut juga Prabu Pucuk Umum.
Peristiwa perbuatannya di Pakuan sekaligus menjadikan Jaya Dewata seorang Maharaja, karena kekuasaan pemerintahannya meliputi kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh. Peristiwa tersebut sesuai dengan isi prasasti Batu tulis kota Bogor. Prasasti batu tulis kota Bogor, dibuat oleh Ratu Sanghiyang Surawisesa pada tahun 1533 M. Pembuatan prasasti tersebut dilakukan dengan upacara penyempurnaan Sukma untuk mengenang jasa-jasa dan kebesaran ayahnya. Sri Baduga Maharaja, upacara semacam itu hanya dilakukan untuk raja-raja tertentu, jika seorang raja wafat kemudian setelah 12 tahun masyarakat masih menceritakan jasa-jasanya.
d. Sikap Terhadap Muslim
Sebelum Sri Baduga Maharaja lahir dikerajaan Sunda sudah ada penganut agama Islam, tokoh tersebut adalah Bratalegawa Putera Mangkubumi Bunisora Suradipati. Bratalegawa adalah adik Curidewata alias Ki Gedeng Kasmaya, raja Cirebon Cairung, Bratalegawa lahir tahun 1350 M. Bratalegewa menikah dengan wanita masuk dari Gujarat. Walaupun berbeda agama ia tetap hidup rukun dengan saudara-saudaranya.
Berdasarkan Koprak 406 carita Paranghiyangan, setelah Sri Baduga Maharaja wafat, ada 5 orang saja pendiri tahta kerajaan Pajajaran, antara lain:
1. Prabu Sanghiyang Surawisesa (1521 – 1635 M)
2. Ratu Dewatabuana (1535 – 1543 M)
3. Ratu Sakti (143 – 15551 M)
4. Prabu Raga Mulya Suryakencana atau Prabu Pukuk Umum Pulosari (1537 – 1579 M).
Setelah kerajaan Galuh Pakuan (Pajajaran) dipundah ke Banten Girang bekas kerajaan Sunda tertua. Pada suatu saat, ajar yang sebagai Patih kerajaan Dewata agar adiknya yang bernama Ajarju untuk diangkat menjadi tumenggung, karena melihat adiknya yang cukup lama mengabdi kepada rajanya Prabu Jaya Girang, yang dinamakan Pajajaran Banten dibantu oleh wakil putihnya putihnya yang bernama Ajar Ju.
Pada suatu ketika terjadi konflik intern didalam kerajaan, sehingga Ajarjong keluar dari kerajaan Pajajaran Banten, kemudian Ajar Jong pergi mengabdi dikerajaan Islam Jawa Demak, sehingga mengenal orang-orang penting dikerajaan Islam Demak. Diantara Sultan Trenggono dan Syariat hidayatulah untuk menguasai kerajaan pengajaran Banten untuk menjadi penganut agama Islam.
e. Bukti-bukti Peninggalan Kerajaan Banten Girang
Di Banten Girang banyak sekali atau benda-benda yang bersejarah, seperti pecahan gerabah dan keramik yang berasal dari dalam dan luar negeri, pecahan tembikar seberat 318,12 kg. Pada umumnya wadah tembikar yang ditemukan di situs Banten Girang yang dipakai untuk keperluan sehari-hari yang pertama yang digunakan untuk menyimpan dan memasak bahan makanan dan yang kedua untuk menimba dan menyimpan air, sedangkan fungsi yang ketika untuk menyajikan makanan dan minuman serta fungsi yang keempat untuk wadah penerangan lampu.
Kesaksian Pande Emas :
Ketika tim ekskavasi arteolog Peranci dan Indonesia melakukan penelitian disitus Banten GIrang juga banyak ditemukan benda-benda yang terbuat dari logam. Menurut Claude Guillot hanya tua benda dari emas ditemukan dalam penggalian di situs tersebut, yang pertama berupa potongan perhiasan emas, berukuran sangat kecil dengan berat 0,5 mg, hingga tak mungkin bisa diidentifikasi.
Sedangkan yang kedua jauh lebih menarik yaitu bagian dari perhiasan berukuran 6 x 12 mm, berupa cakar burung dan Viagra bermata empat yang memegang sebuah batu kuarsa bundar yang dilubangi.
Dilokasi situs purbakala Banten Girang juga ditemukan sebuah cincin perunggu dengan batu mulia warna pirus dengan bekas-bekas lapisan emas. Disana juga terdapat kapak batu, batu asahan, kepingan, gerabah, golok, artepak batu, keramik lokal, keramik asing, seperti Tang (abad IX – XI), Song (XI – XII, keramik Yuan (XIII – XIV), Jepang, Thailang, Vietnam (XVII – XVIII) dan beberapa naskah Al-Qur’an tulisan tangan. Para analog yang melakukan penelitian di Banten Girang tahun 1989 – 1992 banyak menemukan benda purbakala berupa manik-manik jumlah manik-manik yang ditemukan pada waktu itu mencapai 795 buah dalam kondisi baik dan utuh.
Punden Berundak di Banten Girang
Dengan ditemukannya punden beundak di Banten Girang berarti jauh sebelum berdirinya sebuah kerajaan besar di situs Banten Girang sudah ada pemukiman penduduk yang menganut kepercayaan mengalith disana. Boleh jadi situs Banten Girang merupakan sebuah peninggalan purbakala yang berkelanjutan, mulai zaman pra sejarah, Hindu, Budha sampai masa Islam.
Sebagai bukti situs tersebut pernah dihuni masyarakat yang menyembah arwah nenek moyang, dilokasi itu ditemukan pula beberapa batu besar yang memiliki arti penting. Diantaranya yang disebut sebagai batu dekan, batu datar yang disimpan di makam keramat di Masjong dan Agus Jo, Banten Girang.
Punden berundak itu berada tak jauh dari tepi sungai Cibanten yang konon pada zaman dahulu bisa dilayari sepanjang dari teluk Banten sampai ke Banten Girang. Tinggi punden berundak itu sekitar 5 meter dari permukaan tanah, bila dipandang dari dasar sungai yang cukup tinggi.
Di Banten Girang juga terdapat sebuah gua yang didalamnya terdapat tiga ruang kamar, gua tersebut merupakan tempat Prabu Pucuk umum bersemedi.
Kerajaan Sunda apabila diserang oleh kerajaan atau kerjaan lainnya, dan ke empat sebagai tanda persahabatan antara kerajaan Sunda dan Portugis. Raja Sunda akan menghadiahkan seribu karung lada setiap tahunnya kepada raja Portugis sejak pembangunan benteng di mulai.
Perjanjian tersebut ditandatangani langsung oleh ratu Samiam (Prabu Suwasesa) dan Henriqve de Leme, ketika sedang melakukan perundingan Ratu Samiam didampingi pembantu utamanya yaitu santri Dalam, Tumenggung Sang Adipati, dan Syahbandar.
Sementara mengharapkan bantuan Portugis yang tidak kunjung datang Sirawisesa terpaksa berperang sendiri melawan pasukan Muslim, keadaan terus berperang juga dialami oleh raja penggantinya, Ratu Dewata, karena kalah perang ia kemudian meninggalkan ibu kota.
Karena melihat keberadaan perekonomian Sunda Banten yang kurang menguntungkan maka bersama Sabakingking Mas Jong dengan Agus Jo situs ini dari gundukan tanah sekitar 500 M di sekitar makam, yang ternyata dibawah permukaannya terdapat batu berundak dan dibawah batu berundak itulah terdapat dua ceruk di tebing cadas sebelah timur cibanten, apabila merundingkan untuk memindahkan pusat pemerintahan Banten Girang ke Banten Pesisir, karena sudah tidak ada fungsinya lagi.
Pada 1 Muharam bertepatan pada tanggal 8 Oktober 1526 pusat pemerintahan Banten Girang dipindah ke Surosawon (Banten Pesisir). Maka pada saat itulah Sabakingking mendapat julukan sebagai Sultan Banten dan mendapat gelar dari orang Arab sebagai Sultan Maulana Hasanuddin. Pada saat terjadi penyerangan Banten Girang di ganti namanya oleh orang Belanda menjadi Tirtalaya.
Di Banten Girang ini terdapat gua yang didalamnya terdapat tiga ruang kamar, tempat ini merupakan tempat raja Pucuk Umun bersemedi, dan banyak sekali temuan-temuan atau benda-benda yang bersejarah seperti gerabah, keramik, benda-benda logam, mata uang, batu-batuan arkeologi dan artepak.
Dalam penelitian Ambari (1985), dilihat dari type nisan dan artepak kijing yang dipakai dalam makam kuno Kijong dan menjadi Banten Girang, maka dalam tipologi nisan makam islam dimasukan kelompok type Demak dan Troloyo. Selanjutnya, montana pada tahun (1988:71) mencatat kekunoan dilihat dari typoligi ceruk-ceruk atau gua yang ada di sana, paling tidak Banten Girang telah muncul pada sekitar abad XI-XII (Guillot, 1990:12) lebih menarik lagi,dari data babad banten girang fungsikan pada masa pemeritahan sultan ageng tirtayasa ( abad XVII), dimana pada waktu masa terentu sultan berwisata dengan kgiatan memancing ikan ditempat itu . Dan menurut keterangan caef,ditempat ini sultan tirtayasa menyuruh membuatkan sebuah istana sebagai tempat mengungsi kaum w anita di masa perang pajajadin ingrat,1983:1245
Dari penilitian arkelogis 1989,1990,1991 dan 1992 Lukman nurhakim (1992) berbagai mengungkapkan berbagai aspek pentung dari banten girang.tempat situs pemikiran dalam sekala kota pra –industri yang dikelilingi bnteng dari tanah,baik dari sisi luar maupun dari sisi dalam tanggul .untuk keperluan pertahanan.tanggul tanah sebagai benteng di dalam banteng girang,sebagai mana halnya di situs-situs lain,sudah dikenal luas pada pra sejarah awal dan kelasik yang kemudian berlanjut pada kota-kota yang kuno pada priode islam ;seperti di punggung raharjo (bandung),pasir angin (bogor),aceh,barus,(sumatra utara),rao (sumatra barat),muara takus (lumanjang),dan surosoan (banten,serang)
Dri hasileksavasi di ketahui bahwa situs banten girang berpungsi sebagai:
a. Pasat pemukiman terlahat dari banyaknya sebaran artepak,teknapak dan sosiospak.
b. Pusat upacra adanya gua persemedian/pemujaan’dan
c. Benteng untuk melindungi keduanya
Selanjutnya Lukman Hakim memandang adanya fase-fase kehidupan di Banten Girang yang meliputi :
1) Fase I : Fase subordinasi Pakuan-Pajajaran dimana gua dijadikan pusat upacara keagamaan bercorak Hiduistik (Hindu – Budha);
2) Fase II : Fase pendudukan/administrasi politik Islam masa Maulana Hasanuddin;
3) Fase III : Fase surutnya Banten Girang karena pusat administrasi politik dipindahkan ke Banten lama di pesisir, tetapi Banten Girang masih tetap digunakan bahkan sampai masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1652 – 1671), sultan Banten kelima.
4) Fase IV : Fase akhir, ketika Banten Lama sudah diancurkan oleh Daendels pada tahun 1815, dimana diduga frekuensi penggunaan Banten Girang semakin menurun.
5) Fase resen, okupasi lanjut oleh penduduk Banten Girang masa sekarang yang digunakan untuk lahan pertanian dan lahan pemukiman.
Melalui perbandingan dengan berbagai bentuk fisik benteng di berbagai tempat, Halyany Michrob (1991) berpendapat bahwa atas dasar penemuan keramik masa Dinasti Han (206 SM – 220 M) dan struktur berundah di atas gua dan lingkungan benteng, amat boleh jadi okupasi Banten Girang sudah berlangsung lama sekali, bahkan sejak ketika berlangsung masa kehidupan prasejarah dan proto sejarah.
Dengan ditemukannya Prasasti Munjul, yang terletak di tengah sungai Cindangiang, Lebak Munjul, Pandeglang, berita tentang Banten dapat lebih diperjelas lagi. Prasasti ini, yang diperkirakan berasal dari abad V, bertuliskan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta menyatakan bahwa raja yang berkuasa di daerah ini adalah Purnawarman. Ini berarti bahwa daerah kuasa Tarumanegara sampai juga ke Banten, dan diceritakan pula bahwa negara pada masa itu dalam kemakmuran dan kejayaan.
Berita atau sumber-sumber sejarah mengenai Banten dari masa sebelum abad ke-16 memang sangat sedikit kita temukan. Tapi setidak-tidaknya pada abad XII-VX, Banten sudah menjadi pelabuhan kerajaan Pajajaran.
Untuk selanjutnya keadaan Banten dari abad VII sampai dengan abad XII tidak ditemukan berita sejarah yang meyakinkan. Demikian juga, tidak diketahui siapakah penguasaan daerah Banten waktu itu, padahal benda-benda peninggalan dari masa itu sudah banyak ditemukan.
Berita tentang Banten baru muncul kembali pada awal abad XVI dengan diketemukannya prasasti di Bogor. Prasasti ini menyatakan bahwa Pakuan Pajajaran didirikan oleh Sri Sang Ratu Dewata, dan Banten sampai awal abad XVI termasuk daerah kekuasaannya (Ambary, 1980 : 447). Memang, Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan besar, yang daerah kuasanya meliputi seluruh Banten, Kelapa (Jakarta), Bogor, sampai Cirebon, ditambah pula daerah Tegal dan Banyumas sampai batas Kali Pamali dan Kali Serayu.
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Banten Girang merupakan kerajaan Islam pertama di Banten, yang awalnya merupakan kerajaan Hindu Budha.
- Kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang subur makmur sehingga dapat berhubungan dengan kerajaan di Jawa.
- Banten Girang banyak bukti-bukti penunggalan dan terdapat makam-makam, seperti Ki Mas Jong, Agus Jo, sehingga banyak peziarah yang berkunjung di situs Banten Girang.